Fintech Bakal Tumbuh Berbanding Lurus dengan Perbankan

Studi terbaru Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan pertumbuhan industri fintech bakal berbanding lurus dengan pertumbuhan industri perbankan.
Nindya Aldila | 28 Agustus 2018 20:15 WIB
Perkembangan industri fintech (financial teknologi) atau teknologi finansi (tekfin) di Indonesia 2016 hingga 2018. - Bisnis/Ilham Nesaba

Bisnis.com JAKARTA - Studi terbaru Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan pertumbuhan industri fintech bakal berbanding lurus dengan pertumbuhan industri perbankan.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan pesatnya pertumbuhan fintech terutama peer-to-peer (P2P) lending akan meningkatkan PDB sektor jasa keuangan perbankan 0,8% secara tahunan atau sekitar Rp1,5 triliun.

Pernyataan tersebut sesuai dengan temuan Indef dan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) dari studi yang berjudul Peran Fintech Lending dalam Ekonomi Indonesia.

“Namun memang tidak terlalu signifikan karena ini masih tahap awal. Tahun depan bisa lebih meningkat lagi,” katanya, Selasa (28/8).

Berdasarkan data World Bank pada 2015, rasio penyaluran kredit terhadap PDB masih 39,1%. Menurut Bhima, angka tersebut tidak berbeda jauh pada saat ini yang hanya sekitar 40%.

Porsi kredit UMKM terhadap total kredit stagnan di kisaran 20%-22%. Di sisi lain, hanya ada setengah penduduk dewasa yang memiliki rekening di bank. Dengan demikian, tingkat penetrasi bank dalam pelayanan kredit masih sangat rendah.

“Layanan fintech berhasil menjangkau sektor-sektor yang saat ini belum tersentuh oleh penyedia layanan keuangan yang ada seperti perbankan. Jadi, riset ini bukti bahwa fintech tidak menggeser fungsi bank, melainkan menjadi komplementer,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Aftech Ajisatria Suleiman. Menurutnya, saat ini jumlah fintech yang bekerja sama dengan perbankan semakin banyak, terutama meningkatkan peran perbankan sebagai institutional lender.

Aji mengungkapkan, pola kerja bank dan individu sebagai lender berbeda. Individu akan mempertimbangkan banyak hal dalam menempatkan dananya. Namun, perbankan sudah memiliki tim yang handal untuk mengkalkulasi keuntungan dan kerugian dalam berinvestasi. 

“Dengan adanya fintech, industri perbankan naik juga. Ini mematahkan mitos bahwa fintech mematikan bisnis perbankan. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat bahwa fintech punya potensi membantu perekonomian Indonesia,” tuturnya.

VP of Product PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) Aria Widyanto mengatakan perbankan pasti melakukan analisis yang ketat dalam menyeleksi fintech yang hendak diajak bermitra.

Salah satu yang menjadi pertimbangannya adalah kecakapan perusahaan dalam melakukan mitigasi risiko. Kedua, kualitas segmen peminjam. “Jika dipakai untuk modal usaha maka risikonya lebih rendah sehingga lebih aman,” tuturnya. Ketiga, bank akan mempertimbangkan segi profesionalisme manajemen penyelenggara.

Belum lama ini, Amartha telah menjalin kerja sama dengan Bank Mandiri dengan nilai plafon Rp50 miliar -- Rp100 miliar. Adapun jangka waktunya sampai kuartal I/2019. Hingga saat ini, Amartha telah menyalurkan Rp518,3 miliar kepada 125.000 pelaku usaha perempuan di sektor uktra mikro.

Tag : fintech
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top