Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Interim Efektif Bergabung, Begini Target Bisnis BCA Syariah di 2021

Direktur PT BCA Syariah Rickyadi Widjaja mengatakan yang paling menyolok setelah Bank Interim efektif bergabung ke perseroan yakni adanya penambahan modal. BCA Syariah mendapatkan tambahan modal sekitar Rp300 miliar setelah Bank Interim efektif bergabung ke perseroan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 11 Desember 2020  |  18:07 WIB
Karyawan melayani nasabah yang melakukan transaksi di kantor cabang Bank BCA Syariah di Jakarta. Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan melayani nasabah yang melakukan transaksi di kantor cabang Bank BCA Syariah di Jakarta. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank BCA Syariah mengumumkan bahwa PT Bank Interim Indonesia telah efektif bergabung dengan perseroan sejak 10 Desember 2020. Dengan modal yang lebih kuat, anak usaha PT Bank Central Asia Tbk. ini akan meningkatkan produk dan layanan terhadap nasabah, serta kinerja keuangannya.

Direktur PT BCA Syariah Rickyadi Widjaja mengatakan yang paling menyolok setelah Bank Interim efektif bergabung ke perseroan yakni adanya penambahan modal. BCA Syariah mendapatkan tambahan modal sekitar Rp300 miliar setelah Bank Interim efektif bergabung ke perseroan.

Dengan begitu, modal inti perseroan menjadi di kisaran Rp2,7 triliun pasca-penggabungan. Adapun total aset perseroan menjadi Rp9,2 triliun.

Dengan modal yang lebih kuat, kata dia, perseroan berupaya meningkatkan produk dan layanan kepada nasabah. Dari sisi layanan, BCA Syariah akan bekerja sama dengan induk dalam peningkatan e-channel dan menambah Layanan Syariah Bank Umum (LSBU) menjadi beroperasi di 550 kantor cabang induk usaha.

Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong rasio dana murah (current account saving account/CASA) yang saat ini di kisaran 25%-27% menjadi 30% pada tahun depan. Seiring dengan peningkatan rasio CASA, perseroan dapat menekan beban bunga.

Demikian pula, pembiayaan akan dipacu lebih kencang dengan tetap melihat kondisi ekonomi dan perkembangan efek vaksin Covid-19. Dari sisi pembiayaan, perseroan menargetkan pertumbuhan 6% secara yoy menjadi Rp6,05 triliun pada 2021, dari proyeksi akhir tahun ini sekitar Rp5,6 triliun - Rp5,7 triliun.

"Dengan permodalan ini, kita akan lepas pembiayaan dengan tetap melihat kondisi ekonomi di tengah pandemi dan perkembangan efek vaksinasi. Khususnya untuk program infrastruktur pemerintah yang biasanya membutuhkan sindikasi seperti pembiayaan PLN, Jasa Marga untuk jalan tol, dan PNM," katanya pada Jumat (11/12/2020).

Perseroan akan memacu pembiayaan lebih kencang dengan tetap hati-hati melihat kondisi ekonomi, perkembangan restrukturisasi, dan efek vaksinasi. Dengan pembiayaan naik dan beban bunga turun, sehingga laba diperkirakan juga akan meningkat.

BCA Syariah menargetkan dapat mengantongi laba setelah pajak mencapai Rp82 miliar pada 2021. Target tersebut tumbuh 17% dari proyeksi sampai dengan akhir tahun ini sekitar Rp70 miliar. Adapun, total aset sampai dengan akhir Desember 2020 diproyeksi sekitar Rp9,7 triliun.

Lebih lanjut, saat ini ada sekitar 10%-15% nasabah perseroan yang mengajukan restrukturisasi ulang. Adapun, restrukturisasi kredit telah diberikan kepada 120 nasabah dengan outstanding sekitar Rp800 miliar - Rp850 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan merger BCA Syariah
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top