Belanja Digital Perbankan Masih Rendah

Direktur IT & Operation PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Andi Nirwoto mengatakan sampai Juni perseroan baru mengalokasikan 17 persen dari Rp500 miliar belanja modal untuk teknologi dan informasi atau TI.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 15 Juni 2019  |  03:52 WIB
Belanja Digital Perbankan Masih Rendah
Aktivitas layanan nasabah di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), di Jakarta, Rabu (2/1/2018). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Perbankan mengaku telah menyerap sejumlah modal belanja yang dialokasikan untuk pengembangan digital kendati dinilai masih sedikit.

Direktur IT & Operation PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Andi Nirwoto mengatakan sampai Juni perseroan baru mengalokasikan 17 persen dari Rp500 miliar belanja modal untuk teknologi dan informasi atau TI.

Menurutnya, dana sebesar Rp85 miliar itu telah digunakan untuk inovasi aplikasi digital dan kapasitas pendukung digital. Sementara sisanya, juga masih direncanakan untuk pengembangan produk digital baru yang rencananya akan dirilis pada Semester II/2019 nanti.

“Kami ada perencanaan produk digital yang saat ini masih dalam proses, karena ini perlu rancangan yang berbeda. Produknya tentu untuk mendukung bisnis BTN dan diharapkan rilis semester II nanti,” katanya kepada Bisnis, Jumat (14/6/2019).

Sisi lain, perseroan juga masih menyiapkan pembentukan perusahaan ventura untuk keikutsertaan dalam produk LinkAja milik PT Finarya. Saat ini, Andi menyebut, perseroan masih fokus memperkaya merchant atau mitra kerja sama.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Mandiri Rico Usthavia Frans pun mengatakan saat ini serapan belanja modal TI perseroan masih sesuai peruntukannya. Sayangnya dia enggan merinci jumlah yang telah diserap.

Sebagai gambaran, pada tahun ini, Bank Mandiri memiliki anggaran belanja modal IT sekitar Rp2 triliun.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatat penyerapan belanja untuk pengembangan teknologi dan informasi sebesar 15 persen per Maret 2019.

Tahun ini BNI memiliki anggaran untuk teknologi dan informasi atau TI sebesar Rp900 miliar. Artinya, sekitar Rp225 miliar telah teralokasikan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dadang Setiabudi mengatakan sampai akhir tahun belanja modal untuk TI telah dan akan difokuskan pada empat hal.

Pertama, peremajaan infrastruktur TI. Kedua, peningkatan aspek security TI. Ketiga, perluasan akses e-channel. Keempat, sebagai solusi guna mendukung bisnis digital perseroan baik yang sudah berjalan dan yang masih direncanakan.

“Penyerapan kuartal I/2019 sudah 15 persen dan masih akan berlanjut ke depan,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Dadang mengemukakan selain pengembangan digital secara internal, perseroan juga masih fokus menggandeng kerja sama dengan perusahaan tekfin. Saat ini sekitar 600 perusahaan tekfin telah bermitra dengan perseroan terutama untuk payment gateway melalui virtual account.

Tahun ini diharapkan jumlah tersebut masih akan bertambah. Sementara itu, untuk kerja sama dengan perusahaan pembiayaan atau P2P Lending, menurut Dadang, BNI telah bermitra dengan 40 perusahaan.

Sisi lain, bulan ini perseroan dengan sandi saham BBNI ini masih akan merampungkan pembentukan perusahaan ventura. Pasalnya, perseroan telah menganggarkan Rp250 miliar untuk mencaplok perusahaan tekfin.

Sebelumnya, Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan dalam mengakuisisi perusahaan tekfin, perseroan membutuhkan kendaraan yakni venture capital. Menurutnya, rencana perseroan ini telah terbesit sejak tahun lalu.

Namun, melihat urgensi pada tahun lalu belum begitu kuat perseroan pun kembali berniat mengimplementasikan pada tahun ini. Apalagi BNI akan menjadi 20 persen pemilik PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) di bawah bendera Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Rencananya kami akan akuisisi satu fintech dulu, kalau melihat timeline pada kuartal II/2019 ini,” katanya.

Anggoro mengemukakan kriteria perusahaan tekfin yang dipilih yakni harus mampu menjadi pelengkap lini bisnis perseroan yang sudah berjalan selama ini. Dengan demikian, dia tidak memungkiri pilihan antara tekfin bidang pembayaran atau pendanaan.

Bagi Anggoro, pengalaman bekerjasama dengan perusahaan P2P selama ini juga telah memberi sedikit banyak gambaran pada perseroan terkait cara kerja dan sistem bisnis tekfin saat ini.

Bahkan, dia mengakui banyak perusahaan tekfin di Indonesia yang memiliki potensi untuk besar di kemudian hari karena model kerja yang diterapkan sangat baik.

“Jadi bagi kami tekfin itu bisa jadi new distribution channel yang harapannya akan meperkuat bisnis khususnya segmen konsumer kami,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top