Raih Pendanaan US$460 Juta, Klarna Jadi Fintech Paling Bernilai di Eropa

Klarna memberikan alternatif layanan pembayaran pembelian online tanpa menggunakan kartu kredit.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  08:36 WIB
Raih Pendanaan US$460 Juta, Klarna Jadi Fintech Paling Bernilai di Eropa
Ilustrasi teknologi finansial. - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi finansial (tekfin) pembayaran asal Swedia, Klarna, telah mengumpulkan pendanaan hingga US$460 juta. Hal tersebut membuatnya menjadi perusahaan rintisan paling bernilai di Eropa.
 
Dilansir dari Reuters, informasi tersebut disampaikan pihak Klarna pada Selasa (6/8/2019), setelah mereka menerima kucuran dana dari Dragoneer Investment Group yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat (AS).
 
Suntikan Dragoneer tersebut membuat valuasi tekfin asal Swedia ini mencapai US$5,5 miliar. Tambahan dana itu akan digunakan untuk mengembangkan bisnis di Negeri Paman Sam.
 
Bersama dengan perusahaan tekfin asal Eropa lainnya, seperti N26 asal Jerman, Klarna akan menginvestasikan dana untuk menambah 6 juta pelanggan baru dalam 1 tahun, melalui ekspansinya ke AS.
 
Klarna didirikan oleh CEO Sebastian Siemiatkowski bersama para mitranya pada 2005. Perusahaan tersebut memungkinkan konsumen untuk membeli secara online tanpa harus memberikan rincian pembayaran kepada penjual tempat mereka membeli.
 
Sebagai gantinya, Klarna akan membayar pesanan yang kemudian dikirimkan. Perusahaan akan menyampaikan tagihan untuk dilunasi pembeli dalam 14-30 hari. Produk intinya bebas bunga di pasar AS dan Inggris, dengan penjual yang membayar layanannya.
 
Pihak Klarna mengatakan ingin menawarkan alternatif yang lebih sederhana dari kartu kredit kepada konsumen AS, sambil membangun kemitraan dengan berbagai gerai, seperti rue21, ASOS, Lulus, Toms, Superdry, Sonos, dan Acne Studios.
 
"Transparansi, teknologi, dan kreativitas akan melayani konsumen," ujar Siemiatkowski.
 
Dia menjelaskan penawaran alternatif tersebut didasarkan kepada generasi langgas (milenial) di AS yang cenderung tidak menggunakan kartu kredit, dipengaruhi oleh krisis keuangan pada satu dekade lalu.
 
Siemiatkowski mengutip hasil riset Bankrate bahwa masyarakat AS cenderung lebih menyukai kartu debit. Hanya sepertiga dari penduduk usia 18–29 tahun yang memiliki kartu kredit, sedangkan porsi kelompok usia 50–64 tahun mencapai 62 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
eropa, fintech

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top