Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hasil Investasi Asuransi Jiwa Melonjak 40,78%

Hasil investasi industri asuransi jiwa melonjak hingga 40,78% pada Mei 2016.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 12 Juli 2016  |  07:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Hasil investasi industri asuransi jiwa melonjak hingga 40,78% pada Mei 2016. Otoritas Jasa Keuangan, dalam statistik asuransi yang dikutip Senin (11/7/2016), mencatat hasil investasi industri asuransi jiwa per Mei 2016 senilai Rp9,65 triliun.

Realisasi itu meningkat 40,78% (year-on-year/y-o-y) sebab pada Mei 2015 hasil investasi industri tercatat sebesar Rp6,85 triliun. Padahal pada periode tersebut, nilai total investasi industri bertumbuh 7,73% (y-o-y) menjadi Rp304,72 triliun. Sedangkan, total pendapatan premi industri tumbuh 14,77% (y-o-y) menjadi Rp50,26 triliun. Sebagai pembanding, pada akhir kuartal I/2016, OJK mencatat hasil investasi industri sebesar Rp6,91 triliun atau tumbuh 28,94% (y-o-y) dari Rp5,36 triliun pada akhir Maret 2015.

Sementara itu, pendapatan premi industri pada periode itu lebih tinggi dengan pertumbuhan mencapai 24,03% (y-o-y) menjadi Rp27,46 triliun dan total investasi tumbuha 3,01% (y-o-y) menjadi Rp297,60 triliun. Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia Elin Waty baru-baru ini mengakui realisasi hasil investasi jelang berakhirnya semester I/2016 bertumbuh signifikan. Dia optimistis pengelolaan dana investasi pun masih akan mampu memberikan imbal hasil yang maksimal dengan pilihan sejumlah instrumen yang potensial.

Menurutnya, hingga saat ini surat utang korporasi atau obligasi menjadi pilihan yang menjanjikan untuk meraup hasil investasi maksimal. Instrumen itu diyakini menjadi opsi yang tepat bagi alokasi investasi di tengah menurunnya imbal hasil deposito berjangka. “Dengan perubahan yanga ada kami harus melakukan penyesuaian strategi, seperti saat ini pemerintah terus mendorong penurunan suku bunga acuan yang berdampak pada penurunan suku bunga deposito,” ungkapnya kepada Bisnis.

Selain obligasi, Elin mengungkapkan instrumen investasi di pasar modal, yakni reksa dana dan saham pun masih menjanjikan hasil investasi yang optimal. Pasar modal dalam negeri dinilai masih menjadi tujuan investor asing untuk menanam modal. Dengan begitu, tren positif dinilai masih akan terwujud dalam kinerja pasar modal Indonesia. Di sisi lain, para investor lokal pun diyakini akan mulai meningkatkan alokasi dananya kepada saham dan reksa dana seiring penurunan imbal hasil deposito. “Pasar modal Indonesia masih dalam posisi bagus. Saya kira akan positif,” ungkap Elin.

Data OJK juga menunjukkan per Mei 2016, instrumen saham yang mendominasi porsi investasi industri asuransi jiwa hingga 29,12% justru mengalami penurunan alokasi sebesar 1,25% (y-o-y). Deposito berjangka dan sertifikat deposito dengan alokasi sebesar 14,32% pada investasi juga mengalami penurunan hingga 2,17% (y-o-y). Sebaliknya, reksa dana yang menguasai 26,48% porsi investasi bertumbuh 18,65% (y-o-y) dan SBN yang berkontribusi 16,14% juga tumbuh 11,69% (y-o-y).

Obligasi korporasi dan sukuk korporasi mencatatkan pertumbuhan alokasi terbesar dibandingkan instrumen lainnya. Porsi investasi pada instrumen tersebut tumbuh 20,86% (y-o-y) menjadi Rp26,64 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi jiwa
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top