Agar Terhindar Dari Snadwich Generation, Ini Kuncinya

Sandwich Generation atau Generasi Sandwich pertama kali dikemukakan oleh pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada 1981.
Asteria Desi Kartika Sari | 08 Mei 2018 01:40 WIB
Ilustrasi: Generasi Millennial - Reuters/Michael Spooneybarger

Bisnis.com, JAKARTA -- Sandwich Generation atau Generasi Sandwich pertama kali dikemukakan oleh pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada 1981. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan orang-orang di usia paruh baya (middle age) yang terjepit (sandwiched) dalam memenuhi kebutuhan anak-anak mereka dan juga orang tuanya dari mulai kebutuhan finansial sehari-hari hingga kesehatan secara bersamaan.

Berdasarkan survei Pew Research Center pada 2013 disebutkan hampir 47% orang-orang yang berusia 40-50 tahun memiliki orang tua yang berusia 65 tahun atau lebih, dan juga sedang membesarkan anak yang berusia 18 tahun atau lebih, dan sekitar 15% di antaranya bertanggungjawab terhadap kebutuhan finansial orang tua dan anaknya.

Menurut perencana keuangan OneShildt M. Andoko menuturkan salah satu faktor pemicu timbulnya generasi sandwich adalah orang tua yang kurang bisa menyisihkan sebagian uang sebagai simpanan dana pensiun yang menjadi beban untuk generasi sandwich. Bahkan, dia menilai tidak begitu banyak yang memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup bagaimana mengelola keuangan mereka.

“Sering kali diundang untuk [seminar] persiapan pensiun di beberapa perusahaan, ternyata faktanya mereka baru mempersipakan masa pensiunnya pada 2-3 tahun sebelum pensiun, atau bahkan satu tahun sebelumnya,” tutur Andoko.

Perencanaan yang matang adalah kunci untuk memutus rantai generasi sandwich. Memutus rantai bukan berarti menghentikan dukungan finansial untuk orang tua, pasalnya bagaimanapun orang tua juga menjadi kewajiban.

Oleh karena itu, katanya, yang harus dilakukan adalah memulai menata tujuan keuangan di masa akan datang. Menghitung dengan cermat antara beban biaya hidup sehari-hari dan biaya hidup saat pensiun akan membuat hari senja menjadi lebih bernilai tanpa membebani anak-anak dikemudian hari.

Sebagai ilustrasi perhitungan dana pensiun, katakanlah anda saat ini berusia 25 tahun, masa pensiun datang saat anda usia 55 tahun. Selama satu tahun penghasilan yang didapatkan adalah Rp60 juta. Gaya hidup pensiun dari gaji adalah sebesar 70%.

Apabila merencanakan dana pensiun untuk kebutuhan selama 15 tahun, paling tidak kebutuhan hari tua adalah sebesar Rp3 miliar. Guna mencukupi kebutuhan tersebut paling tidak anda harus melakukan investasi sebesar Rp5,9 juta secara tahunan.

Dia melanjutkan, semakin menunda untuk merencanakan masa tua maka akan semakin besar pula beban persentase investasi setiap tahunnya, untuk mencapai target masa tua seperti yang diinginkan.Belum lagi jika harus menanggung biaya kehidupan orang tua dan juga anak-anak.

Memutuskan generasi sandwich memang tidak mudah di tengan situasi ekonomi yang semakin kompleki sandwi, dan kebutuhan dan biaya hidup pun terus meningkat. Setiap generasi pasti memiliki tantangannya masing-masing.

“Apalagi bisa jadi di masa yang akan datang persaingan anak-anak kita jauh lebih besar dibandingkan dengan persaiangan yang kita hadapi sekarang, baik dari sisi pekerjaan atau gaya hidup yang lebih kompleks,” paparnya.

Oleh karena itu, menurutnya sudah saatnya generasi saat ini harus cerdas melakukan managing cashflow, harus memulai menata persiapan pensiun, juga asuransi kesehatan untuk mengurangi beban di masa setelah pensiun.

Tag : generasi muda
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top