Menilik Bisnis Gadai Syariah Hingga Agustus 2019

PT Pegadaian (Persero) terus membukukan bisnis pinjaman berbasis gadai syariah secara signifikan pada tahun ini. Sementara itu, gadai syariah di sektor swasta masih sepi.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  12:55 WIB
Menilik Bisnis Gadai Syariah Hingga Agustus 2019
Suasana layanan di kantor pusat Pegadaian, Jakarta, Rabu (3/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Pegadaian (Persero) terus membukukan bisnis pinjaman berbasis gadai syariah secara signifikan pada tahun ini. Sementara itu, gadai syariah di sektor swasta masih sepi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, PT Pegadaian (Persero) mencatatkan pembiayaan syariah senilai Rp9,02 triliun per Agustus 2019, tumbuh signifikan sebesar 46,08% dibandingkan dengan Agustus 2018 senilai Rp6,18 triliun.

Dibandingkan dengan total bisnis perseroan, pembiayaan syariah masih sekitar 19,81% dari total pembiayaan yang telah disalurkan oleh Pegadaian senilai Rp45,55 triliun. 

Adapun komposisi dari pembiayaan syariah per Agustus 2019, sebanyak 62,68% berasal dari produk rahn, senilai Rp5,65 triliun. Kedua, sebesar 36,50% atau senilai Rp3,29 triliun berasal dari produk rahn tasjily, dan lainnya senilai Rp75 miliar atau sekitar 8,31%.

Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk Pegadaian Harianto Widodo mengatakan peningkatan tersebut didorong dari pengembangan produk baru untuk meningkatkan pasar syariah. “Peningkatan karena produk baru seperti Arrum Haji dan Rahn Tanah,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (6/10).

Rahn tanah  merupakan pemberian pinjaman menggunakan surat hak milik (SHM) atau sertifikat hak guna bangunan (SHGB) untuk pengusaha mikro, petani, karyawan, dan profesional. Plafon yang disediakan berkisar Rp1 juta -- Rp2 juta dengan jangka waktu 12 bulan -- 60 bulan. Hingga Juni 2019, outstanding produk tersebut mencapai lebih dari Rp200 miliar. 

Sementara itu, Arrum Haji merupakan pembiayaan untuk mendapatkan porsi ibadah haji secara syariah dengan jaminan berupa emas kurang lebih 3,5 gram. 

“Kami mengembangkan semua produk kepada digitalisasi, termasuk produk-produk syariah,” katanya. 

Per 1 Juli 2018, sebanyak 77 outlet konvensional di Madura dikonversi menjadi outlet syariah, sehingga komposisi outlet Syariah menjadi 681 cabang dan konvensional menjadi 3.640 kantor. 

Seperti diketahui, Pegadaian masih menjalankan bisnis syariahnya lewat unit usaha syariah (UUS). Menurut Harianto, belum ada desakan dari Otoritas Jasa Keuangan untuk memisahkan UUS menjadi badan usaha tersendiri. 

Berdasarkan POJK No. 31 /POJK.05/2016 Tentang Usaha Pergadaian, pergadaian diperbolehkan menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Namun, belum ada aturan yang mewajibkan untuk melakukan spin off. 

Menurutnya, Pegadaian tidak akan terburu-buru melakukan spin off karena dikhawatirkan biaya akan membengkak. Dia memprediksi spin off akan dilakukan pada 3--4 tahun ke depan. 

Sementara itu, dari sektor pergadaian swasta, Manajer Eksekutif Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia (PPGI) Guladi mengatakan sudah ada tiga perusahaan gadai swasta yang melayani gadai berprinsip syariah dari total 76 gadai swasta terdaftar. 

Menurutnya, memang belum banyak masyarakat ekonomi syariah yang berminat untuk mendirikan usaha pergadaian syariah.

“Mungkin skala masih kecil dan industri jasa gadai masih mencari bentuk atau masih dalam tahap pengembangan. Kalau masyarakat umum pengguna jasa gadai syariah tetap berminat jika ada outlet syariah,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pegadaian, syariah

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top