BCA Tak Khawatir dengan Persaingan Sistem Pembayaran

PT Bank Central Asia Tbk. meyakini layanan sistem pembayaran berbasis teknologi tidak akan menggerus bisnis perbankan, tapi justru dapat membantu mengurangi biaya pengelolaan uang tunai.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  19:40 WIB
BCA Tak Khawatir dengan Persaingan Sistem Pembayaran
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja berbicara pada seminar nasional Kebangkitan BUMN Sektor Infrastruktur, di Jakarta, Selasa (19/2/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, TANGERANG — PT Bank Central Asia Tbk. meyakini layanan sistem pembayaran berbasis teknologi tidak akan merongrong bisnis perbankan dan justru dinilai dapat membantu mengurangi biaya pengelolaan uang tunai.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan pembayaran yang dilakukan melalui BCA mencapai sekitar 25 juta transaksi perhari. Menurutnya, karakteristik pembayaran melalui bank berbeda dengan teknologi finansial (tekfin).

Jahja menjelaskan karakteristik tekfin pembayaran menggantikan fungsi pembayaran dengan uang tunai. Berbeda dengan bank yang pembayarannya mencakup nilai yang lebih besar dari yang biasa dibelanjakan orang dengan uang tunai.

“Jadi kalau lihat transaksi Go-Pay itu menggantikan transaksi dengan tunai, kalau itu di-replace pakai Go-Pay itu namanya menuntungkan kami. Sekarang kami juga kerja sama dengan Go-Pay, pakai OneKlik BCA, dapat fee Rp500 untuk BCA dan Rp500 untuk Go-Pay, ini bisnis additional buat BCA,” ujarnya, Jumat (22/2/2019).

BCA memandang tekfin sebagai teman yang perlu digandeng untuk mengembangkan usaha. Ke depan, transaksi pembayaran menggunakan kartu diperkirakan hilang dan tergantikan dengan layanan serupa Go-Pay.

Di sisi lain, BCA juga terus menggelontorkan investasi untuk memperkuat bidang informasi dan teknologi. Belanja modal yang dianggarkan mencapai Rp5,2 triliun, yang mana Rp1 triliun di antaranya dikhususkan untuk pengembangan perbankan digital.

Jahja juga meyakini perluasan layanan pembayaran tekfin yang sudah merambah pembayaran lain seperti pulsa ataupun listrik tidak akan berdampak signifikan terhadap bisnis bank. Jenis pembayaran tersebut, lanjutnya, tak mencapai 1% transaksi pada tekfin.

“Saya bilang, pengganti pulsa, listrik tidak apa-apa kami share tapi itu kecil sekali, tidak ada 1% dari transaksi. Kebanyakan transaksi [mereka] untuk Go-Jek, Go-Food, Go-Massage dan sebagainya. Pulsa sebulan berapa kali sih isi? Listrik juga cuma sebulan sekali, jadi tidak ada artinya buat kami,” tutur Jahja.

BCA menyatakan persaingan lembaga jasa keuangan untuk memperkuat bisnis pembayaran tidak menjadi kekhawatiran. Pasalnya, dalam mekanisme pasar bebas, sah-sah saja para pesaing terus bermunculan.

Salah satunya adalah langkah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mengintegrasikan layanan pembayaran ke dalam platform LinkAja. Semakin banyak sistem pembayaran, maka diyakini semakin menguntungkan bank dari sisi efisiensi.

“Saya kira pasar bebas saja. Payment kami sehari bisa 22 juta transaksi, jadi siapapun tidak masalah membuat payment. Semakin banyak digital payment system akan mengurangi kebutuhan uang tunai. Itu beban buat kami karena banyak nasabah penabung, mau tidak mau kami harus menyediakan uang tunai. Semakin banyak payment platform, mudah-mudahan kebutuhan uang tunai berkurang," tambah Jahja.

Berdasarkan survei AlphaWise, perusahaan tekfin dinilai lebih unggul dibandingkan dengan perbankan, dagang-el, dan perusahaan telekomunikasi dalam hal pengembangan layanan uang elektronik. Tekfin dinilai lebih unggul karena memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan para pesaingnya.

Pertama, uang elektronik yang diterbitkan oleh tekfin lebih praktis digunakan untuk berbagai keperluan. Hal ini terjadi karena tekfin terlebih dahulu membangun ekosistem digital, kemudian uang elektronik melengkapinya.

Pengguna tekfin telah terbiasa memanfaatkan layanan transportasi daring, memesan makanan dan minuman, atau melakukan transaksi lain dalam sistem yang dibangun oleh tekfin. Penambahan fitur uang elektronik memudahkan pengguna untuk bertransaksi.

Kedua, layanan top-up secara mandiri melalui jaringan mitra pengemudi dinilai lebih praktis oleh para responden survei, daripada top-up melalui bank.

Ketiga, jaringan pedagang yang menerima pembayaran menggunakan uang elektronik yang disediakan oleh tekfin semakin luas. Sampai saat ini, jaringan merchant yang bekerja sama dengan perbankan masih jauh lebih banyak, tapi perlahan tekfin menyusul.

Menurut data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi uang elektronik sepanjang tahun lalu mencapai Rp47,19 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar empat kali lipat dibandingkan dengan nilai transaksi pada tahun sebelumnya, yang senilai Rp12,37 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bca, fintech

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top