Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPJS Ketenagakerjaan Bakal Tambah Alokasi Surat Utang

Investasi BPJamsostek selalu memastikan kesesuaian kebutuhan liabilitas setiap program atau menerapkan asset liability matching.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 02 April 2021  |  19:28 WIB
Pegawai melintasi logo BPJS Ketenagakerjaan di Kantor Cabang BP Jamsostek di Menara Jamsostek, Jakarta, Jumat (10/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pegawai melintasi logo BPJS Ketenagakerjaan di Kantor Cabang BP Jamsostek di Menara Jamsostek, Jakarta, Jumat (10/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Ketenagakerjaan menyatakan bahwa volatilitas kinerja pasar modal menjadi salah satu alasan munculnya rencana perubahan komposisi investasi, yakni dengan mengurangi porsi saham dan reksa dana.

Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek Edwin Ridwan menjelaskan bahwa strategi investasi dari pengelola jaminan sosial itu selalu mengutamakan hasil optimal bagi peserta. Pelaksanaannya pun selalu mempertimbangkan prinsip kepatuhan dan kehati-hatian.

Menurutnya, investasi BPJamsostek selalu memastikan kesesuaian kebutuhan liabilitas setiap program atau menerapkan asset liability matching. Selain itu, kondisi perekonomian dan perkembangan pasar modal pun menjadi faktor yang sangat penting, sehingga pengelolaan portofolio bersifat dinamis.

“Dalam jangka panjang atau 10–15 tahun, BPJamsostek masih melihat pasar modal khususnya instrumen berbasis ekuitas sebagai investasi yang mempunyai potensi daya ungkit return. Namun, saat ini, kondisi pasar modal banyak dipengaruhi sentimen global dan dampak negatif pandemi Covid-19, sehingga memicu peningkatan volatilitas,” ujar Edwin dalam keterangan resmi yang diperoleh Bisnis pada Jumat (2/4/2021).

Kondisi tersebut membuat BPJamsostek mempertimbangkan penyesuaian portofolio investasi yang dilakukan secara bertahap dalam jangka panjang. Salah satu caranya adalah dengan menambah alokasi pada surat utang, baik surat berharga negara (SBN) maupun surat utang korporasi yang memenuhi persyaratan.

Selain itu, BPJamsostek pun menyatakan akan mengoptimalkan investasi langsung, salah satunya melalui kerja sama investasi dengan sovereign wealth fund (SWF). Rencana itu pertama kali disampaikan oleh Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo di hadapan Komisi IX DPR, Selasa (30/3/2021).

Menurut Edwin, penyesuaian portofolio itu tentunya akan memengaruhi bobot alokasi investasi berbasis ekuitas secara alamiah, seiring dengan pertumbuhan dana BPJamsostek.

“Per-Februari 2021, total dana kelolaan BPJamsostek sebesar Rp 489,89 Triliun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 17 persen CAGR. Aset Alokasi Februari 2021 diantaranya deposito 12 persen, saham 14 persen, reksa dana 8 persen, surat utang 65 persen, investasi langsung 1 persen,” ujar Edwin.

Dalam pengelolaan investasinya BPJamsostek menyatakan senantiasa melakukan pengelolaan investasi sesuai regulasi yang berlaku. Dua aturan yang mengikat badan tersebut di antaranya Peraturan Pemerintah (PP) 55/2015 dan PP 99/2013.

“Setiap kegiatan investasi yang dilakukan juga telah melalui proses kajian fundamental, teknikal, manajemen risiko, dan compliance yang komprehensif,” tutup Edwin.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham investasi pasar modal asuransi surat utang negara reksa dana bpjs ketenagakerjaan
Editor : Wibi Pangestu Pratama

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top