Ini Dia Instrumen Investasi Bagi Keluarga Muda

Pengelolaan keuangan jangka panjang itu tidak hanya sebatas bagaimana cara mengatur alokasi pendapatan dan pengeluaran, melainkan juga tahu cara menginvestasikan uang.
Asteria Desi Kartika Sari | 15 Oktober 2018 00:12 WIB

Awal pernikahan bisa dibilang menjadi masa penting dalam pembangunan fondasi keuangan keluarga. Persiapan menjadi kunci penting keberlanjutan rumah tangga karena semakin lama kebutuhan akan semakin banyak dan kompleks.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan rumah tangga itu maka perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang mumpuni, agar kelak tidak mengakibatkan krisis keuangan keluarga.

Pengelolaan keuangan jangka panjang itu tidak hanya sebatas bagaimana cara mengatur alokasi pendapatan dan pengeluaran, melainkan juga tahu cara menginvestasikan uang.

Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo mengatakan ada beberapa karakteristik investasi yang dibutuhkan oleh keluarga baru. Misalnya saja untuk biaya pendidikan anak, membeli aset dan persiapan hari tua atau pensiun.

Selain itu, lanjutnya, jenis investasi yang dipilih harus mudah dilakukan serta dapat memberikan imbal hasil yang lebih baik dari sekadar menempatkan uang di tabungan atau deposito. “Karakteristik ini masih diperlukan karena masih banyak kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang,” kata Budi.

Tak kalah penting, lanjut Budi, produk yang dipilih harus mampu membantu keluarga muda disiplin menabung dan cukup fleksibel apabila sewaktu-waktu uang itu dibutuhkan.

Jadi, karakteristik umum dari produk yang sesuai untuk keluarga muda adalah yang dapat dimulai dengan nominal kecil atau sesuai dengan kemampuan. Selain itu, produk yang pas adalah yang menyediakan likuiditas memadai agar mudah dicairkan.

Ini Alasan Kenapa Hamil di Masa Remaja Itu Berbahaya

Dengan karakter tersebut, menurut Budi, instrumen investasi yang direkomendasikan seperti reksa dana, baik reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham atau campuran. “Tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko dalam berinvestasi,” katanya.

Alternatif lainnya, keluarga muda bisa juga memilik intrumen investasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sukuk ritel dan saving bond ritel. Budi menilai intrumen tersebut tidak kalah menarik bagi investor pemula.

Agar tak salah pilih, hal pertama yang perlu ditentukan adalah tujuan investasi apakah untuk mempersiapkan dana pendidikan, mempersiapkan dana untuk membeli aset, atau persiapan hari tua.

Hal itu penting untuk menyusun risiko portofolio yang sesuai atau risiko yang tidak sanggup diterima. Risk profiling merupakan serangkaian pertanyaan untuk menentukan kategori karakter dalam berinvestasi.

“Setelah itu baru menghitung berapa nilai investasi yang diperlukan secara rutin untuk mencapai setiap tujuan keuangan dan kapasitas keuangan,” ujarnya.

Ruben Onsu Gugat Merek Bensu Punya Warga Bandung

Guna menjawab hal tersebut, metode aset alokasi strategis adalah cara strategis yang paling memungkinkan untuk memulai investasi bagi keluarga baru. Misalnya, membagi-bagi investasi dalam beberapa keranjang investasi sesuai dengan karakter, jangka waktu, pengetahuan yang dimiliki investor, serta ekspektasi imbal hasil yang realistis.

“Sebaiknya hal ini dikonsultasikan dengan konsultan atau penasehat keuangan,” tambah Budi.

Dia melanjutkan, kesalahan yang seringkali dilakukan adalah memilih investasi tanpa perencanaan atau hanya sekadar ikut-ikutan tren tanpa memahami potensi keuntungan serta risiko. “Setiap investor harus mempelajari instrumen investasi yang akan dia pilih dan masukkan dalam portofolionya,” jelasnya.

IBARAT KENDARAAN

Perencana keuangan Irshad Wicaksono Ma’ruf menambahkan produk investasi ibarat kendaraan. Jadi, menentukan tujuan dan waktu adalah hal yang harus dilakukan supaya dapat bergerak.

“Tidak perlu takut dalam berinvestasi kalau sudah tahu tujuannya apa, kapan mau diambil, dan paham produk, serta konsisten dalam berinvestasi,” kata Irshad.

Kendati begitu, jangan lupa fondasi keuangan seperti asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, serta dana darurat untuk berjaga-jaga selama 3 hingga 6 bulan ke depan. “Miliki minimal asuransi jiwa dan kesehatan. Tujuannya untuk meminimalkan kerugian keuangan bila terjadi risiko, serta tidak menggaggu keuangan masa depan,” ujarnya.

Untuk merencanakan keuangan bagi keluarga, sebaiknya didiskusikan dengan pasangan supaya dapat saling mendukung.

Dia menambahkan, mulailah membedakan kebutuhan kebutuhan dengan keinginan. “Tidak sedikit orang gagal mempersiapkan keuangan masa depan karena konsumtif.”

Tag : tips keuangan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top