Aset BTPN Tembus Rp100 Triliun, Laba Melonjak 61%

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menambah daftar jumlah bank di Indonesia dengan kepemilikan aset di atas Rp100 triliun.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  15:13 WIB
Aset BTPN Tembus Rp100 Triliun, Laba Melonjak 61%
Pejalan kaki melintas di dekat logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. di Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menambah daftar jumlah bank di Indonesia dengan kepemilikan aset di atas Rp100 triliun.  

Pencapaian ini terwujud sebelum BTPN beroperasi sebagai entitas baru, hasil penggabungan usaha (merger) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).
 
Hingga akhir Desember 2018, aset BTPN mencapai Rp101,9 triliun, tumbuh 7% dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) senilai Rp95,5 triliun. Total pembiayaan tercatat Rp68,1 triliun atau tumbuh 4% dan pendanaan sebesar Rp80,5 triliun, meningkat 5%.
 
“Kami bersyukur atas pencapaian ini. Berkat dukungan semua pihak, BTPN tumbuh luar biasa dalam 1 dekade terakhir dan masuk ke jajaran bank dengan aset di atas Rp100 triliun. Setelah resmi merger, BTPN tentu memiliki kesempatan untuk menjadi lebih kuat dan lebih besar lagi,” kata Direktur Utama BTPN Jerry Ng, lewat keterangan resmi, Kamis (24/1/2019). 
 
Sejak pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Maret 2008, BTPN bertumbuh secara signifikan. 
 
Selama 10 tahun terakhir, aset perseroan melonjak 10 kali lipat dari Rp10,6  triliun per Desember 2007. Begitu pula kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang saat itu masih senilai Rp7,85 triliun dan Rp8,80 triliun. 
 
“BTPN segera memulai lembaran hidup baru. Kami bangga bisa mengantarkannya ke gerbang merger dengan kondisi yang sangat sehat dan kuat,” kata Jerry yang akan mengakhiri masa jabatannya pada akhir Januari ini.
 
Selain menapak ke level yang lebih tinggi, BTPN juga semakin efisien dan kompetitif. Hal ini merupakan hasil dari program transformasi dan inovasi digital yang digulirkan manajemen sejak tiga tahun terakhir. 
 
Inovasi diwujudkan melalui produk baru berbasis digital antara lain BTPN Wow! dan Jenius. Sedangkan transformasi digulirkan dengan mengubah konsep pelayanan dari bank-centric, menjadi customer-centric. 
 
“Kami tidak hanya menciptakan produk dan layanan baru berbasis digital. Kami juga melakukan digitalisasi di existing business. Kini BTPN lebih terintegrasi dan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan nasabah secara cepat, mudah dan aman,” kata Jerry.
 
Transformasi dan inovasi digital memangkas biaya operasional, sehingga rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) menjadi lebih baik. 
 
Biaya operasional rutin perusahaan (business as usual) BTPN selama kurun Januari – Desember 2018 tercatat Rp3,48 triliun, turun 12% dari periode yang sama 2017 sebesar Rp3,93 triliun. 
 
Penurunan biaya ini membuat pendapatan operasional bersih (net operating income) meningkat 12% menjadi Rp5,2 triliun meski pendapatan operasional (operating income) hanya tumbuh 2% menjadi Rp10,2 triliun. Rasio biaya terhadap pendapatan pun turun dari 69% pada 2017 menjadi 56% pada 2018. 
 
Sementara itu rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) sebesar 25% dan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sebesar 1,24%. Rasio pinjaman terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) berada di level 96%. 
 
Biaya operasional yang lebih rendah dan fokus pada pertumbuhan yang berkualitas ini memberikan hasil positif. Laba bersih BTPN (net profit after tax/NPAT) tahun 2018 mencapai Rp1,97 triliun, melonjak 61% dari periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp1,22 triliun.  
 
“Sejak awal tahun, kami fokus berkonsolidasi dalam rangka menuntaskan agenda penggabungan usaha (merger) dengan SMBCI. Kami bersyukur dapat melewati semua ini dengan tetap mencetak kinerja yang positif,” tutup Jerry.
 
Terkait agenda merger dengan SMBCI, Jerry menjelaskan, BTPN telah mengantongi izin penggabungan usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 19 Desember 2018 dan juga persetujuan dari Japan Financial Sector Authority (JFSA) pada 18 Januari 2019. 
 
Setelah mendapatkan restu ini, masih terdapat beberapa tahapan proses administrasi yang harus dilalui pada otoritas-otoritas terkait. Setelah semua tahap ini terlewati, bank hasil penggabungan dari BTPN dan SMBCI segera beroperasi sebagai bank baru. 
 
“BTPN yang baru akan memiliki aset lebih dari Rp180 triliun. Produknya menjadi lebih lengkap dan segmen pasar yang dilayani akan semakin beragam,” imbuhnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
btpn, btpn

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top