Adrian Suherman: Jangan Bersaing, Mending Kerja Sama

Berkompetisi boleh saja, tetapi kenapa dari sisi infrastruktur kita tidak buat bareng-bareng saja? Fintech bukan bank, dan kami juga tidak mau menjadi bank.
Demis Rizky Gosta/Dhiany Nadya Utami/Fitri Sartina Dewi | 07 Juni 2018 12:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bermodalkan keinginan mendorong lebih banyak orang berpartisipasi dalam ekonomi digital, Adrian Suherman bersama beberapa mitra merintis PT Visionet Internasional (OVO). Untuk menggali perkembangan dan strategi bisnis OVO ke depan, Bisnis mewawancarai Presiden Direktur OVO Adrian Suherman. Berikut kutipannya:

Bisakah Anda jelaskan mengenai ide awal pendirian OVO?

Proyek OVO dimulai sekitar 2,5 tahun lalu, tetapi kami baru efektif beroperasi pada 8 bulan terakhir. Mengenai ide awal pendirian, saat itu saya bersama kolega melihat ada banyak masyarakat Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam ekonomi digital.

Dengan adanya ekonomi digital, opportunity jadi lebih luas, khususnya untuk para merchant. Mereka melihat, sebelumnya hanya bisa berjualan pada radius beberapa kilometer dari tempatnya. Namun, dengan adanya digital mereka bisa jualan ke seluruh Indonesia.

Kami juga melihat sekitar 2 sampai 3 tahun lalu sedang tren e-commerce. Banyak sekali pedagang mulai dari UMKM, segmen menengah, sampai yang besar ingin berpartisipasi, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya.

Jadi, mereka tidak bisa ikut dalam ekonomi digital. Kami cari tahu kendala mereka masuk transaksi digital apa? Salah satu kendala terbesar adalah pembayaran.

Apa yang Anda tawarkan untuk mengatasi kendala itu?

Seperti kita ketahui, Indonesia sangat cash base society. Sekitar 90% transaksi masih menggunakan cash, sekitar 9% menggunakan kartu, dan masih kecil sekali yang menggunakan Internet atau smartphone.

Dengan situasi seperti ini, saya melihat ada kesempatan untuk membangun ekosistem terbuka yang memungkinkan siapapun yang mau bergabung itu bisa. Di dalam ekosistem, kami menyediakan platform pembayaran melalui cara-cara online.

Ekosistem yang kami buat juga sangat fleksibel untuk mengatasi kendala soal payment di Indonesia. Tidak hanya untuk online payment, tetapi juga dimungkinkan untuk offline payment.

Adanya penggabungan antara kebutuhan pembayaran, perkembangan digital di Indonesia yang semakin berkembang, serta tingginya penetrasi pengguna smartphone di Indonesia itulah yang menjadi ide awal kami untuk mendirikan OVO.

Bagaimana strategi pengembangan bisnis yang dijalankan ketika awal berdiri?

Pada awal memulai bisnis ini, kami butuh mitra strategis. Akhirnya, kami bekerja sama dengan Lippo Group, karena kami lihat ritel ekosistemnya Lippo Group kuat. Melalui kerja sama itu, kami menggandeng dulu merchant yang ada di dalam ekosistemnya Lippo Group untuk masuk ke dalam platform.

Begitu platform dari merchant sudah mulai bergulir, kami langsung buka peluang ke berbagai merchant. Sebenarnya, pada awal juga kami terbuka, tidak ada konsep eksklusif yang artinya semuanya bisa bergabung.

Di mana posisi OVO dalam Lippo Group?

OVO itu sebenarnya independent company, dan kami punya manajemen yang terpisah. Shareholder kami juga tidak hanya Lippo. Dari luar melihatnya ownership kami Lippo. Sebenarnya tidak juga karena kami ada beberapa shareholder juga.

Setelah 8 bulan beroperasi, bagaimana perkembangannya sejauh ini?

Perkembangan sebenarnya lebih dari yang kami harapkan. Pada awalnya kami tidak tahu penerimaan masyarakat akan seperti apa, karena masalah kepercayaan. Dengan adanya mobile payment ini, artinya orang harus mempercayakan untuk menyimpan uangnya di platform kami.

Masyarakat juga punya perhatian terkait dengan masalah keamanan. Ternyata setelah kami luncurkan, sambutannya lebih dari yang kami harapkan. Sekarang yang sudah mengunduh aplikasi kami sudah lebih dari 10 juta pengguna.

Kami juga sudah bekerja sama dengan lebih dari 30.000 merchant, dan masyarakat bisa bertransaksi melalui OVO di sekitar 404 pusat perbelanjaan. Tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi sudah menyebar ke kawasan timur Indonesia.

Seberapa besar nilai transaksinya saat ini?

Dari sisi transaksi, berdasarkan volume amount, saya bisa bilang kami adalah the largest payment company di Indonesia. Volume transaksinya terus berkembang pesat, per bulan bisa mencapai ratusan miliar, hampir mencapai Rp1 triliun.

Kalau kami lihat, para pengguna itu transaksinya cukup besar, tidak hanya untuk transaksi online, tetapi juga transaksi offline misalnya untuk pembelian elektronik.

Apakah sebagian besar merchant mitra OVO merupakan milik Lippo Group?

Tidak. Sebagian besar mitra yang bekerja sama dengan kami justru di luar Lippo Group. Dari 404 pusat perbelanjaan yang bekerja sama dengan kami, yang dari Lippo hanya sekitar 60—70 mal.

Bagaimana Anda memosisikan OVO sebagai sebuah aplikasi yang menawarkan beragam fitur seperti e-payment, transaksi offline, dan transaksi lainnya?

Kami mau memosisikan OVO sebagai primary wallet para pengguna. Goal kami adalah OVO menjadi wallet online bagi masyarakat Indonesia. Mulai dari pengguna bangun tidur, hingga mau tidur lagi end-to-end selalu menggunakan OVO.

Ketika akan beraktivitas biasanya masyarakat akan menggunakan transportasi, baik kendaraan sendiri maupun yang memakai transportasi publik. Bagi yang pakai kendaraan sendiri, untuk pembayaran tol dalam beberapa bulan ke depan OVO bisa digunakan untuk membayar tol.

Kami juga sudah menjalin kemitraan dengan Grab, kami menjadi wallet-nya Grab. Ketika makan siang, pengguna juga bisa bertransaksi menggunakan OVO di sejumlah restoran. Selain itu, belanja kebutuhan sehari-hari pengguna juga bisa bertransaksi di sejumlah supermarket yang menjadi mitra kami.

Bagaimana detail skema kerja sama antara OVO dan Grab?

Dengan GrabPay kami kerja sama secara komersial dalam jangka pendek. Artinya bahwa pembayaran lewat aplikasi Grab itu melalui OVO. Kami sudah buat yang namanya single wallet, atau unified wallet. Dalam waktu dekat ini kami akan luncurkan unified wallet yang bisa dipakai di aplikasi OVO, dan wallet yang sama juga dipakai di aplikasinya Grab.

Jadi misalnya, pengguna top up saldo ke aplikasi OVO, uang itu muncul juga di aplikasi Grab. Uangnya yang mengelola adalah OVO. Dana yang ada di aplikasi itu dikelola oleh OVO, karena kami sebagai payment service provider (PSP).

Apa nilai lebih yang ditawarkan OVO kepada merchant?

Pertama, dengan menggunakan aplikasi OVO kendala-kendala peritel seperti penanganan uang tunai hingga uang pecahan kecil untuk kembalian, dan ancaman uang palsu bisa diatasi.

Kedua, kami buatkan sistem rekonsiliasinya dengan cepat. Begitu ada transaksi, pada hari yang sama uangnya bisa langsung masuk, sehingga cash flow-nya lancar.

Sebenarnya, yang paling menguntungkan bagi merchant ialah jumlah pengguna kami yang mencapai 10 juta, ditambah dengan Grab, kami punya pengguna yang banyak sekali. Banyaknya pengguna itu mendatangkan traffic yang bisa mendorong penjualan.

Dengan penambahan jumlah merchant, apakah transaksi pada tahun ini bisa meningkat signifikan?

To be honest kami agak susah menyebut target angkanya, karena perkembangannya terlalu cepat. Menurut saya, transaksi itu adalah hasilnya.

Untuk bisa mencapai transaksi, fokus kami adalah membuat merchant masuk ke dalam ekosistem kami. Dari sisi konsumen, kami juga buat sistemnya lebih mudah agar volume transaksi terus naik.

Menurut Anda apa tantangan terbesar bagi industri digital payment sejauh ini?

Kompetisi kami sekarang nomor satu justru dari cash, karena 90% masyarakat di Indonesia masih memilih bertransaksi menggunakan cash. Proposisi nilai kami kepada para pengguna adalah bagaimana kami membuat agar bertransaksi di OVO bisa senyaman mungkin, dan lebih gampang dari cash.

Itu memang tidak gampang, karena cash lebih gampang. Itu adalah tantangan kami untuk membuat transaksi jadi lebih mudah dan nyaman seperti halnya bertransaksi menggunakan cash.

Bagaimana Anda melihat persaingan pada digital payment sejauh ini?

Dari sisi pelaku usaha, yang saya coba dorong adalah kami bekerja sama bareng. Jangan saingan deh, karena ekosistem kami masih kecil. Buat apa kita taruh infrastruktur bertumpuk-tumpuk, malah lebih mahal biayanya.

Berkompetisi boleh saja, tetapi kenapa dari sisi infrastruktur kita tidak buat bareng-bareng saja?

Apa mimpi besar Anda terhadap OVO?

Mimpi besarnya adalah menjadi The number one payment and only self services di Indonesia. Apa maksudnya? Pertama, menjadi primary wallet atau online wallet agar di manapun dan kapanpun setiap orang bisa gunakan aplikasi OVO.

Kedua, sisi financial services ini kami ingin kembangkan. Jadi, kami bisa memberikan financial services product ke pelanggan-pelanggan kami.

Adakah rencana OVO memperluas pasar di luar Pulau Jawa?

Pasti kami akan terus memperluas pasar di luar Jawa. Kami melihat potensi pertumbuhan di luar Jawa besar sekali. Ekonomi Indonesia yang bergantung ke Jawa, dan Jakarta khususnya, semakin sedikit.

Artinya, ekonomi di luar Jawa pertumbuhannya lebih kencang dibandingkan dengan pertumbuhan di Jawa. Dengan pertumbuhan yang semakin kencang, kebutuhan orang untuk financial services product akan meningkat. Kami juga banyak menempatkan tim kami di luar Jawa.

BI akan melakukan standardisasi QR code, bagaimana tanggapan Anda?

Rencana kebijakan itu bagus, karena kalau setiap merchant harus menyediakan stiker QR code yang berbeda-beda untuk setiap perusahaan sulit juga. Dengan adanya standardisasi akan mempermudah semua.

Apakah berbagai regulasi sejauh ini sudah mendukung industri digital payment lebih berkembang?

Saya melihat pemerintah dan regulator di Indonesia sudah progresif. Mereka melihat bahwa program cashless society itu memang perlu didukung.

Dalam menyusun peraturan, mereka juga mendengarkan masukan dari industri. Jadi, dibutuhkan kerja sama untuk sama-sama menghasilkan ide-ide untuk mendorong pertumbuhan industri ini.

Saya lihat peraturan yang ada sekarang ini sudah oke. Jadi, hal-hal yang paling penting itu yang diatur. Artinya, tidak semuanya diatur, pelaku industri diberi keleluasaan untuk membedakan produknya.

Bagaimana terhadap anggapan fintech bisa mengancam perbankan?

Sebenarnya kita bisa saling melengkapi, karena fintech bukan bank, dan kami juga tidak mau menjadi bank. Untuk penyimpan dananya juga sudah diatur oleh BI.

Menurut saya itu perlu, karena dana ini adalah dana masyarakat. Kami juga tidak mau pemain fintech memakai dananya untuk kepentingan lain-lain, sehingga dana masyarakat hilang. Artinya, partnership antara fintech dan bank itu justru perlu diperkuat.

BIODATA

Nama: Adrian Suherman

Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 12 Mei 1973

Riwayat Pendidikan:

- Master of Business Administration, Corporate Strategy and Operations Management, INSEAD (2006)

- Master of Science, Electrical Engineering, Stanford University (1996—1997)

- Bachelor of Science, Computer Engineering, University of Arizona (1992—1995)

Riwayat Karier:

- Presiden Direktur PT Visionet Internasional/OVO (2016—Sekarang)

- Group CEO Lippo Group-Digital (2015—Sekarang)

- Komisaris MatahariMall.com (2015—Sekarang)

- CEO aCommerce (2014—2015)

- Wakil Presiden Direktur Telkomsel (2014—2015)

- Managing Director LivingSocial (2010—2012)

- Manager A.T. Kearney (20017—2010)

- Group Manager Oracle Corp (1998—2005)

- Software Engineer Sun Microsystems (1997)

- Researcher Sherikon Inc. (1995—1996)

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin 4 Juni 2018

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top