Ini 9 Alasan Konsumen Tak Bisa Kontrol Belanja Barang Tak dibutuhkan

Setiap orang dalam hidupnya pernah membeli barang karena keinginan, pada hal tidak dibutuhkan, sehingga uang yang dibelanjakan kurang bermanfaat.
Reni Efita | 09 Mei 2016 18:56 WIB
Gerai Hero Supermarket - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Setiap orang  dalam hidupnya pernah membeli barang karena keinginan, pada hal tidak dibutuhkan, sehingga uang yang dibelanjakan  kurang bermanfaat.

Pembelian secara impulsive itu tidak menjadi masalah kalau dilakukan satu kali, tapi kalau sudah menjadi kebiasaan baru menjadi masalah.

Dampak kebiasaan itu tidak hanya berpengaruh terhadap kejiwaan yang  timbul rasa penyesalan, tapi kalau keterusan juga bisa menggangu keuangan. Sehingga terjebak  dalam budaya konsumerisme yang membeli hanya karena keinginan dan bukan karena butuh.

Di dalam buku Wealth Wisdom yang diterbitkan oleh PermataBank dan Gramedia menjelaskan ada 9 alasan mengapa seseorang biasanya tidak dapat mengonrol keinginan untuk berbelanja barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

  1. To keep up a reputation. Banyak orang merasa bahwa ia tidak bisa tampil seperti teman atau tetangga mereka, karena lingkungan akan memandang rendah mereka.
  2. Avoidance. Ketakutan untuk ditolak oleh lingkungan sering kali membuat orang tidak rasional.
  3. Shopping without a list. Berbelanja tanpa catatan belanja ibarat ujian tanpa belajar lebih dulu. Orang yang pergi ke toko tanpa catatan barang yang akan dibelinya, cenderung membeli sesuatu yang menarik di matanya. Untuk itu luangkan waktu sebelum pergi berbelanja untuk membuat list barang-barang yang benar-benar diperlukan.
  4. Paying with plastic. Memegang kartu kredit tidak sama rasanya dengan memegang uang tunai. Orang yang sering menggunakan kartu kredit dalam transaksinya cenderung menghabiskan lebih dari yang mereka inginkan. Bukan berarti tidak boleh menggunakan kartu kredit. Terkadang kartu kredit, justru bisa membantu untuk yang promo.
  5. Bayig items on sale. Tergiur dengan melihat tanda sale di etalase toko. Namun perlu dicermati lebih teliti, dan pandai-pandai membandingkan harga.
  6. Lifestyle.  Seorang hidup dengan gaya hidup konsumtif dalam rentan waktu yang lama dan tiba-tiba keuangan merek ambruk. Tentu sulit bagi mereka  untuk berdamai dengan keadaan yang baru. Kadangkala untuk mempertahankan gaya hidup tersebut, seseorang sampai terlibat dengan utang yang tidak ada habisnya. Gaya hidup harus bisa menyesuaikan dengan kemampuan finansial.
  7. Power and control,  Menghabiskan uang membuat orang merasa menjadi lebih kuat.
  8. Prove self worth. Banyak orang mengukur kepuasan batinnya dengan barang-barang yang dimilikinya. Bagi sebagian yang lain, hal itu membuat mereka merasa menghargai dirinya, merasa bahwa mereka layak melakukannya di dunia ini. Hal tersebut sering terjadi terutama pada orang-orang yang bekerja. Ketika mereka merasa kelelahan, mereka cenderung berpikir bahwa mereka berhak untuk memanjakan dirinya. Hal itu tidak salah dilakukan sekali-sekali, tapi jika terlalu sering dilakukan, bisa-bisa gaji yang masuk hanya tahan sampai pertengahan bulan.
  9. Just can’t say no!.  Cenderung sulit untuk mengatakan tidak, bila anak atau isteri minta dibelikan sesuatu yang tidak dibutuhkan.
    Untuk terlepas dari jebakan konsumerisme, salah satu metode yang bisa digunakan  adalah mengubah addiction ke sesuatu yang lebih positif. Misalnya, dengan menjalankan ritual agama, menghabiskan waktu dengan keluarga atau pergi berlibur dan berkontemplasi diri.

 

  

   

Tag : belanja, ritel, konsumen
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top