BUMN Optimistis Pembayaran Akhir Tahun Bakal Dongkrak Laba

Perseroan pelat merah masih harus mengejar perolehan laba bersih yang dibidik pada tahun ini sejalan dengan realisasi hingga September 2018 yang masih di bawah target tahun ini.
M. Nurhadi Pratomo | 05 Desember 2018 08:09 WIB
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) bersama Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) mengikuti rapat terbatas tentang percepatan pelaksanaan divestasi PT Freeport Indonesia di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (29/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

 
Bisnis.com, JAKARTA— Perseroan pelat merah masih harus mengejar perolehan laba bersih yang dibidik pada tahun ini sejalan dengan realisasi hingga September 2018 yang masih di bawah target tahun ini.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, total pendapatan seluruh perseroan pelat merah mencapai Rp1.693 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 72,59% dari target sekitar Rp2.232 triliun yang dipasang tahun ini.

Adapun, laba bersih total BUMN baru mencapai Rp79 triliun. Nilai tersebut setara dengan 36,23% dari target sekitar Rp218 triliun pada 2018.

Kendati demikian, total aset yang dimiliki oleh perseroan pelat merah tercatat naik sekitar Rp500 triliun dari posisi akhir 2017. Total aset BUMN naik dari Rp7.210 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp7.718 triliun per 30 September 2018.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro mengklaim bahwa laba perseroan pelat merah masih tumbuh hingga kuartal III/2018. Pihaknya menampik bahwa realisasi sampai dengan September 2018 masih terbilang kecil.

Aloysius mengatakan data realisasi yang ada saat ini belum memberikan gambaran 1 tahun penuh. Menurutnya, tidak dapat dikatakan secara linear bahwa realisasi masih rendah.

“Kata siapa tidak bisa mencapai? bisa mencapai [target],” ujarnya dalam paparan di Kementerian BUMN, Selasa (4/12/2018).

Dia menyebut banyak tagihan atau pembayaran yang akan masuk pada akhir tahun. Di sektor konstruksi misalnya, pembayaran mulai masuk ketika progres telah berjalan sehingga pendapatan akan naik.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, sejumlah emiten BUMN konstruksi memproyeksikan sejumlah kontrak besar akan masuk pada kuartal IV/2018. Dengan demikian, masuknya pekerjaan baru tersebut diyakini akan menjaga pertumbuhan perseroan.

Selain itu, kontraktor yang mengerjakan proyek-proyek turn key akan menerima pembayaran dari sejumlah proyek yang rampung pada 2018. Masuknya dana segar tersebut diyakini akan mengerek keuangan perseroan.

Direktur Keuangan dan Pengelolaan Kapital Manusia PT PP (Persero) Tbk. misalnya mengatakan pihaknya masih memiliki proyek-proyek dengan nilai besar yang akan menopang pertumbuhan pendapatan pada dua bulan terakhir 2018. Pekerjaan tersebut di antaranya Kalibaru dengan nilai Rp3 trilun, Makassar New Port senilai Rp2,5 triliun, power plant di Papua senilai Rp1,5 triliun, dan sejumlah jalan tol.

“Penjualan masih bisa tumbuh 15% dan laba bersih 10%-12%,” tuturnya.

Di sisi lain, Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. menyatakan optimistis perseroan masih mampu menjaga kinerja keuangan hingga akhir 2018. Pihaknya mengklaim order book atau kontrak dihadapi yang dimiliki mampu menopang kinerja sampai dengan pengujung tahun ini.

Sementara itu, Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto memproyeksikan perseroan pelat merah akan mengebut pencapaian keuangan pada kuartal III/2018 dan kuartal IV/2018. Hal tersebut sejalan dengan karakter beberapa proyek yang bersifat jangka panjang ataupun siklikal.

“Sehingga realisasi penyelesaian proyek ataupun pengakuan pendapatan dan laba bersih terjadi pada akhir tahun,” jelasnya.

Toto menilai bahwa secara umum situasi ekonomi dan bisnis domestik maupun global tahun ini tidak lebih baik dari 2017. Proteksionisme negara maju terutama Amerika Serikat dan penguatan dolar Amerika Serikat sepanjang 2018 cukup menghantam bisnis di dalam negeri.

Dampak tersebut, sambungnya, terutama bagi BUMN yang memiliki pendapatan dalam rupiah namun pengadaan bahan baku menggunakan mata uang asing. Dia mencontohkan dampak keuangan yang dirasakan oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan PT Pertamina (Persero).

Di tengah kondisi tersebut, dia menyarankan strategi yang ampuh yakni strategi ekspor agresif. Menurutnya, opsi tersebut telah ditempuh sejumlah BUMN dan patut mendapatkan apresiasi.

“Mudah-mudahan harga sektor komoditas juga membaik terutama batu bara, sawit, ataupun timah. Akan tetap, diperlukan penguatan hilirisasi supaya value creation dapat ditahan di domestik sehingga bagian yang diterima negara semakin besar,” paparnya.

Di sisi lain, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menilai beban BUMN untuk mengejar target pendapatan dan laba bersih masih berat. Kondisi itu akibat gejolak ekonomi yang terjadi pada 2018.

Abra menilai target kinerja BUMN tahun ini sulit tercapai. Penyebab utama yakni depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.

“Implikasinya, biaya operasional dan nilai investasi beberapa BUMN yang mengandalkan kandungan impor tinggi mengalami pembengkakakan sehingga menggerus laba,” jelasnya.

Selain nilai tukar, dia menyebut BUMN juga menghadapi tantangan dari tekanan tren kenaikan suku bunga. Dengan demikian, tantangan yang dimiliki bukan hanya menggenjot laba bersih tetapi menahan kerugian dan jumlah perseroan pelat merah yang merugi.
 
 
 

Tag : bumn
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top