Belajar dari Ekspansi Homecredit China

Perusahaan pembiayaan produk kebutuhan rumah tangga HomeCredit di China memiliki pertumbuhan kinerja yang mengagumkan. Di sisi lain, masih banyak warga China yang belum tahu bahwa banyak barang kebutuhan yang bisa dibeli secara kredit.
M. Rochmad Purboyo | 26 November 2017 20:50 WIB

Perusahaan pembiayaan produk kebutuhan rumah tangga HomeCredit di China memiliki pertumbuhan kinerja yang mengagumkan. Di sisi lain, masih banyak warga China yang belum tahu bahwa banyak barang kebutuhan yang bisa dibeli secara kredit.

“Memang beli ponsel sekarang bisa diangsur? Bukannya yang bisa dikredit hanya kalau beli rumah?” Pertanyaan tour guide kami di Beijing, China, Aming, itu muncul setelah kami berencana mengunjungi kantor pusat Homecredit di Tianjin China.
Homecredit merupakan layanan pembiayaan sejumlah produk, peralatan dan kebutuhan rumah tangga bagi pelanggan dan merupakan bagian dari PPF Group N.V. asal Cheko yang juga memiliki lini bisnis perbankan, telekom, asuransi, perumahan, ritel, bioteknologi, agrikultur, energi hingga sumber daya alam.
Aming terlihat heran bahwa di China ternyata ada lembaga yang memberikan kredit untuk produk elektronik dan rumah tangga. Sepengetahuannya produk yang bisa diangsur hanyalah properti karena mudah untuk menelusuri klien bila kreditnya bermasalah.
Namun, pendapat Aming ini sepertinya bertolak belakang dengan kinerja HomeCredit di China yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Perusahaan yang mulai beroperasi di China pada Desember 2007 itu, tiga tahun kemudian , atau pada 2011 mampu memperluas bisnisnya ke 60 kota di China, bekerja sama dengan 15.000 mitra dan mencatat sebanyak 1 juta pinjaman selama tahun 2012.
Pada Agustus 2015 Homecredit telah mencatat volume penjualan sebesar 1 miliar RMB (setara Rp2,09 triliun) untuk pembiayaan di POS (Point of Sales/titik penjualan di toko mitra bisnis HCC). Pertumbuhan itu terus berlanjut dan tahun ini pada April Homecredit berhasil mengucurkan 6 miliar RMB. Dari 11 negara di mana HCC hadir, memang HCC China yang memiliki pertumbuhan tertinggi.
Head of Sales Network Home Credit China Andrea Chuda mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut juga sempat menghadapi persaingan ketat dengan lembaga pembiayaan lainnya, sehingga pada awal beroperasinya mengalami fluktuasi.
“Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Homecredit berhasil tumbuh signifikan dengan cara mengubah strategi agar dapat melipatgandakan volume penjualan, salah satunya adalah menarik lebih banyak pelanggan serta mitra bisnis,” katanya.
Homecredit banyak menjalin kerja sama dengan gerai kecil maupun besar dengan menempatkan karyawannya di gerai tersebut, yaitu agen penjualan dan manajer di masing-masing toko. Homecredit sudah hadir di 312 kota di China, dengan total 170.000 mitra retail, 240.000 titik penjualan, 13 mitra modern dan 300 mitra tradisional. Tim penjualan Homecredit terdiri dari 60.000 agen penjualan, dan 6.000 level Manajer.
Apabila ada konsumen yang tertarik membeli produk, maka karyawan toko mitra Homecredit akan menawarkan pembiayaan angsuran. Bila konsumen tertarik, maka agen penjualan Homecredit akan menjelaskan lebih terinci soal program kredit. Syaratnya dibuat mudah, yaitu cukup dengan kartu tanda penduduk kan kartu debit yang pasti dibawa oleh warga.
Bila setuju, maka agen penjualan akan mencatat data konsumen melalui tablet dan memfoto konsumen serta dokumen yang disyaratkan serta pembubuhan tanda tangan elektronik dari konsumen. Proses ini tanpa menggunakan kertas, dan hanya butuh selembar kertas kecil untuk pegangan konsumen. Dan dalam waktu kurang dari lima menit sudah diketahui permohonan kredit tersebut disetujui atau tidak.
Tentu cepat dan mudahnya proses ini sangat diminati kaum milenial penyuka gadget, sehingga perkembangannya menjadi cepat. Bahkan mereka bisa memotong waktu pengurusan bila mereka sebelumnya telah mengisi data lewat online. Memang, 90% nasabah Home Credit adalah untuk membeli gadget.
Lalu bagaimana cara mengatasi kemungkinan konsumen nakal yang ngemplang tidak mau membayar angsuran?
Martin Chvoj, Deputy CRO Risk Department mengakui adanya kredit yang bermasalah, tetapi besarnya tidak sampai 5%. Menurutnya, dalam menyeleksi calon peminjam pihaknya melakukan cek di data internal maupun eksternal dari otoritas perbankan di China, semacam Bank Indonesia checking kalau di Indonesia.
Namun, bila ada yang mendapat persetujuan dan kemudian ternyata pembayaran angsurannya bermasalah, “Kami kabari atau telepon dulu bila sudah jatuh tempo. Bila tidak ada respons, dan mulai ada tunggakan baru kami lacak melalui jalur perbankan dari kartu debit bersangkutan untuk menemukan orang tersebut.”
Menurutnya, mungkin saja ada agen penjualan nakal yang demi mengejar target lalu meloloskan nasabah yang sebenarnya tidak layak. Untuk itu, pihaknya akan melakukan cek dengan mengirim seseorang untuk berpura-pura menjadi calon nasabah bermasalah. “Kalau agen penjualan itu meluluskan pengajuan kredit itu, langsung kami tindak tegas.”

Peluang Besar

Kembali terkait dengan pertanyaan Aming yang menunjukkan masih adanya warga China yang belum mengetahui adanya fasilitas kredit produk rumah tangga ini, PR Senior Specialist Homecredit China, Mirror Wang, mengatakan bahwa hal itu menjadi peluang yang besar bagi perusahaan tersebut untuk terus berkembang.
“Banyak klien kami didapat dari informasi mulut ke mulut. Ketika mereka puas, maka mereka akan menyebarluaskan ke saudara dan teman mereka.”
Untuk promosi, kata Wang, Homecredit melakukannya dengan soft campaign, melalui literasi keuangan dengan berbagai lembaga pendidikan dari anak-anak hingga mahasiswa, dan berbagai komunitas untuk memperkenalkan adanya pembiayaan bagi alat kebutuhan rumah tangga tersebut.
Selain itu, perusahaan juga menjadi sponsorship bagi klub-klub olah raga ternama serta organisasi kemanusiaan di China, termasuk tim search and rescue (SAR) China. “Dampaknya cukup bagus karena kami kini sudah hadir di 312 kota di China.”
Lalu bagaimana dengan perkembangan Homecredit di Indonesia? Andina Rosfieta PR & Communications Manager PT Home Credit Indonesia mengatakan bahwa secara strategi perusahaannnya memiliki kemiripan dengan China.
“Proses persetujuan kredit kami juga cukup cepat, tidak sampai setengah jam. Hanya saja kecepatan Internet dan big data di China masih lebih baik dibanding di Indonesia,” katanya.
Home Credit Indonesia yang berdiri pada 2013, katanya, juga melakukan kerja sama dengan sejumlah toko, gerai, seperti Erafone, Electronic Solution, Home Solution, Informa, Electronic City, Ikea, Oke Shop, Global Teleshop, Hypermart, Trans Hello, Lotte Mart, Samsung, OPPO, Vivo dan lainnya.
Perusahaan yang memiliki slogan Anda Bisa itu, lanjutnya, telah melayani lebih dari 1,4 juta pelanggan dan hampir 10.000 titik penjualan yang tersebar di 53 kota di Indonesia.
“Kami telah melihat pertumbuhan bisnisnya di Indonesia selama 4 tahun terakhir, dan saat ini Home Credit Indonesia telah menjadi nomor satu untuk pasar dan layanan pembiayaan untuk barang-barang konsumen,” katanya.

Tag : perusahaan pembiayaan
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top