Bank Mandiri Naikkan Bunga Deposito Dolar AS

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melakukan penyesuaian tingkat bunga deposito berjangka dalam denominasi Dolar Amerika Serikat.
Ropesta Sitorus | 20 Maret 2019 13:10 WIB
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melakukan penyesuaian tingkat bunga deposito berjangka dalam denominasi Dolar Amerika Serikat.

Dalam keterangan yang diterima Bisnis, Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menyatakan penyesuaian tersebut mulai diberlakukan sejak 20 Maret 2019.

Adapun, penaikan tingkat suku bunga yang diberlakukan berkisar 75 basis poin. Rinciannya untuk deposito di bawah US$100.000 dengan tenor 1,3,6,12 bulan naik dari 0,70 persen menjadi 1,45 persen sedangkan untuk tenor 24 bulan menjadi 0,95 persen dari sebelumnya 0,25 persen.

Kategori kedua, nilai deposito US$100.000 – US$1 juta dengan tenor 1,3,6,12  bulan naik dari 0,75 persen menjadi 1,50 persen sedangkan tenor 24 bulan naik dari 0,50 persen menjadi 1,25 persen.

Dua kategori terakhir yakni nilai deposito US$1 juta – US$10 juta serta di atas US$10 juta tingkat bunga yang diterapkan sebesar 1,75% untuk tenor 1,3,6, dan 12 bulan. Adapun, untuk tenor yang paling panjang yakni 24 bulan diberikan bunga 1,25 persen.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menyatakan pada akhir 2018 perseroan sempat mengalami pengetatan likuiditas khususnya yang berdenominasi valas. “Di akhir tahun lalu LDR [Loan to Deposit] agak ketat karena giro valas drop,” katanya belum lama ini.

Hal ini lantaran banyaknya dana jangka pendek yang keluar sejalan dengan capital outflow. Pengetatan itu tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang naik dari 89,2 persen akhir Desember 2017 menjadi 97,1 persen per Desember 2018. Posisi loan to funding ratio (LFR) juga naik dari 87,2 persen menjadi 95,5 persen.  

Mengutip laporan kinerja per akhir Desember 2018, dana pihak ketiga Bank Mandiri secara konsolidasi hanya tumbuh 3,1 persen secara year on year dari Rp815,8 triliun menjadi Rp840,9 triliun.

Adapun untuk giro valas mengalami penurunan 22,9 persen dari Rp61,9 triliun menjadi Rp47,8 triliun, sedangkan tabungan valas turun 1,7 persen dari Rp27,7 triliun menjadi Rp27,2 triliun.

Di sisi lain perseroan mampu menaikkan penghimpunan deposito valas dari Rp25,2 triliun menjadi Rp40,6 triliun. Kenaikan deposito valas sebesar 61,0 persen merupakan yang tertinggi dari semua kategori DPK lainnya.

Tiko, sapaan akrab Kartika, mengatakan untuk menggantikan penurunan DPK valas tersebut, strategi Bank Mandiri yakni sejak kuartal awal 2019 lebih agresif memacu pendanaan, baik konvensional maupun nonkonvensional.

Penghimpunan dana nonkonvensional difokuskan pada denominasi valas, terutama lewat emisi surat berharga. “Kuartal I kami menerbitkan global bond up to US$ 1 miliar. Itu yang lebih prioritas,” kata Tiko.

Sementara itu, untuk penghimpunan dana nonkonvensional denominasi Rupiah diperkirakan tidak akan sebanyak tahun 2018 lalu di mana Bank Mandiri menerbitkan obligasi berkelanjutan hingga Rp10 triliun.

Menurut Tiko, melihat perkembangan sampai Februari kondisi likuiditas Rupiah sudah mulai melonggar. “Jadi untuk kuartal II nanti kami akan lihat dulu kebutuhannya, kalau likuiditas Rupiah sudah longgar ya sudah tidak perlu [fund raising dari pasar modal],” katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mandiri, deposito

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top