Logika di Balik Barang Branded, Gengsi atau Investasi?

Kebanyakan luxury fashion brands bercokol dari Benua Eropa dan Amerika. Namun, harus diakui, konsumen terbesar dari barang-barang fesyen bermerek berasal dari Benua Asia. Bahkan, industri produk fashion mewah di Asia mengalami perkembangan paling pesat.
Asteria Desi Kartika Sari | 03 Agustus 2018 17:35 WIB
Tas Birkin terbuat dari kulit buaya Himalaya dari rumah mode Hermes - Reuters

Status sosial menjadi hal yang penting bagi sebagian orang, bahkan dianggap terlalu penting sehingga tak lagi masuk akal.

Status sosial tersebut bisa ditunjukan dengan penampilan, dengan busana yang dipakai, sepatu, tas, perhiasan dan lainnya. Maka tak heran banyak yang rela merogoh kocek sedalam-dalamnya untuk mendapatkan barang-barang bermerek.

Tidak aneh lagi, sebagian orang terobsesi untuk menjadi orang kaya atau memiliki teman-teman orang kaya untuk memudahkan hidup mereka. Lantas apakah kebiasaan tersebut bisa menjadi investasi jangka panjang? Pasalnya, uang yang digunakan untuk membeli barang itu tidak sedikit, akan lebih baik apabila uang tersebut diinvestasikan untuk masa depan.

Budi Raharjo dari layanan rencana keuangan profesional OneShildt mengatakan, sebenarnya yang perlu diperhatikan saat membeli suatu barang adalah tujuan apakah untuk memenuhi kebutuhan atau alasan memenuhi keinginan.

“Sah-sah saja membeli produk branded, karena umumnya barang branded memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan barang lainnya. Misalnya dari sisi material, style, kontrol kualitas serta umur produk,” jelas Budi.

Menurutnya, membeli barang bermerek bisa menghemat jika memenuhi kriteria serta waktu yang tepat. Selain itu, bagi beberapa profesi membeli barang branded bisa dimasukan kategori investasi karena menimbulkan kesan terpercaya serta meningkatkan kepercayaan diri bagi pemiliknya, dan memudahkan dalam bisnis seperti membina relasi dengan klien.

“Jika ternyata membeli barang branded hanya sekadar untuk memenuhi gengsi, maka hal ini dapat menjadi pemborosan karena tidak berhubungan langsung dengan penghasilan,” lanjutnya.

Double Sens 36 bag dari Hermes seharga $30,400 atau setara Rp440,37 juta (dengan kurs Rp14.486/US$)

Double Sens 36 bag dari Hermes seharga $30,400 atau setara Rp440,37 juta (dengan kurs Rp14.486/US$)

Bahkan, lanjutnya kebanyakan barang branded adalah barang konsumsi yang tentu saja nilainya akan menurun sesuai dengan usia pakai. Hanya barang-barang tertentu saja yang setiap tahun nilainya bisa naik.

Namun, bukan berarti barang tersebut akan naik di tahun berikutnya. “Misalnya baru akan naik setelah sepuluh tahun kemudian. Jangan terlalu berharap barang branded yang dibeli akan naik nilainya,” katanya.

Biasanya, lanjutnya, barang branded akan naik nilainya jika diproduksi dalam edisi khusus yang jumlahnya terbatas dan didesain oleh rumah desain atau desainer terkemuka. Barang tersebut akan naik karena ada fans atau peminat. Nantinya, para fans atau peminat koleksi tersebut yang mengetahui secara persis berapa nilai dari barang-barang itu dibandingkan dengan orang awam pada umumnya.

Kendati demikian, menurutnya sangat sulit memprediksi imbal hasil dari barang-barang koleksi branded. Faktor yang yang mempengaruhi imbal hasil yakni, pertama, dari persepsi masyarakat terhadap brand.

Kedua, dari produknya sendiri yang memang dari awal dibuat dengan harga mahal dan edisi terbatas. Ketiga, kualitas serta desain yang unik dan mewakili suatu gaya pada periode tertentu. Keempat, jumlah orang yang memahami dan bisa respect terhadap barang tersebut.

Dia mengatakan, saat ekonomi membaik umumnya komunitas pengguna barang branded akan bertambah banyak. “Tren naik dan turunnya jumlah peminat akan bergantung kepada tingkat sosio-ekonomi negara itu,” katanya.

Artinya, semakin sejahtera dan pendidikan masyarakatnya semakin baik, maka keinginan untuk meningkatkan kualitas barang-barang yang dimiliki akan semakin meningkat. Selain itu, apresiasi terhadap nilai intrinsik dari sisi historis, keindahan dan sebagainya akan semakin baik pula.

Kebanyakan luxury fashion brands bercokol dari Benua Eropa dan Amerika. Namun, harus diakui, konsumen terbesar dari barang-barang fesyen bermerek berasal dari Benua Asia. Bahkan, industri produk fashion mewah di Asia mengalami perkembangan paling pesat.

Tak luput dari tren, Indonesia pun memiliki ekosistem produk fesyen mewah yang solid. Preferensi konsumennya pun bergeser. Kalau dulu banyak orang Indonesia memburu barang bermerek preloved (bekas), kini mereka semakin mampu membeli yang baru.

 

BELI ONLINE

Permintaan akan barang baru dari merek prestisius (blue-chip brands) meroket dari tahun ke tahun, khususnya di tataran e-commerce. Tahun lalu, total transaksi barang branded naik 37% dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan total pembelanjaannya melesat 50%.

Tren konsumsi barang-barang bermerek dengan harga fantastis itu terungkap dalam laporan Asia Luxury Index 2016 yang dilansir Reebonz, situs belanja online terbesar di Asia khusus untuk segmen produk fesyen prestisius.  

Senior Marketing Manager Reebonz Indonesia Bernard Widjaja Ng menjelaskan segmentasi produk fesyen mewah di Asia, termasuk Indonesia, telah berevolusi dan tidak lagi hanya diminati oleh segelintir kalangan.

Di pasar Asia, salah satu blue-chip brands yang masih menjadi primadona adalah Chanel. Namun, belakangan ini konsumen mulai keranjingan produk-produk mewah dari label cult seperti Givenchy, Burberry, Valentino Garavani, Balenciaga, Saint Laurent, dan Tory Burch.

“Belakangan ini, orang-orang cenderung mengabaikan popularitas brand demi kualitas dan eksklusivitas. Meskipun demikian, Chanel masih mempertahankan statusnya sebagai yang tereksklusif. Sehingga, konsumen yang mendambakan naik ke level puncak hirarki produk mewah merasa tetap perlu memiliki Chanel dalam koleksinya,” kata Bernard di Jakarta.

Selain Chanel, merek yang diakui sebagai blue chip dan masih sangat diburu bahkan hingga barang bekasnya a.l. Prada dan Hermes. Mereka adalah merek-merek yang berhasil menanamkan citra dan nilai brand ke dalam gaya hidup masyarakat elite.

Lembaga riset tren fesyen WGSN mengungkapkan perilaku konsumen barang fesyen mewah di Asia telah bergeser dari generasi terdahulu. Dulu, konsumen barang mewah cenderung mencari pengalaman unik dalam berbelanja dan berburu produk.

Namun, generasi baru pecinta barang branded lebih memilih membeli barang secara online atau mencari tahu lebih dalam tentang merek-merek elit baru, di luar blue-chip brands yang sudah mapan selama berdekade-dekade.

“Ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi konsumen, yang mempertanyakan kembali makna dari sebuah produk fesyen mewah yang sejak lama menjadi indikator status sosial dan ekonomi,” ungkap Senior Editor WGSN Erica Ng.

Tag : wealth management
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top