Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Punya M-Banking, Haruskah Asuransi Punya Aplikasi Khusus di Gawai?

Digitalisasi menjadi suatu keniscayaan bagi perusahaan asuransi, tetapi apakah diperlukan mobile apps khusus di telepon genggam?
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  11:05 WIB
Karyawan beraktifitas di dekat deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Pengembangan aplikasi atau mobile apps menjadi salah satu agenda penting bagi perusahaan jasa keuangan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, muncul pertanyaan, apakah perlu perusahaan asuransi memiliki aplikasi itu?

Presiden Direktur PT Central Asia Financial (Asuransi Jagadiri) Reginald Josiah Hamdani menjelaskan bahwa digitalisasi menjadi suatu keniscayaan bagi perusahaan asuransi. Pemanfaatan teknologi itu dapat mempermudah pelayanan bagi nasabah eksisting dan untuk menggaet calon nasabah.

Menurut Reginald, bentuk digitalisasi yang ada saat ini beragam, mulai dari digitalisasi pemasaran hingga pelayanan. Hal tersebut dapat dijumpai di situs resmi perusahaan, broker digital, juga aplikasi resmi yang dikembangkan sejumlah perusahaan asuransi jiwa.

Meskipun Jagadiri merupakan perusahaan asuransi yang memiliki basis utama online, Reginald menjelaskan bahwa pihaknya justru tidak mengembangkan mobile apps. Padahal pengembangan aplikasi seperti itu selalu menjadi 'senjata andalan' perusahaan-perusahaan lain dalam pengembangan digitalisasi.

"Kami tidak mengembangkan lebih lanjut mobile apps. Pengguna ponsel pintar memang tumbuh pesat, tetapi kebanyakan di [segmen] lowend, kapasitas memori mereka kurang sehingga sangat pilih-pilih untuk meng-install aplikasi, sedangkan aplikasi asuransi hanya dipakai saat beli, mengecek polis, dan klaim," ujar Reginald kepada Bisnis, Rabu (30/9/2020).

Dia menjelaskan bahwa aplikasi dapat dikembangkan dengan maksimal jika penggunaannya ada dalam intensitas cukup tinggi atau digunakan sehari-hari. Hal tersebut membuat Jagadiri tidak mengembangkan mobile apps karena tidak bersifat daily use.

Meskipun begitu, Reginald menjelaskan bahwa pihaknya mengutamakan pelayanan melalui situs resmi Jagadiri yang terintegrasi dengan saluran langsung, yakni layanan telepon dan pesan singkat oleh petugas. Menurutnya website dapat mudah diakses oleh siapapun tanpa membebani memori dari gawai.

Reginald pun menilai bahwa digitalisasi asuransi saat ini kerap belum maksimal karena baru sekadar memindahkan layanan konvensional ke medium digital. Padahal pemanfaatan teknologi memiliki potensi besar, salah satunya dengan membuat asuransi menjadi layanan yang lebih personal bagi setiap nasabah.

Pengembangan yang dapat dilakukan perusahaan asuransi di antaranya dengan menyesuaikan product manufacturing, mulai dari sisi cakupan manfaat, kanal penjualan, hingga strategi pemasarannya. Lalu, industri pun harus fokus menggarap omnichannel, yakni pelayanan yang terintegrasi antara online dengan offline.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi aplikasi mobile digital
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top