Saat Seniman Diajak Melek Finansial

Belum lepas dari ingatan tentang artis senior Laila Sari yang tutup usia 82 tahun pada November tahun lalu. Seniman tiga zaman yang berjaya di era 80an itu terhimpit ekonomi pada masa tuanya
Azizah Nur Alfi | 15 April 2018 10:21 WIB
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA -- Belum lepas dari ingatan tentang artis senior Laila Sari yang tutup usia 82 tahun pada November tahun lalu. Seniman tiga zaman yang berjaya di era 80an itu terhimpit ekonomi pada masa tuanya.

Guna meringankan beban, sebuah program televisi melakukan penggalangan dana melalui kitabisa.com. Dana yang terkumpul diberikan untuk menjadi hadiah. Selain Laila Sari, keadaan serupa juga dialami sejumlah pelaku seni lain.

Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM) Agus B Yanuar menuturkan, pihaknya menggugah kesadaran para pekerja seni untuk memperhatikan dan menjalankan perencanaan keuangan pribadi yang lebih baik dengan terlibat dalam sejumlah kegiatan seni.

Pada Jumat (13/4/2018), lelaki yang memiliki ketertarikan besar pada dunia seni itu turut membuka Bincang Seni, Budaya, dan Investasi sebagai salah satu rangkaian kegiatan menjelang pameran karya kolaborasi Hanafi & Goenawan Mohamad bertajuk 57x76 di Galeri Nasional pada Juni hingga Juli 2018.

"Kami menggugah kesadaran para pekerja seni yang seringkali kalau membaca di media, ketika dalam puncaknya bisa beli apa saja, tetapi setelah melewati masa keemasannya justru tidak ada bekasnya. Bahkan hidup dari belas kasihan teman-temannya," kata dia.

Sejak 2014, SAM terlibat dalam kegiatan dan komunitas seni guna memberikan literasi keuangan. Hal ini sebagai salah satu upaya dalam mendorong tingkat literasi keuangan yang saat ini masih rendah.

Berdasarkan survei nasional literasi dan inklusi keuangan 2016 oleh Otoritas Jasa Keuangan, indeks literasi keuangan terus meningkat dari 21,84% pada 2013 menjadi 29,66% pada 2016. Adapun, indeks inklusi keuangan terus meningkat dari 59,74% pada 2013 menjadi 67,82% pada 2016.

Agus mengakui, tidak mudah memberikan edukasi seputar pentingnya perencanaan keuangan pribadi kepada kalangan seniman. Di samping persoalan tingkat literasi keuangan, kendala lain yakni masih adanya stigma bahwa pasar modal memiliki risiko.

Setelah edukasi keuangan diberikan, tak lantas mendorong para pelaku seni untuk membeli reksa dana. Perlu waktu 1-2 tahun hingga akhirnya mereka berinvestasi.

Selain terlibat dalam kegiatan pameran karya seni lukis, SAM masuk dalam komunitas seni melalui penyelenggaraan pertunjukan fesyen. Selain itu, pelaku seni diberi pengalaman berinvestasi melalui kegiatan Ngopi Ceria Sambil Belajar Reksadana.

Agus menyebut Butet Kertaradjasa mulai menjajal investasi reksa dana saham dan investasi saham langsung. Jejak ini kemudian diikuti pelaku seni dari kalangan muda. Mereka menyisihkan sejumlah nominal tertentu ketika mendapat penghasilan dari karyanya. Nilaianya dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

"Kami menggugah kesadaran mereka melalui simulasi dan memberi pengalaman berinvestasi. Kami menjelaskan bahwa dengan berinvestasi dan memahami risiko, maka mereka bisa memiliki perencanaan keuangan yang baik bahkan di saat mereka tidak lagi produktif," imbuhnya.

Agus mengatakan, kontribusi dari pelaku seni tetap bertumbuh sejak 2014. Dari total dana kelola SAM sekitar Rp11,2 triliun, sekitar 90% berasal dari instritusi. Adapun, sekitar 10% lainnya atau sebesar Rp1,12 triliun berasal dari ritel, termasuk di dalamnya dari komunitas seni.

Menurutnya, komunitas seni menjadi segmen dengan prospek positif. Apalagi, pelaku seni dari kalangan muda lebih sadar akan kebutuhan berinvestasi. Lembaga yang bergerak di bidang seni seperti galeri seni, padepokan, juga dapat merencanakan keuangannya dengan investasi di reksa dana untuk melakukan ekspansi. "Semua klien yang prospektif akan kami sasar," katanya.

Sastrawan Goenawan Mohamad mengakui dirinya tidak cukup mengerti soal investasi. Dia lebih mempercayakan soal ini pada temannya.

Dia mengatakan pemahaman yang salah selama ini bahwa dunia seni tidak mengenal dunia investasi, sebaliknya dunia investasi tidak mengenal dunia seni. Padahal, seni rupa dimulai dengan dana, sebagai contoh kerajaan membiayai pembangunan candi.

“Jadi kalau seniman tidak peduli itu agak kasihan. Tidak harus mengerti [soal investasi]. Cukup mengerti kalau itu tidak dapat disepelekan,” katanya.

Tag : literasi keuangan, seniman
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top