EDUKASI DUIT: Hal Seputar Uang yang Tidak Diajarkan di Sekolah Bisnis dan Manajemen

Bagaimana setelah 25 tahun sesudah lulus? Apakah pelajaran di S2 terpakai? Kebanyakan untuk problem solving ya. Manajemen mengajarkan bagaimana menggunakan otoritas untuk mengelola sumber daya untuk mencapai objektif, tetapi...
Goenardjoadi Goenawan | 02 September 2015 23:31 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Tahun 1990 saya lulus Magister Manajemen Universitas Indonesia. Saat itu saya bangga bisa lulus pascasarjana. Bedanya dengan sarjana di S2 Anda belajar sendiri. Kira-kira sepanjang program kita disuruh membaca 300 buku.

Bagaimana setelah 25 tahun sesudah lulus? Apakah pelajaran di S2 terpakai? Kebanyakan untuk problem solving ya. Manajemen mengajarkan bagaimana menggunakan otoritas untuk mengelola sumber daya untuk mencapai objektif. Masalahnya....

1. Saya baru tahu sumber daya yang nomor satu adalah uang. Loh dulu dosen enggak bilang bahwa mahasiswa belum punya sumber daya uang. Jadi itu semuanya yang saya kelola bukan uangnya saya. Pelajaran pertama adalah Anda boleh menegosiasi atau mengatur deal terserah anda namun selama owner tidak setuju, maka Anda tidak bisa membayar. Jadi saya mengelola Brand Colgate Palmolive, So Klin, Nivea, Hewlett Packard, dan Lotteria semuanya bukan punya saya.

2. Nah kalau untuk memiliki perusahaan namun anda tidak punya warisan, lalu apa yang digunakan? Ternyata benar kata mendiang ayah saya. Kalau Anda bisa berpikir maka Anda menguasai uang.

3. Tapi ayah saya enggak keburu cerita dari mana hubungan missing link antara berpikir dengan uang. Oh, ternyata berpikir itu menguasai keahlian. Dan ahli kekuasaan. Ohhhh begitu. Jadi selama Anda mempelajari bagaimana menggunakan otoritas untuk mengelola sumber daya untuk mencapai objectif, Anda mempelajari otoritas.

Jadi ketika Anda membangun bisnis anda membangun otoritas. Misalnya dulu ada penulis kolom yang sangat bagus namanya Professor Arief Budiman dan istrinya Leila Ch. Budiman. Wah dalam hati saya ingin seperti beliau. Sudah 15 tahun saya bergelut dengan dunia PR dan wartawan. Sudah 10 buku saya tulis. Sekarang buku paling baru judulnya Money intelligent 1-2. Yang pertama soal merubah paradigma tentang uang. Yang Kedua soal how to start your own business. Tetapi untuk menjadi penulis kolom butuh perjuangan berat. Coba saja. Anda kirim tulisan ke media online. Biar 10 tahun kemungkinan Anda masuk citizen journalism.

4. Kembali ke saat baru lulus universitas, tidak ada yang bilang bahwa uang kartu kredit itu seperti lintah darat. Dan untuk bisa terlepas dari kartu kredit ada dua kemungkinan. Satu Anda bangkrut. Ya datang ke bank bilang bangkrut. Kedua anda beruntung menjadi Cinderella atau Kate Middleton. Minimal Shelvi Ananda. Jadi ketika Anda berpikir, saya bisa membangun bisnis sendiri, pertama musuh Anda adalah bank.

5. Lalu anda melihat, bahwa orang kaya mendapat pinjaman lunak jangka panjang. Dulu samar-samar Pak Harto bilang bantuan pinjaman lunak jangka panjang. Hanya Pak Harto enggak bilang kalau itu jatah konglomerat. Jadi dianggap semuanya kena jerat lintah darat. Ternyata owner perusahaan tidak. Ohhhhh begitu. Pantesan kok beda. "Permen kok kayak gini".

6. Lalu Anda berpikir. Kalau kita tidak punya uang banyak bagaimana caranya mampu membangun Bisnis? Jawabannya adalah anda harus stop shopping. Selama anda suka belanja kemungkinan anda sukses seperti temannya Cinderella. Dia bukan Cinderella. Jadi stop shopping.

7. Kalau orang bule bisa bikin penangkaran orang utan, gibbon, gorilla, ada penangkaran tiger, kenapa kita kok mumet bagaimana mengurusi kartu kredit bank? Apa bule bisa ngeprint uang. Atau dia bawa mesin ATM ke hutan? Ternyata bule mengerti empowerment. Kalau anda enggak punya uang, lalu bagaimana caranya minta uang orang kaya untuk menolong Gibbon?

8. Lalu anda paham bahwa empowerment itu mengakses kepada OPM other people's money. Lalu anda berpikir kalau begitu saya bisa meminta tolong orang kaya untuk menolong orang yang kurang beruntung? Ya tentu saja.

Penulis:
Goenardjoadi Goenawan
Penulis 10 buku buku manajemen
Trainer dan konsultan mengenai membuka paradigma baru tentang uang
goenardjoadi @ gmail.com

 

 

Tag : Edukasi Duit
Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top