Harga Minyak Meroket, Kocek Taipan Ini Bertambah Rp28,2 Triliun Sehari

Lonjakan harga minyak besar-besaran akibat serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco memberi berkah luar biasa bagi Harold Hamm. Taipan berusia 73 tahun ini bagai mendapatkan durian runtuh.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 17 September 2019  |  12:13 WIB
Harga Minyak Meroket, Kocek Taipan Ini Bertambah Rp28,2 Triliun Sehari
Asap terlihat di fasilitas pabrik minyak Aramco di kota timur Abqaiq, Arab Saudi, yang diserang pada 14 September 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Lonjakan harga minyak besar-besaran akibat serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco memberi berkah luar biasa bagi Harold Hamm. Taipan berusia 73 tahun ini bagai mendapatkan durian runtuh.

Harga saham Continental Resources Inc., perusahaan produksi dan eksplorasi migas yang didirikan Hamm, melonjak 22 persen pada perdagangan Senin (16/9/2019), kenaikan terbesar sejak 2016.

Dalam sehari, pundi-pundi kekayaan bersih Hamm kontan bertambah sebesar US$2 miliar (setara dengan Rp28,2 triliun, Rp14.100 per dolar AS), jauh melebihi miliarder manapun dalam daftar Bloomberg Billionaires Index.

Lonjakan saham yang dibukukan pada Senin tersebut sekaligus memulihkan penurunan yang dialami perusahaan sepanjang tahun ini. Hingga Jumat (13/9/2019), saham Continental merosot 20 persen, berdasarkan data Bloomberg.

Peningkatan serupa berlaku untuk nilai kekayaan Hamm, yang kini mencapai US$11,6 miliar. Dia memiliki porsi kepemilikan sebesar 77 persen dalam perusahaan yang berbasis di Oklahoma City, Amerika Serikat (AS) itu.

Seperti diketahui, pada Sabtu (14/9/2019), fasilitas minyak milik raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, terbakar setelah diserang drone. Serangan drone tersebut berdampak pada dua pabrik Aramco, yakni di Abqaiq dan Khurais.

Saudi Aramco kehilangan sekitar 5,7 juta barel per hari dari produksinya pada Sabtu (14/9) setelah 10 pesawat tak berawak (drone) menghantam fasilitas Abqaiq dan ladang minyak terbesar kedua kerajaan di Khurais.

Serangan terhadap jantung produksi minyak Arab Saudi itu serta merta mendongkrak harga minyak. Pejabat Aramco apalagi disebut-sebut tidak optimistis bahwa akan ada pemulihan yang cepat dalam hal produksi.

Pada akhir perdagangan Senin (16/9), harga minyak Brent untuk kontrak November 2019 ditutup melonjak 15 persen di level US$69,02 per barel di ICE Futures Europe.

Brent futures di London bahkan sempat mencatat rekor lonjakan US$12 per barel pada awal perdagangan Senin (16/9), sebelum mengakhiri pergerakannya tepat di atas level US$69 dan membukukan kenaikan persentase harian terbesar sejak kontrak minyak ini mulai diperdagangkan pada tahun 1988.

Menurut Goldman Sachs Group, minyak mentah acuan global ini dapat terus naik melampaui level US$75 per barel jika penghentian produksi di Abqaiq bertahan hingga lebih dari enam pekan.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober 2019 ikut berakhir melonjak 15 persen di level US$62,90 per barel, level penutupan tertinggi sejak 21 Mei. Baik volume perdagangan untuk Brent maupun WTI dilaporkan menyentuh rekor level tertingginya.

Harga minyak kemungkinan akan tetap naik setelah pejabat pemerintah Saudi mengecilkan prospek untuk pemulihan kapasitas produksi dengan cepat.

Menurut sumber terkait, Saudi Aramco bisa menghadapi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum sebagian besar produksi dari kompleks pemrosesan minyak mentah Abqaiq dipulihkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top