Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Asing Waspadai Penurunan Laba

Meski mencatatkan pertumbuhan laba di atas kelompok bank lainnya, namun kalangan bank asing mulai mewaspadai penurunan perolehan keuntungan karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Bank asing waspadai penurunan laba. /
Bank asing waspadai penurunan laba. /

Bisnis.comJAKARTA—Meski mencatatkan pertumbuhan laba di atas kelompok bank lainnya, namun kalangan bank asing mulai mewaspadai penurunan perolehan keuntungan karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan laba kelompok bank ini sempat melonjak 105% pada kuartal II/2014. SPI mencatat, total laba 10 bank asing di Indonesia naik dari Rp2,25 triliun pada Juni 2013 menjadi Rp4,62 triliun di bulan yang sama tahun ini.

Namun, sejalan dengan perlambatan industri, pertumbuhan laba pada kuartal selanjutnya juga melambat. Tercatat, pada kuartal III/2014, pertumbuhan laba bank asing terpangkas menjadi 40% dari Rp4,69 triliun pada September 2014 menjadi Rp6,57 triliun di bulan yang sama tahun ini.

Ketua Asosiasi Bank Asing (Foreign Bank Association Indonesia/FBAI) Joseph Abraham memprediksi pertumbuhan laba jelang akhir tahun ini tak akan seagresif capaian sebelumnya. “Tidak [kelanjutan pertumbuhan laba], karena biaya dana yang mahal akan terus berlanjut sehingga menghambat pertumbuhan laba, meski [laba bank asing] masih tetap tumbuh,” ujar Joseph kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, meski kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) merupakan langkah untuk mengatisipasi inflasi, namun diprediksi akan memiliki dampak yang cukup besar bagi bisnis kelompok bank ini. Pasalnya, dengan kenaikan BI Rate tersebut, tingginya biaya dana masih akan berlanjut. Ujungnya, Joseph menilai, akan berdampak pada pertumbuhan laba.

Lebih lanjut, dikatakan Joseph, ke depannya kelompok bank asing masih akan terus melakukan ekspansi pada kredit, tapi akan mulai menyesuaikan dengan likuiditas masing-masing entitas.

Adapun, terhitung efektif mulai 19 November 2014, BI Rate naik sebesar 25 bps menjadi 7,75%. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara sebelumnya mengatakan kenaikan tersebut ditempuh untuk mengantisipasi agar tekanan inflasi pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap terkendali dan sesuai target sebesar 4+1% pada 2015.

Sementara itu, Managing Director Head of Corporate and Investment Citi Bank Indonesia Gioshia Ralie mengatakan laba tahun depan tak akan mengalami peningkatan berarti. “Tahun depan harapannya [pertumbuhan laba] mirip dengan tahun ini,” ujar Gioshia.

Gioshia menuturkan, proyeksi tersebut didasarkan pada kenaikan BBM yang akan menekan konsumsi. Sementara, dari sisi ekspor pun tak bisa diandalkan mengingat harga komoditas yang sedang turun.

Menurut Gioshia, pihak perbankan kini tengah menunggu belanja pemerintah. “Kalau negara mau berkembang, harus ada spendingpemerintah. Itu yang sangat diperlukan dan ditunggu-tunggu,” jelas dia.

Gioshia memprediksi dampak positif dari kenaikan harga BBM ini baru terasa usai 4 tahun mendatang, terutama jika ada banyak konsumsi pemerintah yang menciptakan lapangan kerja.

Adapun, Gioshia juga mengungkapkan kalangan bank asing banyak berharap akan proyek pemerintah yang transparan dengan standar yang jelas. “Uang itu gampang dicari, sekarang yang susah itu proyeknya.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Setyardi Widodo

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper