Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lanjut Merger dengan BJB? Ini Komentar Terbaru Direksi Bank Banten (BEKS)

Direktur Bank Banten Kemal Idris mengatakan seluruh proses tindak lanjut letter of intent telah berakhir pada Agustus 2020 lalu. Hanya saja, hingga saat ini, hasil proses uji tuntas atau due diligence atas rencana penggabungan atau pengambilan usaha belum disampaikan kepada BEKS.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 29 September 2020  |  12:25 WIB
PT Bank Pembangunan Daerah Banten (BEKS). - Dok. Bank Banten
PT Bank Pembangunan Daerah Banten (BEKS). - Dok. Bank Banten

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana merger PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. (BEKS) dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. belum menemukan titik terang hingga saat ini.

Direktur Bank Banten Kemal Idris mengatakan seluruh proses tindak lanjut letter of intent telah berakhir pada Agustus 2020 lalu. Hanya saja, hingga saat ini, hasil proses uji tuntas atau due diligence atas rencana penggabungan atau pengambilan usaha belum disampaikan kepada BEKS.

"Hasil due diligence belum disampaikan Bank BJB, kami belum dapat info due diligence," katanya dalam public expose yang digelar secara daring, Selasa (29/9/2020).

Menurutnya, pemegang saham pengendali yakni pemerintah provinsi Banten juga sudah menyampaikan kepada otoritas bahwa pihaknya ingin berupaya secara mandiri ingin menyehatkan BEKS. Upaya penyehatan tersebut dilakukan dengan melakukan rights issue yakni melalui penawaran umum terbatas (PUT) VI dan PUT VII yang akan digelar nanti.

"Pemegang saham kami sudah sampaikan kepada otoritas ingin berupaya sehatkan secara mandiri," katanya.

Sebelumnya, ketika diwawancarai Bisnis, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan OJK telah memberikan kesempatan kepada pengurus BPD Banten untuk mencari modal tambahan untuk mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami perseroan tersebut. Pemda Banten pun memberikan persetujuan atas rencana mencari modal tambahan dengan melakukan rights issue.

Menurutnya, Bank Banten setidaknya membutuhkan tambahan modal sekitar Rp700 miliar hingga Rp800 miliar dalam upaya mendukung rencana penyehatan. Sebelumnya, Pemda Banten telah menyuntikkan dana senilai Rp1,55 triliun yang sebelumnya merupakan dana kas daerah yang ditempatkan di rekening Bank Banten.

Wahidin menegaskan semasih investor tertarik dengan pembelian saham baru yang akan diterbitkan perseroan, merger tidak perlu dilakukan. Apalagi, merger berpotensi akan menurunkan porsi saham pemerintah daerah Banten.

"Kalau merger saham kita jadi turun, kalau saya sih tidak mau merger, tergantung nanti bagaimana perkembangan yang akan dilaporkan direksi," katanya kepada Bisnis, Kamis (27/8/2020).

Adapun, Bank Banten berencana menerbitkan saham baru dengan seri dan nominal yang berbeda yaitu saham Seri C dengan nominal Rp50 per lembar. Jumlah saham baru yang rencananya akan diterbitkan melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) adalah sebanyak-banyaknya 60.820.296.033 saham Seri C dengan nilai nominal Rp50 per lembar saham.

Jumlah tersebut setara 90,46% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan. Nilai estimasi penambahan modal dari PUT VI adalah Rp1,55 triliun hingga Rp3,04 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan bank bjb Bank Banten emiten bank
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top