BI: Sistem Keuangan Indonesia Terjaga Stabil

Bisnis.com, JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 26-27 September 2018 menyimpulkan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, disertai intermediasi perbankan yang membaik serta risiko kredit yang terjaga.
Ipak Ayu H Nurcaya | 27 September 2018 15:36 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (27/9/2018). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 26-27 September 2018 menyimpulkan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, disertai intermediasi perbankan yang membaik serta risiko kredit yang terjaga. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, stabilitas sistem keuangan yang terjaga tercermin pada rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan yang tinggi mencapai 22,5% dan rasio likuiditas yang masih aman yaitu sebesar 19,8% pada Juli 2018.

Selain itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tetap rendah yaitu sebesar 2,7% gross atau 1,3% net. Stabilitas sistem keuangan yang terjaga berkontribusi positif pada perbaikan fungsi intermediasi perbankan. Pertumbuhan kredit pada Juli 2018 tercatat sebesar 11,3% yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 10,8% yoy. 

Adapun pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Juli 2018 terjaga sebesar 6,9% yoy. Pada bulan sebelumnya, pertumbuhan DPK tercatat sebesar 7,0% yoy. 

Sementara pada nonbank, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, melalui initial public offering (IPO) dan rights issue, obligasi korporasi, nedium term notes (MTN), dan negotiable certificate of deposit (NCD) selama Januari sampai dengan Juli 2018 tercatat sebesar Rp133,2 triliun gross, turun dibandingkan dengan periode yang sama 2017 sebesar Rp163,9 triliun.

"Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2018 masih berada dalam kisaran proyeksi 10%-12% yoy, meningkat dari pertumbuhan tahun 2017 sebesar 8,2% yoy," kata Perry, Kamis (27/9/2018).

Adapun pertumbuhan DPK diperkirakan akan mengalami pelambatan dibandingkan dengan capaian 2017 sebesar 9,4% yoy namun masih berada dalam kisaran 8,0%-10,0% yoy. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap memantau dan memastikan kecukupan likuiditas guna mendukung stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu, perkembangan ekonomi yang tetap positif didukung oleh Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SPPUR) yang aman, efisien, lancar, dan andal.  Pada Agustus 2018, operasional sistem pembayaran tetap berlangsung lancar.

Selain itu, beberapa transaksi di Sistem Pembayaran baik tunai maupun nontunai juga meningkat sejalan kegiatan ekonomi. Hal itu tercermin pada transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang meningkat 9,48% yoy pada Agustus 2018 dan nontunai ritel sistem pembayaran atau ATM-debit, kartu kredit dan uang elektronik meningkat 13,6% yoy pada Juli 2018.

Untuk pembayaran tunai atau Pengelolaan Uang Rupiah, posisi uang yang diedarkan (UYD) meningkat 10,2% yoy sejalan dengan kebutuhan transaksi masyarakat dan pola musimannya. Untuk itu, Bank Sentral memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 5,00%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. 

Tag : bank indonesia
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top