Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laba BRI Agro Layu Akibat Ulah 12 Debitur

Penurunan kualitas kredit menjadi faktor utama laba BRI Agro terkoreksi pada tahun lalu.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 19 Februari 2020  |  20:07 WIB
Karyawan melakukan aktivitas di kantor cabang PT BRI Agroniaga Tbk, Jakarta, Rabu (26/9/2018). - JIBI/Endang Muchtar
Karyawan melakukan aktivitas di kantor cabang PT BRI Agroniaga Tbk, Jakarta, Rabu (26/9/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (BRI Agro) mencetak laba bersih senilai Rp51,06 miliar sepanjang 2019. Laba tersebut turun signifikan sebesar 75 persen secara tahunan.

Direktur Utama BRI Agro Ebeneser Girsang mengatakan penurunan kualitas kredit menjadi faktor utama laba perseroan terkoreksi pada tahun lalu. Rasio kredit kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net tercatat berada di level 4,86 persen pada 2019, sementara pada 2018 tercatat sebesar 1,78 persen.

Dua debitur kakap di sektor properti dan agribisnis menyumbang 50 persen dari total kredit bermasalah. Sementara 10 debitur lainnya turut menyumbang porsi NPL sebesar 10 persen.

Dengan demikian, ke-12 debitur tersebut berkontribusi sebesar 60 persen dari kredit bermasalah anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. ini pada 2019.

Ebeneser menyampaikan ke depannya perseroan akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

"Kami sudah melihat permasalahan 2019 kualitas kredit sangat menekan laba. Jadi, ada tantangan di beberapa debitur yang menggerus laba kami menjadi hanya tinggal Rp50 miliar. 12 debitur ini mungkin bobotnya 60 persen terhadap NPL," katanya, Rabu (19/2/2020).

Disamping kenaikan NPL, Ebeneser mengatakan struktur pendanaan perseroan juga masih didominasi oleh dana mahal, di mana porsi dana murah (current account saving account/CASA) tercatat masih di bawah 20 persen.

Hal tersebut menyebabkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan tertekan. Strategi pada 2020, lanjutnya, perseroan akan mulai menggeser atau menambah porsi kredit ritel dan konsumer yang diharapkan dapat memberi yield yang lebih tinggi.

Selain itu, perseroan akan fokus mengembangkan digital banking. Selain cara konvensional yang sudah ada, BRI Agro akan menggunakan pendekatan digital, di mana kerja sama produk digital loan perseroan, Pinjaman Tenang (Pinang), akan semakin diperluas.

"2020 kami akan banyak melakukan penyempurnaan di fitur digital banking, di samping menambah alat transaksi, baru 2 tahun ini kami kembangkan internet banking, ke depan QR code, yang memang diperlukan untuk mengakselerasi CASA," jelas Ebeneser.

Adapun pada 2019, perseroan mencatat peningkatan total aset sebesar 16,10 persen yoy, dari sebesar Rp23,31 triliun menjadi Rp27,07 triliun pada 2019.

Pertumbuhan total aset tersebut ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 23,58 persen yoy, dari sebesar Rp15,67 triliun tahun 2018 menjadi Rp19,37 triliun pada 2019.

Kontribusi sektor agribisnis yang menjadi fokus perseroan adalah salah satu penopang pertumbuhan penyaluran kredit perseroan.

Porsi penyaluran kredit kepada sektor agribisnis sendiri tercatat sebesar 56 persen dengan penyaluran terbesar pada komoditas kelapa sawit yaitu sebesar 81,22 persen kemudian kehutanan dan kayu sebesar 4,17 persen, gula sebesar 3,9 persen, dan lain-lainnya sebesar 10,98 persen.

Dari sisi liabilitas, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BRI Agro tercatat meningkat sebesar 17,05 persen yoy, dari senilai Rp18,06 triliun menjadi Rp21,14 triliun pada 2019.

Komposisi DPK terdiri dari deposito sebesar 85,69 persen, sedangkan produk giro dan tabungan masing-masing memiliki komposisi sebesar 9,12 persen dan 5,18 persen terhadap total DPK.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bri agro
Editor : Annisa Sulistyo Rini
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top