Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Butuh Fintech P2P Buat Pantau Calon Debitur Potensial

Kolaborasi dengan platform fintech P2P memungkinkan bank mengawasi dan memantau lebih dekat calon debitur yang masih setengah matang, terutama UMKM potensial.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 11 April 2021  |  15:42 WIB
Karyawan menunjukan aplikasi KoinWorks saat meluncurkan KoinP2P di Jakarta, Kamis (20/2 - 2020).
Karyawan menunjukan aplikasi KoinWorks saat meluncurkan KoinP2P di Jakarta, Kamis (20/2 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA - Industri teknologi finansial peer-to-peer (fintech P2P) merupakan alat yang tepat bagi perbankan untuk jemput bola, mengganti cara lawas dalam mencari debitur matang masuk ke dalam ekosistemnya.

Kolaborasi dengan platform fintech P2P memungkinkan bank mengawasi dan memantau lebih dekat calon debitur yang masih setengah matang, terutama UMKM potensial. Bank pun bisa dengan mudah mengambil mereka ketika nantinya sudah naik kelas, atau sudah layak mendapat pinjaman yang lebih besar.

Pengamat Kebijakan Publik & Peneliti Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menjelaskan bahwa inilah salah satu alasan kenapa bank dan fintech P2P lending kini tampak lebih mesra.

Perbankan mulai marak ikut menyalurkan dananya dengan skema channeling ke berbagai platform fintech P2P lending, yang memiliki fleksibilitas dan penetrasi digital lebih kuat untuk menjangkau segmen nasabah yang unbankable dan underserved.

"Era ke depan itu kuncinya ekosistem, tapi bank itu kan highly regulated. Cost untuk menjangkau UMKM unbankable itu besar kalau tidak menggunakan digital. Mau bikin fintech P2P sendiri sebenarnya bisa, tapi sama, capex yang keluar bakal besar, padahal teknologi cepat berganti. Makanya, bank itu lebih memilih channeling ke P2P [eksisting]," jelasnya kepada Bisnis, Minggu (11/4/2021).

Selain itu, channeling ke fintech P2P sebagai pendana institusi atau super lender, membuat perbankan masih memiliki benefit berupa keuntungan lewat imbal hasil, dan data prediktif peminjam (borrower) terpilih yang akan dipatok sebagai calon debitur masa depan.

Karena itu, Aviliani menyebut ke depan tren akan berlanjut dengan kecenderungan perbankan akan memilih fintech P2P lending yang memiliki ekosistem borrower yang kuat.

Misalnya, P2P lending yang memiliki alternative credit scoring kuat, mampu menembus data-data transaksi e-commerce, atau memiliki segmen peminjam spesifik yang belum bisa ditembus lembaga keuangan konvensional.

"Memanfaatkan database fintech P2P itu bakal berguna sekali. Apalagi kalau mereka punya ekosistem, yang bisa tahu bagaimana transaksi rutin borrower untuk tahu potensi mereka ke depan, dan memperkirakan seberapa besar nantinya mereka butuh pinjaman. Kalau punya data begini, kan analisis kredit nggak perlu pusing-pusing," tambahnya.

Menurut Aviliani, channeling ke fintech P2P lending tak akan menggerus pendanaan perbankan ke lembaga konvensional seperti perusahaan pembiayaan.

Pasalnya, multifinance kebanyakan dimiliki perbankan itu sendiri atau korporasi kuat untuk mengakomodasi kredit konsumtif yang mendukung jaringan bisnis masing-masing.

Sementara itu, fintech P2P lending penting untuk menjangkau debitur baru dari sektor informal secara lebih menyeluruh, terutama mereka yang memiliki kelebihan dalam hal pemanfaatan teknologi dan memiliki rekam jejak digital.

"Era ke depan itu semakin banyak masyarakat yang secara sadar memilih berkarir di sektor informal, memilih kerja sendiri. Orang-orang yang cenderung tidak memiliki gaji tetap ini kan sulit dilirik perbankan. Padahal, belum tentu mereka tidak butuh pinjaman modal atau pinjaman bernilai besar lainnya," tutupnya. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan fintech
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top