Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KEBIJAKAN MONETER: Pelonggaran LTV Mulai Berbuah

Bank Indonesia mengklaim kalangan perbankan di dalam negeri sudah mulai mengenyam cuan hasil kebijakan makroprudensial pelonggaran loan to value atau LTV pada Agustus 2016.
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 29 Oktober 2016  |  19:07 WIB
/ilustrasi
/ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Indonesia mengklaim kalangan perbankan di dalam negeri sudah mulai mengenyam cuan hasil kebijakan makroprudensial pelonggaran loan to value atau LTV pada Agustus 2016.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung mengatakan saat ini dampak positif pelonggaran LTV mulai bisa dirasakan. Permintaan mulai membaik sehingga kredit pemilikan rumah (KPR) juga demikian.

“LTV ini sejatinys sudah mulai ada tanda-tanda positif. Selain pelonggaran LTV ini kami belum berencana terbitkan pelonggaran makroprudensial baru, tetapi tentu kami akan evaluasi dari bulan ke bulan,” ujarnya.

Dampak manis pelonggaran LTV yang dimaksud BI jelas merujuk ke September dan seterusnnya. Pasalnya sampai dengan Agustus pertumbuhan penyaluran pinjaman ini belum menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data uang beredar BI diketahui per Agustus tahun ini total kredit properti mencapai Rp671,7 triliun. Jumlah ini bertumbuh 12,3% secara tahunan. Persentase pertumbuhan pada bulan sebelumnya juga ada dikisaran yang sama yakni 12,1% (yoy).

Angka Rp671,7 triliun terdiri dari KPR dan KPA Rp352,7 triliun, konstruksi Rp196,4 triliun, dan real estate Rp122,6 triliun. Masing0masing tercatat bertumbuh secara year on year sebesar 6,5%, 17,9%, dan 22,5%.

Juda mengutarakan ada faktor lain yang akan menggenjot kinerja bisnis properti selain pelonggaran LTV, yakni pengampunan pajak. Mengingat jumlah uang yang masuk sangat jumbo, tak heran sejumlah sektor strategis menantikan buah dari program pengampunan pajak termasuk properti.

Pelonggaran LTV dan pengampunan pajak bakal menjadi duet maut bagi bisnis properti di Tanah Air. Keduanya sama-sama mendorong pertumbuhan permintaan konsumen sehingga perbankan dapat turut menikmati imbas positif berupa perbaikan kinerja penyaluran KPR.

“Sudah ada tanda-tanda perbaikan di sektor properti, dua hal [LTV dan tax amnesty] ini berjalan bareng untuk mendorong permintaan terhadap sektor properti,” ucap Juda.

PT Bank Tabungan Negara Tbk. setali tiga uang dengan bank sentral. Emiten berkode saham BBTN ini membukukan pertumbuhan kredit 16,9% menjadi Rp131,6 triliun sampai kuartal ketiga kemarin. Perseroan akan terus mengejar target pertumbuhan kredit sebesar 20% sampai penghujung tahun.

“Kami akan tingkatkan pelayanan untuk segmen rumah subisidi, sedangkan nonsubsidi kami akan tambah segmen baru,” ucap Direktur Utama BTN Maryono.

Secara rinci pertumbuhan KPR subsidi perseroan sampai sembilan bulan pertama tahun ini Rp52,3 triliun, sedangkan KPR nonsubsidi Rp58,6 triliun. Lalu perseroan juga menyalurkan pembiayaan terkait perumahan senilai Rp8,7 triliun dan kredit konstruksi senilai Rp20,6 triliun.

BBTN mengaku sejatinya perusahaan lebih fokus menggarap segmen rumah subsidi. Tapi tak dipungkiri ketentuan relaksasi LTV turut memperbaiki permintaan properti. Alhasil, ini tidak hanya meningkatkan kinerja penyaluran KPR tetapi juga kredit ke sektor konstruksi untuk pengembang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top