Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utang Valas Berpotensi Meningkat di Tengah Wabah Corona

ULN berpotensi meningkat karena pemerintah akan terus gencar menerbitkan surat berharga negara (SBN) dalam rangka menutup defisit anggaran yang melebar akibat wabah virus corona.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 16 Maret 2020  |  21:09 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) masih berpotensi untuk terus meningkat di tengah mewabahnya virus corona atau Covid-19.

Dari data Bank Indonesia (BI), pada akhir bulan Januari 2020 posisi ULN Indonesia sebesar US$410,8 miliar yang terdiri dari ULN sektor publik sebesar US$ 207,9 miliar dan sektor swasta US$203 miliar.

Secara keseluruhan, ULN Indonesia tumbuh melambat 7,5% (yoy), lebih lambat dari Desember 2019 dimana ULN Indonesia tumbuh 7,7% (yoy).
Perlambatan ini terutama disebabkan oleh ULN swasta yang tumbuh lambat di angka 5,8% (yoy), lebih lambat dari Desember 2019 dimana ULN masih mampu tumbuh 6,5% (yoy).
ULN pemerintah per Januari 2020 tercatat mencapai US$204,9 miliar atau tumbuh 9,5% (yoy). Pertumbuhan ini didominasi oleh arus dana investor asing pada surat berharga negara (SBN) baik domestik maupun global.
Posisi SBN global pada Januari 2020 tumbuh US$2,7 miliar atau tumbuh 8,1% (yoy), sedangkan SBN domestik meningkat US$2,4 miliar atau 21,9% (yoy).
Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet mengatakan ULN berpotensi meningkat didasarkan sejumlah hal. Salah satunya, pemerintah akan terus gencar menerbitkan surat berharga negara (SBN) dalam rangka menutup defisit anggaran yang melebar.
Pemerintah sendiri sudah mengumumkan defisit anggaran bertambah sebesar Rp120 triliun dengan defisit melebar dari 1,76% PDB menjadi 2,5% PDB.
Implikasinya, hal ini memicu perebutan likuiditas antara pemerintah dengan swasta dan sering kali swasta yang kalah dalam perebutan ini. Dengan ini, swasta pun terpaksa harus memenuhi kebutuhan pembiayaan dengan menarik utang dari luar negeri.
Alhasil, kondisi ini menempatkan swasta Indonesia dalam posisi yang rentan karena ketergantungan banyak korporasi Indonesia terhadap harga komoditas yang saat ini terus turun.
"Jika harga komoditas berkurang maka kemampuan untuk membayar utang jatuh tempo berkurang sehingga harus melakukan utang untuk membayar utang jatuh tempo," kata Yusuf, Senin (16/3/2020).
Dengan ini, otoritas pun memiliki pekerjaan rumah agar transmisi dari relaksasi moneter yang sudah dilakukan terhitung sejak semester II/2019 bisa semakin cepat agar swasta tidak harus bergantung pada pembiayaan utang luar negeri di tengah situasi global yang tidak menentu.
Ekonom Indef Abdul Manap Pulungan mengatakan ULN swasta memiliki potensi untuk terus menurun karena perlambatan ekonomi global serta domestik. "Tidak masuk akal bagi swasta untuk menarik utang saat keadaan ekonomi sedang melambat," ujarnya, Senin (16/3/2020).
Namun, bisa saja ada swasta yang secara spekulatif menarik utang jangka panjang dengan bunga fix rate di tengah tren suku bunga acuan yang rendah.
Menurutnya, saat ini sesungguhnya adalah peluang yang pas bagi swasta untuk melunasi utang luar negerinya mengingat rendahnya suku bunga. Namun, menyicil utang luar negeri pun menjadi sulit karena ada trade off dimana saat ini nilai tukar rupiah telah melemah di atas Rp15.000 per dolar AS.
Belum lagi, arus kas dari korporasi di Indonesia saat ini sedang tertekan akibat situasi perekonomian yang sedang tidak normal akibat dampak ekonomi dari Covid-19

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat berharga negara utang luar negeri
Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top