BISNIS STARTUP: Agar Tak Sekadar Ikut Tren

Di Indonesia sendiri ada tiga startup ‘unicorn’ dengan tokoh kunci masing-masing, seperti CEO Tokopedia William Tanuwijaya, CEO Gojek Nadiem Makarim, dan Founder Traveloka Ferry Unardi. Ketiganya menyandang gelar ‘bos’ dengan valuasi perusahaan rintisannya mencapai di atas US$1 miliar.
Asteria Desi Kartika Sari | 25 September 2018 00:00 WIB
CEO Gojek Nadiem Makarim. - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan rintisan alias startup memang menjadi tren di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Kisah sukses datang dari berbagai tokoh milenial seperti CEO Facebook Mark Zuckerberg, CEO Snap Inc dan kreator Snapchat Evan Spiegel, CEO WhatsApp Jan Koum, dan CEO Tumblr David Karp.

Fenomena ini lantas menjadi kisah kesuksesan yang sangat menggiurkan bagi banyak milenial yang kini beramai-ramai ingin mendirikan startup dan sukses di usia muda.

Di Indonesia sendiri ada tiga startup ‘unicorn’ dengan tokoh kunci masing-masing, seperti CEO Tokopedia William Tanuwijaya, CEO Gojek Nadiem Makarim, dan Founder Traveloka Ferry Unardi. Ketiganya menyandang gelar ‘bos’ dengan valuasi perusahaan rintisannya mencapai di atas US$1 miliar.

Tak dapat dipungkiri berbagai perusahaan rintisan berbasis aplikasi dan digital yang digawangi oleh kelompok milenial mampu menjembatani gap keterbatasan akses teknologi dan informasi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Kendati begitu, membangun perusahaan rintisan tentu bukanlah perkara yang mudah. Independent wealth management advisor FX Iwan mengatakan, milenial sebagai generasi yang mendominasi dalam pembagian kue bisnis rintisan ini memiliki karakter yang unik.

Iwan menilai milenial sering kali terlalu fokus dan berorientasi pada inovasi untuk membangun produk pasar, sehingga tak jarang melupakan urusan finansial. Padahal, urusan perencanaan keuangan merupakan salah satu elemen penting yang dilakukan sejak awal startup berdiri.

Pengelolaan finansial yang baik akan berdampak pada keberlanjutan bisnis startup. Bahkan, ada anggapan bahwa startup dibuat hanya mengikuti tren, tidak berangkat dari permasalahan yang ada.

Mereka seringkali terlalu fokus dan berorientasi pada inovasi untuk membangun produk dan pasar sehingga tak jarang melupakan urusan finansial. “Penganggaran merupakan salah satu elemen yang penting dilakukan sejak awal startup berdiri dan pengelolaan finansial yang baik akan berdampak pada keberlanjutan bisnis startup,” ujar Iwan.

Dia mengatakan Amerika tercatat masih mendominasi besaran investasi karena memiliki kiblat startup global seperti Silicon Valley yang mencetak nama perusahaan teknologi tersohor seperti Google dan Apple. Tak kalah, Asia menjadi wilayah yang menduduki porsi terbesar kedua dalam angka investasi startup dengan total US$225 miliar.

“Hal ini tentunya membawa angin segar bagi para pelaku startup di Indonesia, terlebih Indonesia merupakan wilayah dengan pertumbuhan valuasi paling tinggi,” katanya.

Hasil tersebut juga tercermin dalam hasil riset Google Indonesia dan AT Kearney, hingga saat ini porsi layanan startup masih didominasi oleh dua industri utama yaitu e-commerce yang mencapai 58% dan transportasi 38%. Meski begitu, jumlah aliran modal dari investor untuk startup-startup kategori lain nilainya kian meningkat.

Salah satu contoh, investasi besar di kategori lain dalam beberapa tahun ke belakang yang biasanya di angka US$500 juta, kini sudah bisa menembus angka US$1 miliar untuk sekali investasi.

“Tingginya minat para venture capitalist dalam membelanjakan investasi bagi startup diprediksi akan menjadi tren dengan nilai investasi yang semakin tak terbayangkan,”lanjutnya.

Lantas, katanya, banjir modal yang dihadapi oleh para startup Indonesia ini menjadi tantangan yang cukup krusial dalam strategi pengembangan sebuah perusahaan rintisan.

Pasalnya faktor pengelolaan finansial menjadi kunci dalam kesuksesan perusahaan. Oleh karena itu, dia menyarankan milenial harus semakin pintar dan jeli dalam mengelola finansial perusahaan.

Iwan yang juga sebagai Co-Founder and Managing Partner Jagartha Avisors melanjutkan saat ini para pelaku startup dituntut siap mengelola dana perusahaan sesuai dengan skala prioritas. Hal tersebut demi memastikan startup memiliki kemampuan finansial yang berkelanjutan sejak dini. Apalagi bagi baby startup yang masih memiliki akses permodalan terbatas.

 

FASE PENDANAAN

Menurutnya, dalam proses fase pendanaan ada beberapa yang harus diperhatikan antara lain:

Pertama, jangan terpaku pada persentase kepemilikan. Memiliki persentase terbesar kepemilikan perusahaan tentu menjadi cita- cita sebagian besar para founder startup. Namun, sebagai perusahaan rintisan pasti memerlukan dukungan pihak luar untuk mengembangkan bisnisnya.

Dia memaparkan kehadiran investor yang tepat dapat menjadi peluang besar bagi startup untuk memaksimalkan keberlanjutan bisnisnya, termasuk ekspansi pasar, memperkuat human resources, memperluas jaringan, dan lainnya. “Tidak selalu menjadikan persentase kepemilikan perusahaan sebagai prioritas dalam mengembangkan bisnis,” lanjutnya.

Kedua, matangkan tolok ukur. Layaknya pada perusahaan umumnya, startup juga membutuhkan waktu untuk mengembangkan bisnis dan memiliki target pertumbuhan. Tolok ukur yang realistis akan membatu startup menjadi bernilai di mata investor.

Tolok ukur yang dimiliki startup akan menjadi panduan bagi investor dalam menilai pencapaian dan kemajuan startup.

Ketiga, pahami keterlibatan investor. Startup dituntut untuk dapat memahami terlebih dahulu sejauh apa keterlibatan investor dalam bisnisnya kelak. Dalam investasi, terdapat beberapa pendekatan yang sering digunakan oleh para investor. Misalnya, mengadopsi filosofi investasi tranche atau bagian atau potongan.

Investor tersebut menginvestasikan jumlah tertentu dan merilis dana tersebut secara bertahap karena perusahaan telah mencapai target yang telah ditentukan sebelumnya. Pendekatan ini membuat investor tersebut secara aktif terlibat dalam setiap investasi dan berdedikasi untuk membantu para founder startup mencapai tujuan mereka.

Beberapa investor juga ada yang mengadopsi metode one-and-done, mereka menginvestasikan semua uang di muka. Meskipun metode pertama tampak lebih menarik, namun jenis struktur dana biasanya datang dengan nilai valuasi yang lebih ramping dan parameter yang lebih ketat dalam hal pengembalian moda dan pembagian keuntungan.

Sementara itu, Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Fadjar Hutomo menambahkan ada beberapa tantangan yang dihadapi startup di Indonesia. Industri digital membutuhkan talenta yang memahami permasalah industri, sistem insentif untuk angle atau sumber permodalan yang sustainable dengan startup development stage-nya, dan mentoring dan incubating.

“Tapi yang paling signifikan adalah kualitas dari founder-nya itu sendiri. Harus memiliki mental atau adversity quotient yang tinggi atau tanggung,” katanya

Dia mengatakan umumnya, sebuah startup dimulai dengan menggunakan modal pendirinya, kemudian mereka mencari angel investor. Setelah itu, startup yang beruntung bisa mendapatkan modal dari venture capital.

Sumber pendanaan untuk membantu pembiayaan industri ekonomi kreatif biasanya datang dari dana perbankan, karena 90% lebih dana masyarakat tersimpan di sana. Namun, perbankan tidak dapat memberikan modal pada bisnis yang berisiko terlalu tinggi seperti startup.

Agar pendirian startup tak hanya sekadar mengikuti tren belaka, Bekraf menggagas program “Bekraf for Pre-Startup” atau Bekup dengan tujuan mendukung dan mendampingi calon pendiri perusahaan rintisan.

Melalui program pendampingan dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan, program Bekup diharapkan dapat meminimalisir risiko kegagalan pada tahap awal dan dapat mencetak pelaku startup digital dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.

Pada 2018 ini merupakan tahun ketiga Program Bekup dilaksanakan. Kini, program dijalankan dengan sistem yang lebih fokus pada penguatan karakter tim dan ide yang solutif.

Tag : StartUp
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top