Pembiayaan Otomotif Lesu, Multifinance Pilih Salurkan Duit Tunai

Perusahaan multifinance didorong untuk menyalurkan dana tunai guna menopang bisnis pembiayaan kendaraan yang tengah melambat.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 30 September 2019  |  16:59 WIB
Pembiayaan Otomotif Lesu, Multifinance Pilih Salurkan Duit Tunai
Ilustrasi leasing kendaraan bermotor - www.raceworld.tv

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan multifinance didorong untuk menyalurkan dana tunai guna menopang bisnis pembiayaan kendaraan yang tengah melambat.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, telah terjadi perubahan perilaku konsumen, terutama pada kalangan millenial.

Golongan ini telah masuk usia produktif, tetapi tidak lagi menjadikan kendaraan bermotor sebagai kebutuhan utama. Kebanyakan dari mereka lebih suka memanfaatkan sarana transportasi online.

Hal itu, dia temukan dalam konferensi skala internasional antara perusahaan pembiayaan di Bangkok, Thailand beberapa waktu yang lalu.

Di Thailand, pembiayaan otomotif turun 6% secara tahunan. Namun, penyaluran dana tunai terus menunjukkan pertumbuhan.

Sementara itu, di Eropa, pembiayaan otomotif terbesar masih dipegang oleh Jerman 60%, sisanya pembiayaan terbesar justru berasal dari dana tunai.

“Saya harap kita semua sebagai pelaku usaha pembiayaan dapat melihat ini. Kalau kita hanya biasa-biasa saja menghadapi ini, suatu saat portofolio kita bisa hilang apalagi fokus konsentrasi kita hanya di pembiayaan yang tidak kemana-mana yaitu, otomotif dan alat berat,” katanya kepada Bisnis, dalam sosialisasi APPI pekan lalu.

Padahal, lanjutnya, POJK yang baru (POJK No. 35/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan) telah memperluas kegiatan usaha multifinance, terutama untuk pembiayaan modal kerja berupa fasilitas modal kerja atau fasilitas dana. Hal itu juga sejalan dengan upaya OJK untuk mendorong pembiayaan produktif.

Sebenarnya hampir seluruh perusahaan sudah masuk ke pembiayaan produktif, tetapi tidak mau disiplin dalam melakukan sub klasifikasi. Klasifikasi yang dilakukan sebatas pembiayaan investasi, modal kerja, dan multiguna.

“Kalau disiplin, kita bisa melakukan penggolongan sektor mana yang bisa dekat dengan industri tersebut, misalnya ekonomi kreatif dan pariwisata,” kata Suwandi.

Direktur PT BCA Finance Amirdin Halim mengatakan, perusahaan telah memiliki produk multiguna dengan plafon senilai Rp30 juta. Adapun pembiayaan mencapai Rp400 miliar-Rp500 miliar setelah berjalan 2 tahun lebih.

“Ke depannya pasti akan ditingkatkan lagi. Ini salah satu strategi dalam menghadapi stagnasi pembiayaan,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Indomobil Finance Indonesia Gunawan Effendi mengatakan perusahaan sudah mulai melakukan diversifikasi produk, seperti ke pembiayaan kendaraan bekas. Namun, untuk dana tunai perusahaan masih dalam tahap persiapan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
multifinance

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top