Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Obligasi Ritel Diborong, Masyarakat +62 Disebut Makin Melek Investasi

hasil penjualan obligasi ritel pada tahun 2020 telah mencapai Rp71,36 triliun, tumbuh 45 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Pemahaman masyarakat terkait produk investasi yang semakin meningkat disebut menjadi salah satu faktor kenaikan penjualan obligasi ritel.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  14:13 WIB
Ilustrasi Sukuk Ritel SR13 - Instagram @djpprkemenkau
Ilustrasi Sukuk Ritel SR13 - Instagram @djpprkemenkau

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan obligasi negara ritel menjelang akhir 2020 mencatat kinerja yang menggembirakan. Selain melampaui angka nominal penjualan obligasi pada tahun lalu, kinerja tahun ini disebut mencerminkan peningkatan literasi keuangan di kalangan masyarakat.

Berdasarkan data yang diolah Bisnis pada Kamis (29/10/2020), hasil penjualan obligasi ritel pada tahun 2020 telah mencapai Rp71,36 triliun. Jumlah ini terdiri dari lima seri obligasi ritel yang telah ditawarkan, yakni SBR009, SR012, ORI017, SR013, dan ORI018.

Angka penawaran tertinggi dicatatkan oleh SR013 yang mencetak nominal penjualan senilai Rp25,67 triliun. Penjualan obligasi ritel pada 2020 masih menyisakan satu seri, ST007, yang akan ditawarkan dalam waktu dekat.

Perolehan penjualan obligasi ritel Indonesia pada tahun ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2019 lalu, pemerintah menghimpun dana sebesar Rp49,7 triliun dari 10 seri obligasi yang ditawarkan.

Dengan kata lain, hasil penerbitan lima seri obligasi sudah naik 45 persen dibandingkan dengan penerbitan pada tahun lalu.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana mengatakan, minat masyarakat terhadap instrumen obligasi meningkat karena literasi keuangan juga semakin baik. Hal ini ditunjang oleh sosialisasi produk obligasi yang terbilang mantap.

Selain itu, kasus miring yang melibatkan perusahaan penasihat keuangan dan jasa investasi juga turut membuat masyarakat tambah melek akan dunia keuangan.

“Contohnya seperti kasus financial planner Jouska beberapa waktu lalu. Ini membuka mata masyarakat tentang apa saja aset-aset berisiko dan aset-aset apa yang terbilang aman untuk ritel,” jelasnya, Kamis (29/10/2020).

Fikri melanjutkan, kasus-kasus tersebut membuat masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dunia investasi bila dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

Meningkatnya pemahaman masyarakat, lanjut Fikri, mengakibatkan naiknya keingintahuan para calon investor tersebut terhadap obligasi ritel. Hal ini pun dipermudah dengan gencarnya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan pemerintah Indonesia.

“Potensi pengembangan pasar obligasi ritel masih sangat besar di Indonesia. Dengan pengembangan yang baik, kami yakin pasar ini dapat bersaing dengan obligasi ritel di AS dan Jepang yang sudah sangat maju,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi literasi keuangan obligasi ritel indonesia
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top