Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Resesi di Depan Mata, Simak Tips Investasi dari Para Ahli

Investor disarankan bersikap defensif di tengah situasi yang masih dilanda ketidakpastian. Memilah saham maupun sektor saham juga diperlukan untuk meminimalisasi risiko.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  14:59 WIB
Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat. - istimewa
Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Instrumen pasar uang dan reksa dana dinilai menjadi pilihan terbaik untuk berinvestasi di tengah volatilitas pasar yang masih terus terjadi pada sisa tahun 2020. Terlebih bayang-bayang resesi kian nyata setelah terjadi deflasi tiga bulan beruntun.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, di tengah kondisi pandemi, sebaiknya investor mengambil sikap defensif. 

Dia beralasan, masih cukup banyak ketidakpastian yang akan mengganggu industri keuangan seperti pemilihan presiden Amerika Serikat, dan kejelasan penanganan virus corona.

Untuk itu, sejumlah instrumen investasi masih dapat menjadi pilihan investor untuk menyimpan uangnya. 

Dengan penyaluran kredit yang lamban dan berlebihnya likuiditas, investor dapat memanfaatkan capital gain jika terjadi penurunan suku bunga.

“Yang cukup bagus adalah dengan memasukkan modal ke pasar uang dan sebagian lainnya di reksa dana pendapatan tetap (RDPT),” katanya dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan secara virtual, Kamis (1/10/2020).

Budi melanjutkan, investor juga berpotensi mendapatkan return yang cukup baik dari pasar saham. Oleh karena itu, ia merekomendasikan para investor untuk melakukan stock picking atau memilah saham.

Ia memperkirakan, pemulihan ekonomi dunia dan Indonesia yang kemungkinan akan membentuk pola huruf K akan memunculkan saham-saham top picks dan top losers di Indonesia.

Budi mencontohkan, di Amerika Serikat, pandemi virus corona mendatangkan berkah bagi perusahaan-perusahaan di sektor teknologi seperti Amazon dan Netflix.

“Investor perlu menahan posisinya ditengah volatilitas yang terjadi demi keuntungan yang akan didapat ke depannya,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Head of Research MNC Sekuritas Edwin Sebayang. Di sisa tahun 2020 Ia merekomendasikan investor untuk masuk ke pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap.

Sementara itu, untuk strategi tahun depan, ia juga menyarankan pemilik modal untuk memasuki pasar saham dengan melakukan sector picking. 

Menurutnya, apabila vaksin virus corona telah ditemukan dan didistribusikan. Hal ini dapat menjadi gambaran bagi para investor untuk menentukan portofolionya.

Ia melanjutkan, sektor-sektor seperti farmasi, rumah sakit, dan laboratorium kesehatan dapat ditinggalkan. Investor dapat beralih ke sektor yang memiliki potensi pertumbuhan besar seperti konstruksi dan properti.

“Saham-saham dengan dividend yield yang besar juga dapat menjadi pilihan untuk portofolio investasi,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG investasi Resesi
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top