Kuartal I/2018, NPL Sejumlah Bank Mulai Turun

Setelah sempat mengalami kenaikan pada awal tahun, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) telah menunjukkan penurunan pada akhir kuartal I/2018.
Ropesta Sitorus | 19 April 2018 14:39 WIB
Ilustrasi - Skalanews

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah sempat mengalami kenaikan pada awal tahun, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) telah menunjukkan penurunan pada akhir kuartal I/2018.

Hal tersebut dialami oleh PT Bank Central Asia Tbk seperti disampaikan Direktur BCA Santoso. Kualitas kredit Bank BCA relatif terkendali karena perseroan telah menangani kredit-kredit yang bermasalah.

Di samping itu, menurutnya, perseroan terus menjalankan prinsip kehati-hatian sehingga pembentukan NPL baru dapat diminimalisir.

 “NPL kuartal I ini terkendali, lebih rendah. Dibandingkan tahun lalu, karena yang lama sudah diselesaikan dan belum ada sesuatu yang baru,” katanya di Jakarta, Rabu (18/24/2018).

Santoso menyatakan, rasio NPL BCA secara keseluruhan ada di bawah 1%. Akan tetapi, khusus untuk segmen konsumer, masih ada bagian bisnis yang memiliki rasio NPL lebih tinggi seperti kartu kredit, dan kendaraan bermotor.

“Untuk NPL KPR di bawah 1%, sedangkan kendaraan bermotor di atas 1% dan kartu kredit memang biasanya lebih tinggi, tapi masih di bawah 2%,” paparnya.

Sepanjang Januari – Maret, bank swasta dengan modal terbesar di Indonesia itu mampu membukukan kenaikan penyaluran kredit yang signifikan.

Santoso menyatakan pihaknya memang sengaja menggenjot ekspansi kredit di paruh pertama tahun 2018 untuk mengantisipasi efek tahun politik yang berpotensi membuat pasar cenderung volatil pada semester kedua.

“Kuartal awal ini kredit kami masih tumbuh, saya lihat cukup bagus, antara 12% - 14% secara tahunan. Spirit kami memang ingin mencapai target sesuai rencana bisnis bank sebesar 8% -10% pada akhir tahun, tapi dengan situasi yang lebih baik, kami mencoba mengejar harapan pak Presiden Jokowi sebesar 12%,” tuturnya.

Secara terpisah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga melaporkan perbaikan rasio NPL sepanjang Januari – Maret 2018.

Menurut Direktur Utama Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo perbaikan kualitas kredit tersebut tercermin dari turunnya NPL mendekati level 3%.

“Sudah di bawah 3,5%. Saya tidak terlalu hapal, tapi mendekati 3%. Target kami tahun ini di bawah 3,5%,” katanya.

Perbaikan aset kredit bermasalah BMRI merupakan dampak dari aksi bersih-bersih seperti restrukturisasi serta efek dari penebalan pencadangan dalam dua tahun terakhir.

Sebagai gambaran, rasio NPL BMRI sempat menanjak dan mencapai puncak pada 2016 lalu. Namun, pada akhir 2017, perseroan mampu menurunkan rasio NPL ke level 3,46% atau sebesar Rp25,24 triliun dari total kredit BMRI Rp729,55 triliun. Rasio itu turun 0,54% dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2016 sebesar 4,00%.

Tiko, sapaan akrabnya, memperkirakan perseroan memerlukan waktu 2 tahun untuk mencapai rasio NPL normal di bawah 2%.

Dalam kesempatan terpisah sebelumnya Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengatakan industri perbankan nasional terus menunjukkan perbaikan positif.

Rasio NPL menurun lantaran jumlah penyaluran kredit yang mulai positif dan meningkat di atas level 8% pada akhir Maret. Kendati demikian, Heru belum memerinci angka persis pertumbuhan kredit dan NPL kuartal I.

“Kuartal I sudah positif. NPL bagus, dengan net di bawah 2%. Kalau di awal tahun biasalah naik sedikit, tapi netnya di 1,1% itu termasuk oke. Rasio NPL wajar turun kalau kreditnya turun, bukan karena kualitas,” katanya.

Sebelumnya, OJK melaporkan rasio NPL pada Januari 2018 masih cukup tinggi yakni sebesar 2,86%, naik 27 basis poin dari realisasi akhir 2017 sebesar 2,59%. Sejalan dengan itu, NPL net pada Januari 2018 juga naik dari 1,1% menjadi 1,23%.

Kenaikan rasio NPL perbankan saat itu disebabkan oleh turunnya penyaluran kredit sekitar Rp106 triliun dari realisasi Desember 2017 menjadi Rp4.631,97 triliun.

Pada perkembangan lain, OJK mendorong agar perbankan khususnya yang masih bermodal kecil untuk meningkatkan daya saingnya lewat penambahan modal. Dengan demikian, bank diharapkan mampu bersaing dalam hal ekspansi kredit sekaligus menjaga agar rasio NPL tetap terkendali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
npl

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top