Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indikator Stabilitas Rupiah Minggu Ini, BI: Rupiah Melemah, Yield SBN Stabil

Dalam laporan Perkembangan Indikator Stabilitas Rupiah yang dirilis Jumat (12/6/2020), bank sentral mencatat rupiah melemah ke level Rp14.189 per dolar AS hingga Jumat dari posisi Rp13.850.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Juni 2020  |  16:55 WIB
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Rabu (27/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Rabu (27/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia merilis indikator perkembangan nilai tukar rupiah serta inflasi dalam sepekan terakhir hingga Jumat (12/6/2020), dalam rangka memantau perkembangan stabilitas perekonomian dari dampak pandemi Covid-19.

Dalam laporan Perkembangan Indikator Stabilitas Rupiah yang dirilis Jumat (12/6/2020), bank sentral mencatat rupiah melemah ke level Rp14.189 per dolar AS hingga Jumat  dari posisi Rp13.850. Pelemahan rupiah makin dalam setelah hari ini ditutup terkoreksi 159 poin atau 1,21 persen dari posisi Rp13.950 pada Kamis (11/6/2020).

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pada Kamis (11/6) menguat ke level 7,16 persen, dan cenderung stabil di level 7,30 persen pada Jumat.

Adapun, BI mencatat indeks dolar Amerika Serikat, yang merupakan indikator pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang negara utama melemah ke level 96,73. Adapun yield obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun ke level 0,669 persen.

Indikator lain seperti premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia bertenor 5 tahun naik ke 131,96 basis poin (bps) pada Kamis dari posisi 5 Juni sebesar 113,59 bps.

Hingga Kamis, bank sentral mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp8,04 triliun, dengan porsi Rp7,51 triliun di pasar SBN dan Rp531,66 miliar di pasar saham. Dengan ini, net sell investor asing tercatat mencapai Rp136,75 triliun ke kedua pasar sejak awal tahun 2020.

BI juga mencatat inflasi cenderung rendah dan terkendali. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada pekan 8-12 Juni 2020, inflasi Juni 2020 diperkirakan mencapai 0,02 persen (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya. Sejak awal tahun (ytd), inflasi mencapai 0,93 persen, sedangkan inflasi yoy sebesar 1,79 persen.

Penyumbang utama inflasi dalam periode ini berasal dari komoditas daging ayam ras sebesar 0,11 persen (mtm), telur ayam ras 0,03 persen (mtm), bawang merah 0,02 persen (mtm), serta tomat dan kentang masing-masing sebesar 0,01persen (mtm).

Sementara itu, komoditas utama yang menyumbang deflasi antara lain bawang putih, cabai merah dan tarif angkutan udara masing-masing sebesar -0,03 persen (mtm); cabai rawit, jeruk dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,02 persen (mtm); serta gula pasir -0,01 persen (mtm).

Dalam laporan tersebut, Kepala Departemen Komunkasi BI Onny Widjanarko menyebut bank sentral akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor laju penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian.

Langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap baik dan berdaya tahan,” ungkap Onny dalam rilis indikator stabilitas rupiah tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah Inflasi sbn
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top