LPEI Raih Rp5,5 Triliun Sumber Pendanaan

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Eximbank berhasil memenuhi separuh target sumber pendanaan tahun ini, menysul diperolehnya pinjaman senilai Rp5,5 triliun dan US$1,2 miliar lewat penerbitan surat utang dan pinjaman pada semester I.
Dika Irawan | 13 Juli 2018 19:17 WIB
Indonesia Eximbank - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Eximbank berhasil memenuhi separuh target sumber pendanaan tahun ini, menysul diperolehnya pinjaman senilai Rp5,5 triliun dan US$1,2 miliar lewat penerbitan surat utang dan pinjaman pada semester I.

Pada tahun ini, Eximbank mematok target sumber pendanaan senilai Rp11 triliun dan US$ 1, 4 miliar. Hal ini untuk menyokong target pembiayaan ekspor perusahaan itu pada tahun ini sebesar Rp112 triliun. Target tersebut bertumbuh sekitar 11,6% dibandingkan realisasi pembiayaan yang mencapai Rp101 triliun pada akhir tahun lalu.

Direktur Pelaksana Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Raharjo Adisusanto mengatakan, pada awal tahun ini pihaknya sempat mematok target sumber pendanaan senilai Rp9 triliun. Namun, berubah seiring penyesuaian ekspansi kredit, sehingga meningkat menjadi Rp11 triliun.

“Untuk [penandaan] rupiah kami rencana ekspansi di awal tahun kan Rp5 triliun. Untuk ekspansi kredit yang jatuh tempo obligasi di tahun ini yaitu sekitar Rp6 triliun,” ujarnya saat ditemui Bisnis di kantornya, Jakarta, Kamis (12/7).

Dari target pendanaan itu baru diperoleh dana senilai Rp5,5 triliun. Terkait pinjaman ini, Raharjo mengatakan, berasal dari penerbitan dua obligasi pada semester I/2018. Penerbitan obligasi pertama pada Februari lalu diperoleh Rp2,3 triliun. “Waktu itu [obligasinya] berarti PUB [Penerbitan Umum Berkelanjutan] III tahap VI],” ujarnya.

Kemudian, penerbitan obligasi tahap dua pada Juni lalu diperoleh pinjaman sebesar Rp3,2 triliun. Untuk obligasi tahap dua ini, ujar Raharjo, terdiri atas dua jenis yaitu, obligasi konvensional sebesar Rp2,7 triliun dan sukuk Rp500 miliar. Untuk tenor obligasi berdurasi 3,5 dan 7 tahun. Adapun sukuk bertenor 1 dan 3 tahun.

“Obligasi konvensional itu PUB IV tahap I karena PUB III sudah habis,” katanya.

Setelah ini, lanjut Raharjo, pada semester II/2018 pihaknya berencana memenuhi sisa kebutuhan sumber pendanaan dengan penerbitan obligasi. Minimal satu atau dua kali penerbitan surat utang senilai Rp4-5 triliun. Namun, kata Raharjo, hal ini menyesuaikan dengan ekspansi kredit di sisi aset.

Sementara itu, untuk pendanaan berdenominasi dolar, Raharjo menjelaskan, LPEI pada awal tahun membutuhkan dana senilai US$ 400 juta guna ekspansi. Di saat yang sama, pihaknya juga memiliki kewajiban pembayaran jatuh tempo pinjaman sindikasi pada tahun ini senilai US$ 950 juta. Bila ditotal kebutuhan sumber pendanaan ini senilai US$1,4 miliar.

“Pinjaman-pinjaman itu jatuh temponya tahun ini,” ujarnya.

Untuk kebutuhan pendanaan dolar ini, lanjut Raharjo, LPEI telah mengantongi pinjaman sindikasi dari sejumlah bank senilai US$1,2 miliar pada Juni lalu.

Dia mengungkapkan, pinjaman ini telah ditandatangani perjanjian sindikasi dengan tujuh MLAB (Mandated Lead Arranger) sebesar US$ 950 juta. Terdiri atas tiga tenor yaitu, 1,3 dan 5 tahun. Mengingat besarnya minat dari kreditur, sambungnya, saat ini sedang dilakukan proses up-sizing sebesar US$ 200 juta.

“Untuk sisanya US$200 juta, gampang nanti di semester II. [Terpenting] kami sudah dapat duluan [pinjaman] sudah aman bagi saya. Tinggal sedikit,” ujarnya.

Tag : lpei
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top