Semester I/2019, Laba Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tumbuh Signifikan

Pada paruh pertama 2019, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. meraih pendapatan premi bruto secara konsolidasi sebesar Rp3,7 triliun. Realisasi itu meningkat 49% (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan Juni 2018 yang tercatat sebesar Rp2,49 triliun.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  15:32 WIB
Semester I/2019, Laba Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tumbuh Signifikan
Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) Indra Baruna (tengah) berbincang dengan Direktur Muhammad Syahid (kanan), dan Direktur Usmanshah di sela-sela halalbihalal dengan media, di Jakarta, Rabu (19/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. membukukan pertumbuhan laba bersih kondolidasian yang signifikan pada akhir semester I/2019.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, emiten asuransi kerugian ini secara konsolidasian membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp238,15 miliar. Realisasi itu meningkat signifikan sebab pada periode yang sama tahun sebelumnya perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp7,8 miliar.

Peningkatan itu pun sejalan dengan kenaikan pendapatan premi dan sejumlah perbaikan yang dilakukan emiten dengan kode saham TUGU itu dalam setahun terakhir.

Presiden Direktur Asuransi Tugu Pratama Indonesia Indra Baruna mengatakan peningkatan kinerja tersebut dikontribusikan oleh induk perusahaan maupun anak perusahaan.

Pada paruh pertama 2019, jelasnya, perseroan meraih pendapatan premi bruto secara konsolidasi sebesar Rp3,7 triliun. Realisasi itu meningkat 49% (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan Juni 2018 yang tercatat sebesar Rp2,49 triliun.

Dari pendapatan itu, premi bruto induk usaha tercatat sebesar Rp2,2 triliun atau bertumbuh 37% (yoy).

“Hampir seluruh lini bisnis mengalami kenaikan, baik di sektor energi, non-energi, commercial maupun retail business,” ujar Indra, Rabu (31/7/2019).

Dengan perolehan premi itu, Indra mengatakan pihaknya juga mampu meningkatkan pendapatan underwriting. Peningkatan itu, jelasnya, tidak terlepas dari keberhasilan TUGU untuk meningkatkan penerimaan premi, mengelola beban klaim dan komisi.

Pada periode itu, dia mengatakan induk usaha masih mampu mengelola loss ratio pada kisaran 39% atau jauh di bawah capaian industri asuransi umum yang berada di atas 50%.

“Dengan peningkatan revenue, telah berdampak pada menurunnya expense ratio menjadi 14%, jauh di bawah rata-rata industri yang berkisar 42%,” kata Indra.

Dengan begitu, induk perusahaan mampu meraih laba bersih senilai Rp160,7 miliar. Relisasi itu bertumbuh 76% (yoy) dari Rp91,4 miliar pada Juni 2018. Peningkatan laba tersebut, kata Indra, terjadi seiring peningkatan hasil underwriting dan hasil investasi.

Menurutnya, peningkatan hasil investasi induk perusahaan terutama didukung pertumbuhan alokasi investasi dan perdagangan surat utang yang mengalami kenaikan valuasi seiring ekspektasi penurunan suku bunga.

“Perubahan mata uang fungsional dari USD ke IDR juga berdampak pada peningkatan imbal hasil investasi,” jelas Indra.

Lebih lanjut, Indra mengatakan TUGU mengedepankan inovasi digital dalam mengoptimalkan penetrasi asuransi ritel, sejalan dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce yang telah mendorong konsumen untuk beralih melakukan transaksi real time via online.

Pasalnya, pihaknya pada semester itu meraup pertumbuhan hingga tiga kali lipat dari premi produk asuransi kendaraan bermotor dari segmentasi ritel. “Sehingga total keseluruhan premi produk asuransi kendaraan bermotor telah mencapai Rp 86 miliar.”

Indra menambahkan pihaknya terus mengembangkan inovasi produk, beserta pelayanan prima untuk menangkap peluang di berbagai segmentasi pasar. Langkah yang dilakukan adalah mengeluarkan produk unggulan baru, inovasi pelayanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tugu pratama indonesia, asuransi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top