Kiat Sederhana agar Kantong Tak Bolong usai Lebaran

Dana untuk mudik Lebaran bisa jadi merupakan pos pengeluaran terbesar dari keseluruhan kebutuhan hari raya. Pos pengeluaran ini seringkali membuat banyak orang kelimpungan dalam mengatur keuangannya.
Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali
Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  13:58 WIB
Kiat Sederhana agar Kantong Tak Bolong usai Lebaran
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA - Dana untuk mudik Lebaran bisa jadi merupakan pos pengeluaran terbesar dari keseluruhan kebutuhan hari raya. Pos pengeluaran ini seringkali membuat banyak orang kelimpungan dalam mengatur keuangannya.

Tahu-tahu, setelah kembali dari mudik, saldo tabungan tak bersisa, atau kartu kredit declined karena limit-nya sudah habis. Jangan sampai hal tersebut terjadi pada Anda, atau jika pernah mengalami, jadikan itu pengalaman terakhir.

CEO dan Founder Jouska Financial Indonesia Aakar Abyasa menjelaskan, karena besaran kebutuhan anggaran mudik yang relatif besar, maka kemungkinan tidak akan cukup jika ditutup dengan Tunjangan Hari Raya (THR) . Akan lebih aman jika anggaran mudik masuk ke cash-flow tahunan yang sudah dirancang sejak jauh hari.

"Dari banyak kasus yang masuk ke Jouska, jarang sekali ketemu antara kebutuhan mudik dan besar THR. Selalu lebih [besar kebutuhan mudik]. Jadi saya selalu bilang kalau mau rencana mudik, masukin saja bagian liburan tahunan, jadi plan-nya dengan cash-flow setahun," katanya.

Selain pembelian tiket perjalanan untuk seluruh anggota keluarga, budaya untuk membelikan baju baru untuk sanak saudara juga masuk dalam pos anggaran mudik. Hal ini akan lebih berat lagi jika dibebankan kepada sandwich generation yang harus mensubsidi orangtuanya. Oleh karena itu, porsi anggaran mudik memang harus masuk ke keseluruhan perencanaan anggaran dalam satu tahun.

Lebih lanjut Aakar menjelaskan, fenomena saldo kosong sesudah Lebaran terjadi karena seseorang tidak dapat mengenali gambaran besar kondisi keuangannya. Seorang karyawan dengan gaji Rp10 juta per bulan misalnya, setiap bulan mampu menabung minimum Rp2 juta. Total tabungan dalam setahun Rp24 juta ditambahn THR Rp10 juta, menjadi Rp34 juta.

Dengan simpanan sebesar itu, yang bisa dilakukan agar kondisi finansial tetap sehat adalah membuat prioritas pengeluaran. Misalnya, absen mudik untuk tahun ini dan memprioritaskan tabungan. Bisa pula dengan memangkas atau bahkan meniadakan anggaran membeli baju baru.

"Prinsipnya jangan sampai bablas saja, setiap tahun muter disitu, setiap habis lebaran saldonya 0 Rupiah, kan tidak lucu. Nanti lama-lama hidup kita tidak sehat secara finansial," ujarnya.

Tim Jelajah Jawa-Bali 2019: Yustinus Andri, Muhammad Ridwan, Andi M. Arief, Maria Elena, Reni Lestari

Program Liputan Lebaran Jelajah Jawa-Bali 2019 ini didukung oleh:
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Suzuki Indomobil Sales, PT Telekomunikasi Selular, PT Astra International Tbk. - Isuzu Sales Operation, PT Mitra Pinasthika Mustika Rent, PT XL Axiata Tbk., PT Astra Toll Nusantara, Perum LPPNPI (Airnav Indonesia), PT Astra Honda Motor, PT Samsung Electronics Indonesia, dan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jelajah Jawa-Bali

Sumber : Jelajah Jawa-Bali 2019

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top