Volume Transaksi E-Money Capai Rp8 Triliun, Ini Penopangnya

Pada semester pertama 2019 volume transaksi E-Money mengalami peningkatan sebesar 13% secara year on year dibandingkan periode yang sama tahun 2018, menjadi sekitar Rp8 triliun
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  18:15 WIB
Volume Transaksi E-Money Capai Rp8 Triliun, Ini Penopangnya
Karyawan mengamati proses pencetakan e-money edisi Asian Para Games 2018 di unit produksi kartu Bank Mandiri, di Jakarta, Rabu (3/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatatkan kenaikan transaksi uang elektronik berbasis kartu E-Money sepanjang semester I/2019 yang mayoritas digunakan untuk tujuan transportasi.

SEVP Transaction Banking and Retail Sales PT Bank Mandiri Thomas Wahyudi menyatakan hingga akhir Juni lalu volume transaksi E-Money mencapai Rp8 triliun.

“Perkembangan E-Money masih tetap terjaga, di mana pada semester satu ini volume transaksi mengalami peningkatan sebesar 13% secara year on year dibandingkan periode yang sama tahun 2018 menjadi sekitar Rp8 triliun,” katanya kepada Bisnis, Rabu (10/7/2019).

Thomas menuturkan pertumbuhan volume transaksi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan E-Money semakin meluas di masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya perseroan memperluas channel penggunaan uang elektronik tersebut baik untuk pembayaran dan isi ulangnya.

Penggunaan uang elektronik tersebut cukup beragam mencakup pembayaran jalan tol, kereta commuter line, MRT Line, ASDP, parkir, merchant ritel, toko buku, dan e-commerce. Akan tetapi, sampai dengan saat ini kontributor terbesar untuk transaksi E-Money masih berasal dari sektor transportasi.

Pada tahun ini, kata Thomas, pihaknya lebih memacu perluasan channel baik untuk penjualan kartu, akseptansi, dan top up saldo.

Selain memperluas dan memperdalam kerja sama dengan offline partner, Bank Mandiri juga lebih agresif dan fokus berkolaborasi dengan sejumlah mitra online seperti merchant marketplace untuk penjualan kartu dan layanan top up.

“Ada banyak sekali kolaborasi yang kami lakukan dalam bentuk program promosi bagi para pengguna,” katanya.

Tak hanya itu, perseroan juga mulai memperluas penggunaan E-Money di sektor pariwisata sejalan dengan program pemerintah terkait cashless society di daerah-daerah wisata di Indonesia.

“Kami menyediakan media penerimaan pembayaran dan top up menggunakan E-Money di daerah-daerah wisata tersebut, sehingga pengguna baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang datang ke wilayah wisata, dapat dengan mudah dan efisien bertransaksi di daerah tersebut,” paparnya.

Dengan strategi tersebut, Thomas optimistis per akhir 2019 transaksi E-Money akan dapat tumbuh menjadi sekitar Rp15 triliun atau naik sekitar 15% dari akhir 2018 yang mencapai Rp13,9 triliun.

Selain itu, jumlah kartu uang elektronik tersebut juga ditargetkan dapat meningkat sekitar lima juta kartu dari akhir 2018 yang mencapai 16,4 juta kartu.

“Saat ini jumlah kartu E-Money yang beredar lebih dari 18 juta kartu. Target full year kami Rp14 triliun – Rp15 triliun, kalau semester satu sudah tercapai Rp8 triliun, kami sangat optimis target tersebut akan bisa terlampaui dengan strategi yang kami terapkan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mandiri, e-money

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top