Bagaimana Nasib Bank Muamalat Setelah Ma'ruf Amin ke Istana?

Saat masih menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat, Ma’ruf sempat mengatakan bahwa pemerintah perlu turun tangan membantu persoalan Muamalat.
Muhammad Khadafi & M. Richard
Muhammad Khadafi & M. Richard - Bisnis.com 18 Oktober 2019  |  11:44 WIB
Bagaimana Nasib Bank Muamalat Setelah Ma'ruf Amin ke Istana?
Bank Muamalat - Istimewa

Berulang kali manajemen PT Bank Muamalat Tbk. menyebutkan akan mendapatkan investor baru. Berulang kali pula bank syariah tertua itu belum juga menemukan titik terang.

Kali ini muncul secercah harapan baru. Di tengah ketidakjelasan investor dan restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muamalat kini punya akses sangat dekat dengan kekuasaan.

Seperti diketahui, tinggal menghitung hari Ma’ruf Amin akan dilantik sebagai wakil presiden Republik Indonesia. Pria yang menyandang titel kiai haji ini diharapan memberi angin segar bagi industri perbankan syariah.

Tidak heran memang, karena Ma’ruf bukan orang baru di industri keuangan ekonomi syariah. Sebelum menuju Istana, Ma’ruf menjabat sebagai ketua dewan pengawas pada tiga bank syariah ternama.

Satu di antaranya adalah Bank Muamalat. Ma’ruf menduduki kursi DPS selama lebih kurang 17 tahun di bank syariah tertua tersebut, atau sedari 2002.  

Apalagi saat masih menjabat sebagai ketua DPS, Ma’ruf sempat mengatakan bahwa pemerintah perlu turun tangan membantu persoalan Muamalat. “Saya kira pemerintah itu tentu harus memfasilitasi dan mudah-mudahan tidak lama lagi selamat,” katanya singkat usai Rapat dewan syariah di Muamalat Tower, September tahun lalu.

Perjalanan menuju RI-2 pun seiring dengan perjalanan Muamalat mencoba membenahi kinerja. Bisnis mencatat perusahaan yang didirikan pada 1 November 1991 oleh kelompok Islam ini mencari kucuran dana segar lebih kurang sejak 2 tahun lalu.

Dana segar tersebut hendak digunakan untuk menambal aset bermasalah yang membengkak. Melihat sejarah awalnya, alarm non performing finance (NPF) Muamalat menyala sejak 2013. Tanda bahaya menyentuh puncaknya pada 2015, di mana rasio pembiayaan bermasalah kotor perusahaan mencapai 7,11% atau lebih kurang hampir Rp3 triliun.

Jumlah itu terhitung sangat besar. Angkanya hampir serupa dengan modal inti perusahaan kala itu, yang per 31 Desember 2015 sebesar Rp3,13 triliun.

Kebutuhan penyehatan Muamalat pun tampak kian mendesak. Kinerja bank pada paruh kedua tahun ini memburuk seiring dengan merosotnya kemampuan rentabilitas bank.

AGENDA MA'RUF

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin berpendapat proses penyelamatan Bank Muamalat merupakan satu agenda amat penting yang akan dibawa oleh calon wakil presiden Ma’ruf Amin.

"Maka sebenarnya, bank milik pemerintah akan memiliki sedikit pilihan dalam hal ini. Jalannya memang bisa berbagai macam, tetapi yang relevan adalah dengan menggunakan bank BUMN [badan usaha milik negara]," katanya belum lama ini.

Urgensi penyelamatan Muamalat sama seperti penyelamatan Bank Century pada 2008 . Keputusan politik yang kuat bisa menyelamatkan bank syariah tertua tersebut.

Menurutnya, bank-bank pelat merah yang masih memiliki modal lebih tengah menunggu perintah. "Jadi semua pada akhirnya akan menjadi keputusan politik," ujar Amin.

Adapun saat ini negara memiliki empat bank pelat merah, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Seluruhnya memiliki bank syariah atau unit usaha syariah.

Sebanyak tiga dari empat bank memiliki kelebihan modal untuk ekspansi anorganik. Satu di antaranya, BTN tengah berupaya menambah permodalan seiring dengan kenaikan rasio kredit bermasalah dan persiapan implementasi PSAK 71.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee berpendapat penyalamat Bank Muamalat harus dari pemerintah melalui bank BUMN. Pasalnya, Muamalat juga pernah menawarkan sahamnya ke publik, tetapi tidak ditanggapi dengan baik.

"Saya rasa, skema penyelamatan dengan menggunakan bank BUMN bisa menjadi pilihan, dan cukup relevan untuk saat ini," katanya.

Lagi pula, menurutnya, masuknya bank pelat merah dalam stuktur organisasi Bank Muamalat akan membantu operasional dan menambah keyakinan pasar saham terhadap perseroan tersebut. Satu kesalahan yang telah dibuat bank adalah terlalu dekat dengan nasabah.

Selain itu, pasar saham pun terlihat tidak terlalu bergejolak terhadap isu akuisisi Muamalat oleh bank negara. "Aksi korporasi ini justru untuk mengarah ke perbaikan. Kalau ada gejolak, itu hanya sebatas dinamika bisnis," katanya.

Apakah bank pelat merah bakal menjadi juru selamat Bank Muamalat setelah Ma'ruf Amin melenggang ke Istana? 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank muamalat

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top