Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tren Belanja Online, Pelaku Multifinance Berlomba Miliki Marketplace dan Mobile Apps

Pasalnya, kanal digital seperti e-commerce semakin dipercaya seiring penetrasi teknologi dan dampak pandemi. Belanja online pun bukan hanya kebutuhan, tapi sudah menjadi lifestyle.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 10 Juni 2021  |  07:54 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Para pemain industri pembiayaan (multifinance) mulai mencari cara merambah platform digital sebagai pintu gerbang penjaring konsumen, yang akhirnya membantu mendorong pertumbuhan penyaluran pembiayaan.

Ekonom dan Direktur Center of Law and Economic Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengungkap bahwa industri pembiayaan tentunya akan terus melebarkan sayap untuk menempel pada kanal penjualan objek-objek konsumsi, yang kemudian berpotensi memerlukan layanan pembiayaan.

Terkini, kanal digital seperti e-commerce semakin dipercaya seiring penetrasi teknologi dan dampak pandemi. Belanja online pun bukan hanya kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup.

"Juga karena ada faktor trust. Karena dulu orang membeli sesuatu itu memikirkan aftersales services. Tapi sekarang antara toko online & offline itu sudah tidak ada bedanya. Buktinya lagi, ada yang beli motor via e-commerce, padahal barang di atas Rp10 juta itu biasanya kita mau kalau sudah lihat barangnya secara fisik dulu," jelasnya, Rabu (9/6/2021).

Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia Efrinal Sinaga mengamini bahwa nantinya industri pembiayaan akan semakin dekat dengan marketplace, bahkan berusaha mengembangkan sendiri toko online yang bisa mengakomodasi penjualan objek pembiayaan andalannya.

Sebagai gambaran, Akulaku Grup sendiri memiliki entitas marketplace dengan nama yang sama, serta tiga entitas lembaga jasa keuangan, yaitu multifinance Akulaku Finance, fintech peer-to-peer (P2P) lending PT Pintar Inovasi Digital atau Asetku, serta memiliki saham mayoritas di PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) sebesar 24,98 persen.

"Jadi kami memiliki marketplace sebagai vendor, pemasok, dan agen penjualan, kita punya bank, kita juga punya asuransi. Integrasi dari berbagai model bisnis dalam grup inilah yang nantinya akan menjadi winning point," jelasnya ketika dikonfirmasi Bisnis.

Efrinal menjelaskan bahwa sebenarnya konsep ini mirip dengan pemain multifinance yang memiliki integrasi langsung dengan bank, dealer, atau agen tunggal pemegang merek (ATPM), untuk mengakomodasi layanan pembiayaan dari produk perusahaan induknya.

Namun, Efrinal memproyeksi bahwa ke depan multifinance semacam ini pun tak bisa hanya mengandalkan kanal-kanal offline atau konvensional. Buktinya, penjualan mobil via online pun sudah banyak dilakukan masyarakat.

"Kalau beli mobil saja sudah bisa lewat online, nantinya layanan pembiayaan bisa mengakomodasi penjualan sparepart, bahkan layanan service pun bisa, yang tentunya juga digelar secara digital," tambahnya.

Sedikit berbeda, PT CIMB Niaga Auto Finance (CIMB Niaga Finance) lebih mengedepankan digitalisasi proses, terutama lewat mobile apps CNAF Mobile.

Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman bahkan optimistis pihaknya bisa mencapai target menggelar layanan branchless operation dan full digital acquisition mulai 2022.

Terkini, CNAF telah merealisasikan penggunaan digital signature, yang memungkinkan aplikasi kredit nasabah dilakukan tanpa kertas dan tanda tangan basah, nasabah juga bisa self services dan apply kredit dari platform mobile, serta online auction atau lelang online kendaraan yang ditawarkan dengan program bundling pembiayaan.

Adapun, pemain industri pembiayaan yang tampak menonjol dalam mengembangkan berbagai kanal digital salah satunya PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance). Sebut saja marketplace jual-beli mobil momobil.id, marketplace jual-beli motor momotor.id, layanan multiguna dicicilaja.com, serta aplikasi Adiraku itu sendiri.

Harry Latif, Direktur Portofolio Adira Finance mengungkap pihaknya bahkan mulai meraup berkah dari pengembangan beberapa platform digital di bawah naungan ADMF tersebut. "Buktinya, pembiayaan baru ketika event Sahabat Flash Deal pada 5 April sampai 12 Mei 2021 atau ketika Ramadhan, di mana semua produk portofolio Adira Finance mendapatkan promosi khusus apabila diakses dari channel digital kami, nilainya mencapai Rp163 miliar," jelasnya kepada Bisnis.

Terpisah, Direktur IT, Pengembangan Bisnis, Perencanaan Perusahaan, dan Manajemen Risiko PT Federal International Finance Group (FIFGROUP) Indra Gunawan mengungkap seluruh produk pembiayaan dipromosikan lewat sosial media dan website yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh tim.

Selain itu, FIFGROUP pun menjadi bagian mobile apps MOXA besutan induk usaha Astra Financial, bersama Astra Credit Companies (ACC), Toyota Astra Finance (TAF), Astra Life, Asuransi Astra, Surya Artha Nusantara Finance (SANF), dan fintech MauCash. "Kanal digital mulai dari web, facebook, instagram, twiter, chatboot, dan MOXA memang kami gunakan. Apakah sudah dominan, ya, pasti belum. Namun sudah menunjukan peningkatan dari waktu ke waktu, terutama di masa pandemi," jelasnya kepada Bisnis.

FIFGROUP sendiri terus menggunakan kanal digital untuk mempromosikan produk dalam FIFASTRA untuk lini pembiayaan roda dua, SPEKTRA di lini pembiayaan elektronik dan perabot rumah tangga, DANASTRA untuk pembiayaan multiguna tunai, FIFADA di lini bisnis cicilan berbasis online, serta AMITRA untuk melayani pembiayaan berbasis syariah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan belanja online marketplace
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top