Bersaing dengan Tekfin, Transaksi Bank Melalui EDC Tergerus

Data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) Bank Indonesia mencatat, per Juni 2019 jumlah EDC yang beredar hanya 933.682 unit lebih sedikit dari periode yang sama tahun lalu yang masih bertengger pada angka 1,2 juta. Sementara itu, volume transaksi juga melandai hingga 12,65 menjadi 102 juta dibanding posisi Juni 2018 116 juta.
Maria Elena & Ipak Ayu H.N
Maria Elena & Ipak Ayu H.N - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  05:56 WIB
Bersaing dengan Tekfin, Transaksi Bank Melalui EDC Tergerus
Karyawan minimarket menggesekan kartu debit di mesin Electronic Data Capture (EDC), di Jakarta, Selasa (5/9). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Perbankan terus mencatatkan penurunan transaksi melalui mesin electronic data capture atau EDC. Kendati demikian, perbankan masih optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan digit ganda sampai akhir tahun.

Data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) Bank Indonesia mencatat, per Juni 2019 jumlah EDC yang beredar hanya 933.682 unit lebih sedikit dari periode yang sama tahun lalu yang masih bertengger pada angka 1,2 juta. Sementara itu, volume transaksi juga melandai hingga 12,65 menjadi 102 juta dibanding posisi Juni 2018 116 juta.

Pada paruh pertama tahun ini, transaksi on-us juga tercatat turun -28,04 persen menjadi Ro45.556,76 triliun. Tak hanya itu, transaksi off-us secara domestik juga mencatatkan -4,14 persen menjadi Rp22.005, 50 triliun, meski secara Internasional transaksi of-us masih tumbuh 14,48 persen menjadu Rp5.870, 28 triliun.

Ketua Komite VII (Pengelola Standar) Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Santoso Liem menilai, menurunnya nilai dan volume transaksi melalui mesin EDC disebabkan oleh tiga hal.

Santoso menyoroti penurunan dipengaruhi oleh transaksi kartu kredit yang cenderung stagnan beberapa tahun terakhir, baik dari sisi jumlah kartu kredit maupun volume transaksi.

“Pertumbuhan kartu kredit dari 5-6 tahun lalu secara industri cenderung flat, bahkan tidak tumbuh, sehingga bank lebih tertarik fokus pada pertumbuhan debit,” katanya kepada Bisnis, Selasa (13/8/2019).

Bank Sentral mencatat, pertumbuhan volume transaksi kartu kredit menurun -1,97 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Jumlah kartu yang terdistribusikan pun tercatat stagnan, rata-rata hanya berada di kisaran 17 juta sejak tahun lalu.

Santoso mengatakan, setelah regulator menerapkan platform Gerbang Pembayaran nasional (GPN), segmen pasar untuk kartu debit semakin luas dan pertumbuhannya pun terbilang cukup bagus.

Namun, Santoso menuturkan, prospek yang bagus dari kartu debit tersebut tergerus dengan maraknya platform dompet elektronik yang diterbitkan oleh perusahaan teknologi finansial (tekfin). Menurutnya, perusahaan tekfin tumbuh sangat cepat karena mereka menyasar segmen pasar dengan jumlah transaksi yang kecil.

Ticket size yang kecil mulai digantikan oleh platform tekfin. Mereka merajai transaksi yang bernilai kecil, di bawah Rp100.000, Ini fenomena yang kita lihat memang terjadi dan berdampak khsususnya pada kartu debit,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, penurunan transaksi melalui EDC ikuti dipengaruhi oleh pengurangan jumlah mesin EDC. Bank besar khususnya, mulai mengkonsolidasikan dan menarik mesih EDC yang tersebar di merchant dikarenakan banyak mesin yang rusak dan hilang. “Jadi bank mulai menertibkan kembali link-link yang ada.”

Perseberan EDC Direm

EVP Retail Payment PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Arif Wicaksono mengatakan menurunnya pertumbuhan jumlah mesin EDC dikarenakan bank-bank besar sudah mulai mengerem persebaran EDC.

“BRI sendiri juga berfokus pada peningkatan produktivitas transaksi per EDC, sehingga di satu sisi kami menambah jumlah EDC baru namun di sisi lain juga menarik EDC tipe lama dan tidak produktif lagi,” katanya kepada Bisnis, Selasa (13/8/2019).

Sementara itu, Arif mengatakan pertumbuhan nilai transaksi Bank BRI melalui mesin EDC masih meningkat signifikan, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 20,38 persen.

Perseroan mencatatkan nilai transaksi melalui mesin EDC sebesar Rp6,9 triliun pada Juli 2019, meningkat 21,41 persen jika dibandingkan dengan bulan lalu yang tercatat sebesar Rp5,7 triliun.

“Total nilai transaksi yang sudah BRI peroleh pada semester I/2019 berkisar di angka Rp40 triliun,” katanya.

Hingga Juli 2019, perseroan mencatat penambahan jumlah mesin EDC Bank BRI sebanyak 39.374 atau meningkat 99 persen dari target yang ditentukan perseroan. Adapun, perseroan menargetkan penambahan mesin EDC sebanyak 40.000 EDC hingga akhir tahun.

Arif mengatakan, transasi di mesin EDC BRI baik dari kartu BRI maupun kartu bank lain didominasi oleh transaksi dengan menggunakan kartu kredit dengan porsi sebesar 68 persen.

Sementara itu, sisanya 38 persen merupakan transaksi dari kartu debit. Dari semua transaksi kartu debit tersebut, sebesar 88 persen-nya merupakan kartu debit Bank BRI.

Arif megutarakan, potensi pertumbuhan transaksi melalui mesin EDC masih cukup tinggi. Bahkan, ke depan, pihaknya memproyeksikan transaksi EDC BRI masih bisa meningkat di kisaran 18 persen-21 persen.

Transaksi Tunai Masih Besar

Menurutnya, jumlah transaksi tunai di masyarakat Indonesia masih sangat besar dan dengan bertambahnya perusahaan tekfin berbasis e-wallet juga akan ikut meningkatkan transaksi melalui EDC. Arif menilai hadirnya perusahaan tekfin bukanlah sebuah ancaman.

Hal tersebut dikarenakan, ke depannya, mesin EDC tidak sebatas dapat menerima transaksi melalui kartu saja, melainkan juga bisa menggunakan QR Code yg banyak digunakan fintech.

Apalagi, imbuh Arif, saat ini telah diterapkan standarisasi QR yang dinamakan QRIS sehingga memungkinkan interoperability oleh berbagai sistem pembayaran berbasis QR code baik milik bank ataupun tekfin.

“Kami melihat payment system milik tekfin bukanlah substitusi dari EDC payment system, melainkan lebih sebagai komplementer,” tuturnya.

Perseroan pun akan melancarkan berbagai strategi untuk mendorong mendorong pertumbuhan transaksi kartu kredit dan kartu debit melalui EDC. Di antaranya, kata Arif, perseroan akan bekerja sama dengan berbagai merchant strategis untuk mendorong cashless payment.

Selain itu, Bank BRI juga akan menawarkan berbagai promo menarik sehingga pemegang kartu kredit ataupun kartu debit dapat meningkatkan transaksi di merchant tersebut secara cashless.

“Di samping itu, melalui EDC BRI juga ke depannya dapat menerima transaksi menggunakan metode QR payment melalui standar QRIS, sehingga EDC BRI selain dapat memproses transaksi kartu kredit dan kartu debit dari Bank manapun, juga dapat memproses transaksi QR dari bank atau tekfin manapun,” jelasnya.

CIMB Niaga

PT Bank CIMB Niaga Tbk. juga mencatat pertumbuhan transaksi dari mesin EDC, yang mencapai 20 persen hingga semester I/2019 lalu.

Direktur Perbankan Konsumer PT Bank CIMB NIaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan transaksi itu 75 persen berasal dari kartu kredit, dan sisanya atau sekitar 25 persen dari kartu debit.

Adapun hingga akhir tahun ini perseroan masih optimistis akan mencatatkan pertumbuhan kendati transaksi melalui daring juga terus melaju pesat.

“Secara tahunan kami akan melakukan penambahan mesin EDC sekitar 25 persen. Jadi, sampai akhir tahun ini ada sekitar 110.000 EDC milik perseroan yang tersebar,” katanya kepada Bisnis.

Lani mengemukakan agar target di atas tercapai, perseroan akan memilih strategi untuk berkolaborasi dengan perusahaan tekfin atau interoperable. Alhasil, akan lebih efisien dan juga memperkuat edukasi masyarakat untuk menggunakan cashless dan cardless.

Sementara itu, sektor transaksi dari EDC yang paling mendominasi pada groceries dan resto. Bagi perseroan, transaksi melalui EDC menjadi salah satu fasilitator dana murah.

Untuk itu, menurut Lani mendorong pertumbuhan transaksi EDC masih akan terus dilakukan meski di tengah pesatnya transaksi daring dari market place e-commerce yang sedang berkembang.

BCA Masih Tumbuh

Setali tiga uang, Corporate Secretary PT Bank Central Asia Tbk. Jan Hendra mengatakan transaksi BCA melalui mesin EDC masing mengalami pertumbuhan. Secara komposisi nilai transaksi belum ada perubahan.

“Nilai transaksi debit tetap lebih besar darr kartu kredit, di mana kontribusi nilai transaksi debit di EDC BCA per Juni 2019 mencapai sekitar 63 persen,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, transaksi elektronik

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top