Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Diprediksi Kembali Pangkas Suku Bunga 25 Basis Poin

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, September 2019, bank sentral diprediksi akan memangkas kembali suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 18 September 2019  |  13:14 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Menyusul pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa, Bank Indonesia diprediksi kembali memangkas suku bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, September 2019, bank sentral diprediksi akan memangkas kembali suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).

"Meski masih menunggu sinyal The Fed nanti malam tapi kemungkinan turun lagi jadi 5,25%," terang Andry kepada Bisnis.com, Rabu (18/9/2019).

Andry memerinci bahwa dengan kondisi inflasi dalam negeri yang terkendali, Bank Indonesia memiliki ruang untuk kembali memangkas suku bunga guna menurunkan cost of borrowings perusahaan.

Dia menyatakan Indonesia masih menjadi negara emerging market yang relatif stabil sepanjang perang dagang dan perlambatan ekonomi global.

Tercermin dari inflasi Agustus sebesar 3,49%, yang masih di bawah target 3,5% sampai 4,5%. Selain itu dari sejumlah momentum krisis dunia, Indonesia juga relatif masih baik.

"Sekarang memang Indonesia pertumbuhannya 5,06% pada 2019, peluangnya bagaimana mendorong sisi household spending." 

Kenaikan inflasi pada Agustus 2019 juga dikarenakan tekanan pada harga emas.

Menurut Andri, kenaikan harga emas semata karena kondisi emas sebagai komoditi safe heaven bagi investor.

Di lain pihak untuk komoditas yang paling tinggi volatilitasnya, yaitu pangan malah tak menyumbangkan inflasi. Hal ini karena harga pangan mulai stabil usai momentum Lebaran.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan
Editor : Achmad Aris

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top