Ruang Pelonggaran Kebijakan Makroprudensial Masih Terbuka

Bank Indonesia menyatakan masih terbuka ruang untuk pelonggaran kebijakan makroprudensial setelah bulan ini BI melonggarkan suku bunga acuan atau BI7Days Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin menjadi 5,50% guna mendorong pertumbuhan kredit.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  17:54 WIB
Ruang Pelonggaran Kebijakan Makroprudensial Masih Terbuka
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menyatakan masih terbuka ruang untuk pelonggaran kebijakan makroprudensial setelah bulan ini BI melonggarkan suku bunga acuan atau BI7Days Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin menjadi 5,50% guna mendorong pertumbuhan kredit.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, guna memudahkan manajemen likuiditas, maka BI masih akan melonggarkan kebijakan makroprudensial. Apalagi, BI sebelumnya pun sudah melonggarkan Ratio Intermediasi Makroprudensial atau RIM beberapa waktu yang lalu sebesar 84%--94%.

“Kebijakan seperti itu tidak akan berhenti, kebijakan makroprudensial akan terus ditempuh untuk mendorong pembiayaan kredit dari perbankan. Selain itu juga memperkuat pembiayaan perekonomian maupun pembiayaan ramah lingkungan,” ungkap Perry di Bank Indonesia, Kamis (22/8/2019).

Perry pun menjanjikan, bahwa koordinasi dengan pemerintah akan dilakukan terutama untuk optimalisasi bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi serta pendalaman pasar keuangan. Saat ini, BI juga sedang mengeksplorasi pengaturan RIM.

“Untuk itu demikian juga masalah inklusi keuangan, maupun juga terkait dengan sustainability finance. Semuanya untuk mendorong sisi permintaan maupun pembayaran,” jelas Perry.

Secara lebih rinci, Perry menjelaskan bahw stabilitas sistem keuangan terjaga, disertai dengan risiko kredit yang terkendali dan fungsi intermediasi yang berlanjut.

Perry menyatakan perkembangan ini tercermin dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Juni 2019 yang tetap tinggi yakni 22,5%, dan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang tetap rendah yakni 2,5% (gross) atau 1,2% (net).

Sementara itu, untuk fungsi intermediasi tetap berlanjut, meskipun pertumbuhan kredit sedikit melambat dari 11,1% (y-o-y) pada Mei 2019 menjadi 9,9% (y-o-y) pada Juni 2019.

Perry menyebut Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juni 2019 sebesar 7,4% (y-o-y). Pencapaian ini juga meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2019 sebesar 6,7% (y-o-y).

Perry menilai stabilitas sistem keuangan yang terjaga juga ditopang oleh kinerja korporasi go public yang tetap baik seiring dengan kemampuan membayar yang tetap sehat.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang terbuka ruang kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan," terangnya.

Perry menyebut Bank Indonesia telah memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan dalam kisaran 10-12% (y-o-y) pada 2019 dan 11%--13% (y-o-y) pada 2020. Untuk pertumbuhan DPK diprakirakan dalam kisaran 7%--9% (y-o-y) pada 2019 dan 8%--10% (y-o-y) pada 2020.

Asal tahu saja, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suku bunga acuan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top