Asuransi Generali Pacu Premi pada Akhir Tahun

Asuransi Jiwa Generali Indonesia optimistis dapat membukukan pertumbuhan positif pada akhir 2018, kendati pendapatan premi hingga kuartal III/2018 tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 
Azizah Nur Alfi | 09 November 2018 16:20 WIB
Ilustrasi asuransi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia optimistis dapat membukukan pertumbuhan positif pada akhir 2018, kendati pendapatan premi hingga kuartal III/2018 tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Laporan keuangan konvensional per 30 September 2018 menunjukkan pendapatan premi sebesar Rp2,14 triliun atau turun 7,27% year on year. Sementara itu, perusahaan mencatatkan klaim dan manfaat yang dibayar sebesar Rp463,85 miliar atau meningkat 19,87% year on year. Namun, laba sebelum pajak tercatat tumbuh 86,27% year on year atau menjadi Rp109,07 miliar. 

Product Development and Marketing Group Head Generali Indonesia Vivin Arbianti Gautama menjelaskan, penurunan pendapatan premi terjadi karena adanya perubahan fokus bisnis kami dari single premium ke regular premium. Komposisi single premium yang semula sebesar 40% menjadi 25%. 

Adapun, regular premium yang semula 60% menjadi 75%. Kendati secara total pendapatan premi menurun, tetapi kondisi ini lebih sehat bagi perusahaan karena adanya keberlangsungan pendapatan. 

Kondisi ini juga yang mendorong pertumbuhan laba pada kuartal ini tumbuh positif. Dengan melihat kondisi tersebut, perseroan meyakini  pertumbuhan Generali akan tetap positif hingga akhir tahun ini.

Dia menerangkan, perseroan berkomitmen untuk terus menghadirkan produk dan layanan inovatif yang didukung oleh 3 saluran distribusi yakni agency, bancassurance, dan kelompok.

"Generali optimis akan menutup tahun ini dengan pertumbuhan yang baik. Pada tahun depan, Generali juga terus berinovasi yang mampu mendorong pertumbuhan," katanya pada Jumat (9/11/2018). 

Vivin menambahkan, perseroan optimistis pendapatan premi tumbuh positif pada akhir tahun ini. Hal ini didorong produktivitas agen yang meningkat di akhir tahun. 

"Tahun depan, walaupun tahun politik, orang tetap saja butuh asuransi. 
Maka, strategi kami shifting ke regular premi lebih affordable. Dan tentu saja lebih sehat bagi perusahaan," katanya. 

Berdasarkan laporang keuangan perusahaan per Desember 2017, premi bruto tumbuh 20,57% yoy atau menjadi Rp3,19 triliun. 

Tag : asuransi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top