Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Desak Bank Sentral India Borong Obligasi Besar-besaran

para trader kini mendesak RBI mengikuti jejak bank sentral lain untuk mengeluarkan program pembelian obligasi besar-besaran.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  09:31 WIB
Petugas menyemprotkan disinfektan di dekat monumen India Gate di New Delhi, 22 Maret 2020./Prashanth Vishwanathan - Bloomberg
Petugas menyemprotkan disinfektan di dekat monumen India Gate di New Delhi, 22 Maret 2020./Prashanth Vishwanathan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Reserve Bank of India (RBI) melakukan pemangkasan suku bunga darurat dan menjanjikan suntikan likuiditas sebesar US$50 miliar pada Jumat pekan lalu.

Namun, para trader kini mendesak RBI mengikuti jejak bank sentral lain untuk mengeluarkan program pembelian obligasi besar-besaran. Sebagian trader memprediksi RBI akan membeli surat utang dari pasar atau pemerintah adalah Deutsche Bank AG dan Barclays Plc.

Investor mengandalkan dukungan RBI ketika muncul kekhawatiran mengenai kapasitas pemerintah untuk mengucurkan paket stimulus senilai 1,7 triliun rupee atau US$22,6 miliar untuk melawan pandemi virus Corona.

Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman yang mengumumkan paket stimulus pada Kamis pekan lalu menegaskan India memerlukan lebih banyak pembiayaan. 

"Dimensi penting yang tersisa adalah operasi pasar terbuka yang sangat besar untuk program pembelian obligasi. Format global yang kini berkembang yakni ekspansi moneter mendukung kebijakan fiskal. India perlu melakukan hal yang sama," kata Suyash Choudhary, kepala pendapatan tetap di IDFC Asset Management Co, dilansir Bloomberg, Senin (30/3/2020). 

Risiko pasar obligasi diperkirakan akan mengalami lonjakan imbal hasil tanpa adanya dukungan dari RBI, lanjut Choudhary. Dia memprediksi bahwa India akan semakin meningkatkan stimulus fiskal di bulan-bulan mendatang. Hal itu karena karantina nasional selama tiga minggu akan menimbulkan pukulan lebih keras pada ekonomi yang telah melambat. 

Sementara itu, kurva imbal hasil obligasi India meningkat karena para trader menyambut langkah besar RBI memangkas suku bunga acuan. Namun, sebagian dari keuntungan awal lenyap oleh penutupan perdagangan. 

Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berakhir  8 basis poin lebih rendah setelah jatuh sebanyak 24 basis poin menjadi 5,98 persen, terendah sejak 2009. Imbal hasil itu jatuh dari level tertinggi tahun ini karena RBI melakukan pembelian obligasi pasar terbuka dan juga menyuntikkan likuiditas rupee murah. 

Meski begitu, seruan untuk melakukan lebih banyak upaya meningkat karena investor menunggu detail rencana pinjaman pemerintah untuk paruh pertama tahun fiskal berikutnya, yang akan diumumkan hari ini. Pemerintah pada Februari lalu mengatakan berencana untuk meminjam 7,8 triliun rupee.

"Bank sentral akan memiliki sedikit pilihan selain melakukan pembelian Open Market Operations skala besar dan bahkan mungkin membeli obligasi pemerintah di pasar primer," kata Kaushik Das, Kepala ekonom India di Deutsche Bank. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi india stimulus moneter

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top