Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Secercah Harapan dari Usaha Kecil

Di tengah memburuknya kualitas kredit perbankan yang diprediksi bakal berlangsung hingga akhir tahun, ada secercah harapan di kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

JAKARTA- Di tengah lonjakan kredit bermasalah perbankan yang diprediksi bakal berlangsung hingga akhir tahun, ada secercah harapan pada segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang semester I/2016 kredit UMKM menunjukkan tren positif.

Total penyaluran untuk kredit UMKM untuk modal kerja meningkat dari posisi awal tahun (Januari 2016) sebesar Rp518,92 triliun menjadi Rp563,57 triliun pada pertengahan tahun (Juni 2016).

Angka pada semester I itu bahkan sudah melampaui total penyaluran sepanjang 2015 yang senilai Rp537,18 triliun.

Begitu pula dengan alokasi kredit UMKM untuk investasi. Pada awal tahun total kredit UMKM untuk inves tasi baru di posisi Rp200,27 triliun dan pada Juni 2016 sudah senilai Rp211 triliun.

Angka tersebut tercatat positif dibandingkan dengan posisi Desember 2015 senilai Rp202,61 triliun.

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di kedua sektor tersebut cenderung fluktuatif. Namun, memasuki Juni sudah mulai turun.

Direktur Riset Kenta Institute Eric Alexander Sugandi mengatakan, kualitas kredit UMKM lebih baik dibandingkan dengan sektor lain karena ukuran perusahaan UMKM lebih kecil sehingga diversifikasi risiko dapat lebih luas.

“Bank-bank cenderung lebih ketat dalam salurkan kredit korporasi karena risikonya terkumpul di beberapa perusahaan saja dibandingkan dengan sektor UMKM yang lebih kecil size-nya namun jumlah perusahaannya banyak sehingga memungkinkan diversifikasi risiko yang lebih luas,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, Senin (12/9).

Kredit korporasi merupakan salah satu penyumbang NPL terbesar bagi bank sejak tahun lalu. Hal tersebut dipicu oleh jatuhnya harga komoditas seperti batu bara dan migas.

Eric memperkirakan sektor mikro tetap akan didominasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Sementara itu, bank lain akan fokus di sektor kecil dan menengah meski pertumbuhannya tidak akan cepat mengingat kondisi ekonomi belum stabil.

Adapun mengenai proyeksi NPL, dia memperkirakan akan tetap turun seiring dengan peningkatan volume kredit. Hanya saja posisinya tak akan jauh dari posisi di pertengahan tahun.

“NPL bisa turun, tapi enggak jauh dari angka sekarang,” imbuhnya.

Tahun ini memang banyak bank yang fokus pada kredit UMKM dan mengurangi porsi kredit korporasi. Seperti PT Bank UOB Indonesia yang menambah porsi penyaluran kredit di segmen usaha kecil.

Managing Director UOBI Lawrence Loh mengatakan pihaknya memang fokus untuk menggenjot kredit usaha kecil karena kredit di segmen lain seperti korporasi dan komersial mulai banyak yang bermasalah.

“Porsi kredit usaha kecil kami saat ini sudah mencapai sekitar 20% dari total penyaluran kredit. Ke depannya kami akan cover lebih banyak sesuai arahan OJK,” ujarnya.

Dari sisi kontribusi terhadap pendapatan perseroan, UMKM menyumbang sekitar 30% dibandingkan dengan segmen lain seperti komersial, korporasi, dan konsumer.

Direktur SME PT Bank DBS In donesia Steffano Ridwan sebelumnya mengatakan manajemen bertekad untuk lebih agresif dalam penyaluran kredit usaha kecil pada tahun ini.

Pihaknya berani memasang target per tumbuhan kredit UMKM dua kali lipat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu.

“Tahun lalu memang cukup slow down. Tapi kami tetap tumbuh meskipun tidak banyak, sekitar 9%-10%. Tahun ini kami optimistis tumbuh antara 16%—20%,” paparnya.

UNIT KHUSUS

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) bahkan membuat unit bisnis khusus bernama BTPN Mitra Bisnis untuk menggarap sektor ini. Wakil Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati mengatakan pihaknya mulai masuk di segmen UMKM karena melihat adanya kebutuhan perusahaan.

Selain itu kemampuan BTPN juga dianggap sudah cukup layak menggarap pasar UMKM terutama jika menimbang dari sisi total aset.

Sementara itu, PT Bank Bukopin Tbk. akan menjadikan dana hasil pengampunan pajak sebagai modal penyaluran kredit. Menilik pangsa pasarnya, bank berkode emiten BBKP ini diperkirakan dapat menampung sekitar Rp20 tri liun selama periode pengampunan pajak.

Dana tersebut akan dialokasikan ke sektor-sektor produktif. Sektor yang ba kal menerima kucuran dana ter sebut disesuaikan dengan segmen pa sar Bank Bukopin yakni usaha kecil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Abdul Rahman
Sumber : Bisnis Indonesia (13/9/2016)
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper