Menanti Aksi “Buwas” Mengawal Beras

Taji Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso sebagai Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik langsung diuji untuk menjaga pasokan dan stabilitas bahan pokok, khususnya beras, jelang Ramadan dan Lebaran 2018.
M. Nurhadi Pratomo | 28 April 2018 10:26 WIB
Budi Waseso (kanan) di Istana Negara Jakarta, Kamis (1/3/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA -- Taji Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso sebagai Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik langsung diuji untuk menjaga pasokan dan stabilitas bahan pokok, khususnya beras, jelang Ramadan dan Lebaran 2018.

Desas-desus soal pengangkatan Budi Waseso sebagai Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Bulog) telah bergulir dalam sepekan terakhir. Kabar tersebut kian santer beredar di tengah rendahnya serapan beras bulog yang hanya 2,2 juta ton dari target 3,7 juta ton yang dipasang Pemerintah pada 2017.

Akhirnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno mengangkat, Buwas, sapaan akrabnya, sebagai Dirut Bulog menggantikan Djarot Kusumayakti. Keputusan tersebut disahkan melalui penyerahan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-115/MBU/04/2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perum Bulog, Jumat (27/4).

Sejumlah pekerjaan rumah langsung menanti Buwas mulai dari menjaga harga pokok pembelian gabah ditingkat petani, stabilisasi harga bahan pokok, penyaluran program Bantuan Sosial Beras Sejahtera hingga pengelolaan stok pangan.

Apalagi, dalam beberapa pekan ke depan akan segera memasuki Ramadan 2018 yang biasanya dibarengi dengan melonjak harga kebutuhan pokok di pasaran.

Ditemui seusai menerima surat pemberentian sebagai Direktur Utama, Djarot Kusumayakti berharap Direksi Bulog yang baru dapat membuka simpul masalah yang membelit perseroan selama dia menjabat. Apalagi, sosok Buwas dikenal tegas dalam menjalankan kepemimpinannya.

Secara detail, Djarot menjelaskan Bulog berada di bawah aturan Kementerian. Dibutuhkan upaya yang besar untuk berkoordinasi antara lembaga dan beleid yang membelit perseroan.

“Perkiraan saya Pak Buwas bisa lebih cepat menyelesaikan simpul-simpul tersebut,” ujar Djarot yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) PT Bank BRI (Persero) Tbk.

Sementara itu, mantan Kepala Staff Kepresidenan yang disaat bersamaan ditunjuk sebagai Kepala Dewan Pengawas Bulog, Teten Masduki, menjelaskan bahwa Pemerintah lewat perseroan ingin memastikan kecukupan pasokan beras. Artinya, komoditas tersebut tersedia dan terjangkau bagi masyarakat.

“Mudah diakses masyarakat dan tidak menggerus daya beli masyarakat,” ujarnya.

Teten menjelaskan mendekati Ramadan dan Lebaran 2018, jajaran Direksi Bulog telah berkomitmen memastikan ketersediaan pasokan beras. Selain itu, distribusi beras dipastikan lancar hingga perayaan Idul Fitri tahun ini.

Terkait pengangkatan Budi Waseso sebagai Direktur Utama, dia menilai sosok yang akrab disapa “Buwas” itu memiliki karakter yang tegas. Pihaknya akan berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan beras tercukupi.

Secara terpisah, Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro mengatakan perombakan Direksi Bulog merupakan bentuk penyegaran manajemen perseroan. Hal tersebut untuk memperkuat peran Bulog dalam menjaga stabilitas harga pangan terutama pada hari besar keagamaan.

Dia menambahkah Pemerintah akan mendorong kestabilan harga pangan dan kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Lebaran 2018. Oleh karena itu, jajaran Direksi Bulog yang baru diharapkan dapat menopang upaya pemerintah.

Menjawab sejumlah tantangan tersebut, Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan tidak akan bermain-main dengan urusan beras. Pasalnya, komoditas tersebut merupakan kebutuhan utama perut masyarakat Indonesia.

“Saya berangkat dari penegak hukum jadi bagaimana caranya harus tertib. Kalau yang ada [bermain-main dengan komoditas beras] harus disingkirkan ya disingkirkan,” tegasnya.

Buwas mengatakan mendapat tugas utama untuk mengawal kestabilan pangan, khususnya beras, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran 2018. Pihaknya diminta memastikan kelancaran antara pasokan dan permintaan.

Dia menyebut akan menggandeng tim satuan tugas (Satgas) Pangan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam upaya menjaga stabilitas harga. Artinya, perseroan akan bekerja sama dengan instansi yang melambungkan namanya.

“Saya harap Satgas Pangan juga bekerja aktif sehingga tujuan stabilitas harga bisa tercapai,” imbuhnya.

Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto menyebut pengangkatan Dirut berlatar belakang Polisi baru pertama terjadi dalam sejarah BUMN. Biasanya, mereka mengisi jajaran Dewan Komisaris.

KEMAMPUAN MANAJERIAL JENDERAL

Toto menilai Buwas memiliki kemampuan manajerial yang baik mengingat statusnya sebagai Jenderal Bintang 3 di Polri. Artinya, tinggal dilakukan penyesuaian dari sisi pengelolaan korporasi atau unit bisnis saja.

“Bulog sebagai Perum bukan saja dituntut untuk melayani kebutuhan publik namun melaksanakan beberapa kegiatan komersial sehingga secara entitas mampu menjalankan fungsi cross subsidy,” paparnya.

Ekonom Institute For Develoment of Economic and Finance (INDEF) Bustanul Arifin tantangan utama yang akan dihadapi Buwas yakni menjaga stabilitas dan ketahanan pangan di dalam negeri. Komoditas beras akan masih menjadi perhatian utama dalam beberapa waktu ke depan.

“Selain beras tentu saja komoditas yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog dalam Rangka Ketahanan Pangan,” tegasnya.

Tag : bulog, Budi Waseso
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top