Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Alat Pembayaran E-wallet Geser Posisi Kartu Debit, Ovo di Peringkat Pertama

Dalam riset Rapyd, Asia Pasific eCommerce and Payment Guide 2020, yang dilakukan pada April 2020, menunjukkan transaksi daring menggunakan e-wallet tercatat telah melampaui penggunaan kartu debit dan ATM bank dalam sebulan terakhir.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 12 Juni 2020  |  13:19 WIB
/ OVO
/ OVO

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan dompet digital (e-wallet) sebagai alat pembayaran yang ramai digunakan dalam beberapa tahun terakhir mulai menggeser posisi alat pembayaran besutan bank, seperti kartu debit dan ATM.

Dalam riset Rapyd, Asia Pasific eCommerce and Payment Guide 2020, yang dilakukan pada April 2020, menunjukkan transaksi daring menggunakan e-wallet tercatat telah melampaui penggunaan kartu debit dan ATM bank dalam sebulan terakhir.

Popularitas kartu debit perbankan kian menurun seiring dengan e-wallet yang banyak digunakan untuk melakukan transaksi harian.

“Konsumen lebih banyak memilih alat pembayaran e-wallet daripada transfer bank,” tulis riset tersebut, yang dikutip Bisnis, Jumat (12/6/2020).

Dompet digital Ovo berada pada peringkat pertama sebagai alat pembayaran yang paling sering digunakan, tercatat sebesar 60 persen dalam sebulan terakhir. Sementara itu, kartu debit, menempati posisi kedua yakni sebesar 64 persen. 

Transaksi menggunakan mesin ATM juga ternyata masih populer digunakan. Tercatat, penggunaan mesin ATM dalam sebulan terakhir adalah sebesar 64 persen. Transaksi menggunakan mesin ATM ini berada pada peringkat ketiga alat transaksi yang paling sering digunakan.

Meski transaksi digital berkembang sangat pesat, ternyata riset menunjukkan bahwa uang tunai juga masih marak digunakan.

Pembayaran berupa cash on delivery tercatat berada di peringkat kelima, yaitu sebesar 53 persen dan pembayaran tunai langsung di merchant berada di peringkat keenam, sebesar 43 persen.

Hal ini dikarenakan penetrasi gawai (smartphone) dan internet, masing-masingnya baru mencapai 40 persen dan 32 persen dari total seluruh penduduk di Indonesia.

Sehingga, peluang dan pasar untuk alat pembayaran digital dinilai masih sangat besar di Indonesia. Pelaku bisnis masih bisa memperbesar market share dengan menawarkan opsi alat pembayaran yang lebih luas kepada konsumen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sistem pembayaran fintech Digital Banking
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top