Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Fluktuatif, Simak Strategi Investasi ala Commonwealth Bank

Belakang, dunia sedang dihebohkan dengan virus corona yang berdampak pada ekonomi global. Ditambah lagi dengan pasar saham Indonesia terkoreksi cukup dalam. Bagaimana strategi investasi di bulan ini?
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  17:10 WIB
Ilustrasi investasi - Istimewa
Ilustrasi investasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah ketidakpastian global dan domestik, Anda yang berencana melakukan investasi pada bulan ini disarankan untuk mengalihkan ke produk yang memiliki risiko kecil.

Namun, bagi Anda yang suka dengan risiko, masih disarankan untuk menambah portofolio di reksa dana saham. Sebab, pada bulan ini kinerja pasar modal masih berada dalam zona merah.

Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengungkapkan strategi investasi yang bisa diterapkan pada bulan ini adalah menambah portofolio di reksa dana saham bagi investor yang memiliki profil risiko agresif dan menambahkan instrumen pendapatan tetap yakni obligasi ke dalam portofolio bagi investor yang memiliki profil risiko moderat.

Dia menuturkan obligasi yang merupakan surat utang yang berisi janji dari penerbit surat utang untuk membayar sejumlah imbalan berupa bunga dalam suatu periode tertentu dan akan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pembeli surat utang tersebut, memberikan tiga keuntungan bagi investor.

Pertama, investor akan mendapatkan kupon secara berkala, yang tingkat kuponnya biasanya lebih tinggi dari bunga deposito. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kupon seperti kredibilitas penerbit, jangka waktu obligasi, tingkat inflasi, tingkat suku bunga acuan, dsb.

Kedua, berpotensi memperoleh capital gain, jika obligasi tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Ketiga, risiko obligasi lebih rendah dibandingkan dengan instrumen saham. Harga obligasi di pasar sekunder cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan instrumen saham.

Bahkan untuk obligasi yang diterbitkan pemerintah, para pelaku pasar sepakat bahwa instrumen tersebut merupakan instrumen yang bebas risiko alias risk free.

Untuk tahun 2020 ini, pemerintah rencananya akan menerbitkan surat berharga negara (SBN) ritel sebanyak 6 kali yakni seri ORI dan SR masing-masing hanya 1 kali penerbitan, sementara seri SBR dan ST masing-masing sebanyak 2 kali penerbitan.

Seri perdana SBN ritel tahun ini telah ditawarkan pemerintah pada akhir Januari lalu yakni SBR009 dengan masa pemesanan 27 Januari – 13 Februari 2020. Sementara SBN Ritel berikutnya rencananya akan ditawarkan pada 24 Februari 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi Obligasi manajer investasi
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top