Pembiayaan Alat Berat Diyakini Masih Tumbuh Positif

Penetapan harga batu bara khusus untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT Perusahaan Listrik Negara sebesar US$70 per ton diyakini tidak akan menganggu pembiayaan alat berat yang diproyeksi tumbuh positif pada 2018.
Azizah Nur Alfi | 11 Maret 2018 17:25 WIB
Ilustrasi - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Penetapan harga batu bara khusus untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT Perusahaan Listrik Negara sebesar US$70 per ton diyakini tidak akan menganggu pembiayaan alat berat yang diproyeksi tumbuh positif pada 2018.

Ketua APPI Suwandi Wiratno memproyeksi pembiayaan alat berat dapat tumbuh sekitar 10%-15% pada tahun ini. Meskipun pertumbuhan ini tidak akan setajam pertumbuhan pada 2017 sekitar 35%-40%.

Dia mengatakan, tren harga komoditas yang masih naik seperti CPO, batu bara, turut mendorong kinerja pembiayaan alat berat. Adanya, penetapan harga batu bara khusus semestinya tidak akan berdampak negatif terhadap pembiayaan alat berat.

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai tren harga komoditas seperti batu bara yang naik memberikan efek positif pada pembiayaan alat berat.

"Karena tidak seluruh produksi untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga ada untuk ekspor," katanya, Minggu (11/3/2018).

Diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan persentase minimal penjualan batu bara untuk kebutuhan di dalam negeri sebesar 25% dari rencana kerja produksi 2018.

Suwandi yang juga Direkur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL Finance) menyampaikan, kinerja perseroan pada dua bulan pertama 2018 cukup positif. Dia optimistis kinerja kuartal I akan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan kuartal I tahun lalu.

Dalam catatan Bisnis, dari total pembiayaan yang disalurkan sekitar 50% berasal dari pembiayaan alat berat. "Sepanjang tahun ini bisa tumbuh 15%. PAda 2017 tumbuh 20% dibandingkan 2016," imbuhnya.

Direktur Utama PT MNC Guna Usaha Indonesia (MNC Leasing) Paulus Cholot Janala menyampaikan, saat ini perseroan belum masuk pembiayaan alat berat di sektor batu bara. Diketahui, perusahaan pembiayaan ini menyalurkan sekitar 67% pembiayaan baru untuk alat berat khususnya perkebunan dan konstruksi.

Dia mengatakan, sepanjang tahun ini, MNC Leasing memasang target pembiayaan sebesar Rp1,5 triliun.

Direktur PT Buana Finance Tbk. Herman Lesmana menyampaikan, seiring perbaikan kondisi komoditas dan kebutuhan dalam negeri, serta kebutuhan ekspor membaik, maka kebutuhan pada alat berat juga meningkat. Perseroan memasang target pembiayaan tumbuh 30% pada tahun ini.

Direktur Keuangan dan TI PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFI Finance) Sudjono meyakini penetapan harga batu bara khusus tidak akan mempengaruhi pembiayaan alat berat karena permintaan alat berat masih sama. Perseroan menargetkan pertumbuhan pembiayaan sekitar 20%-25% tahun ini.

"Hanya terjadi penyesuaian harga jual batu bara," katanya, Jumat (9/3/2018).

 

Tag : alat berat, pembiayaan
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top